Aqidah
[aqidah][bsummary]
vehicles
[vehicles][bigposts]
business
[business][twocolumns]
Kajian Kitab Terbitnya Dua Bulan Purnama (Perbuatan hamba adalah ciptaan Allah)
Kajian Kitab
Terbitnya Dua Bulan Purnama
طلوع البدرين:
Tarikh: 29 Jumada Awwal 1443 Ahad bersamaan 02/01/2022 Masehi
Perbuatan hamba adalah ciptaan Allah.
Kita lanjutkan pembahasan tentang akidah Imam Ar-Raziahin. Masih di muka surah enam puluh-tujuh. Masih terkait dengan apa itu? Perbuatan hamba itu adalah ciptaan dari. juga. Masih. Dan yang seperti ini dalil yang menunjukkan bahwasanya perbuatan hamba itu juga makhluknya Allah. Allah taala ini namanya dan Allah menciptakan untuk kalian dari rumah-rumah kalian itu di sini ada. yaitu sebagai tempat tinggal. Dijelaskan oleh para ulama kalau dia memiliki dua makhluk lebih artinya ini ada dua mak lebih atau satu zahirnya. Cuma satu ya. Berarti memang fisik. Di sini maknanya memang ini ciptaan Allah. Allah menciptakan tempat tinggal untuk kalian dari rumah-rumah kalian itu. Biasakana. dari ini dengan ini dari Sakana, berarti memang tidak ada dua waffle B. Berarti artinya maka ini dalil yang. bahwasanya mmm bahwasanya tempat tinggal walaupun itu kita yang membangun, tetap dia adalah makhluknya Allah. Berarti fiil ini adalah ciptaan Allah, fiil kita itu. Dan hasil dari kita semua. adalah ciptaan Allah. Dan Allah menciptakan rumah-rumah untuk kalian dari kulit-kulit. ternak. Oh iya ini masa lalu terutama untuk orang-orang yang nomet di masa lalu. Ada beberapa makna. sebagian mengatakan artinya bersembunyi yaitu apa? Ya bernaung, terutama orang-orang yang mmm ya jelas paham namanya rumah. Seperti yang diceritakan oleh teman ana, Abu Jafar Hudaidi itu, ketika beliau mmm. dakwah di orang-orang Nomed di daerah jauh. Memang mereka walaupun keretanya khilaf, tapi mereka lumer. Hmm. Mereka kaya, tapi memang sudah kehidupannya suka berkeliling. Jadi, taksuka untuk punya tanah menetap itu. Kaya mereka. bagus dan apa itu? Hewan-hewan ternaknya itu boleh sampai ribuan. Ah di atas, di atas ada antena parabola juga. Jadi tak ketinggalan informasi mmm. namanya orang jahil. Tapi intinya adalah mereka juga memiliki sampai sekarang, mereka memiliki kemah-kemah yang terbuat dari kulit. Karena sering, sering ada badai namanya di gurun pasir itu, di dataran yang luas itu. nah kalau dari kemah-kemah yang biasa yang apa ini, yang kita biasa punya itu, itu takkuat, tapi kalau kulit yang dia kuat sekali, sebagaimana kebiasaan orang-orang Mongol, orang-orang mmm dataran, orang-orang Padang rumput, memang mereka. kemahnya itu dari kulit-kulit yang sangat kuat. Nah ini nikmat Allah. Yaitu kalian bersembunyi di dalam, di dalam kemah-kemah tadi. Pada hari keberangkatan kalian. kala kalian terus berjalan, terus eh bepergian. Artinya safar. Dan pada hari menetapnya kalian. Karena mereka selalu mengikuti, mengikuti curah hujan. Di mana kira-kira hujan itu. turun, nah kita akan menetap di sana sekian minggu. Karena di sana banyak padang rumput di masa itu. Mereka sudah biasa, mereka tahu mmm jadwal-jadwal macam itu.. atau maka Allah yang Mahasuci mengabarkan bahwasanya rumah-rumah yang dibuat itu yang menetap demikian pula rumah yang berpindah-pindah itu adalah mak. Allah. Sementara benda-benda tadi itu hanyalah menjadi rumah-rumah dengan perbuatan manusia. tapi tetap Allah menjanjikan itu sebagai eh makhluknya Dia, bukan makhluknya manusia. Memang manusia yang membuat, tetapi penciptanya adalah Allah. Dan yang seperti itu pula. yang lain, Allahu taala ayat yang sering dibaca oleh kaum muslimin, jelas? Eh semua juga dibaca ya, tapi ini yang termasuk populer kan surat. ternyata ada dalil di situ untuk membatal orang-orang dan sebagainya. Dan suatu ayat untuk mereka, tanda kekuasaan Allah dari kami untuk mereka, apa itu?. ini anak dan setelahnya kita sebagai asalnya dan setelahnya bahwasanya kami membawa, mengangkut keturunan mereka di kapal yang. perlu. Baik itu untuk tafsir pertama bahwasanya ini kapalnya Nabi Nuh ataupun kapal-kapal yang setelah itu. Jelas polanya itu semua adalah nikmat Allah..
Dan kami telah menciptakan untuk mereka dari yang semisal suluk tadi, semisal kapan, sesuatu yang mereka naiki. Berarti apa? Semuanya memang ciptaan Allah walaupun kapal itu kita. mungkin memahat atau memasang atau mobileing atau apa saja itu. Tapi tetap itu adalah ciptaan Allah. Dan kata para ulama, ini ada isyarat, kendaraan apa pun yang datang setelah itu sampai hari kiamat, bahkan kendaraan modern. udara dan darah itu sudah masuk di dalam ayat ini. Karena Allah telah mengatakan semisal dengan itu dari sisi apa? Memang sesuatu yang mungkin untuk dinaiki dan memindahkan mere. dari satu tempat ke tempat lain. Baik tidak? Wajib bentuknya seperti kapal atau apa. Tapi dari sisi boleh dinaiki dan boleh memindahkan mereka dan barang-barang mereka ke tempat yang mereka inginkan.. Subhanahu Wa Taala maka Allah Yang Maha Suci dan Mahatinggi mengabarkan bahwasanya dia adalah pencipta kapal yang dibuat untuk para hamba. Jelas yang membuat. manusia. Tapi Allah mengabarkan Dia-lah Pencipta itu. Di sini tadi ya.. dan ada orang yang menjauh dari pemahaman yang benar yaitu orang yang mengatakan bahwasanya yang dimaksudkan dengan ayat Yasin tadi itu adalah unta baik ini tidak sesuai. beliau. Kenapa? Karena kalau menafsirkan itu dengan unta ini mengeluarkan sesuatu yang semisal secara. hakiki. Dan nanti tidak akan, eh, tidak akan sesuai dengan pendalilan yang diinginkan. Sementara, Allah mengatakan semisal, berarti apa? Termasuk semisal itu adalah bahwasanya ini juga buatan manusia. sementara unta jelas itu ciptaan Allah. Sementara yang diinginkan di sini bahwasanya ayat ini juga menjadi bantahan kepada orang-orang muktazilah bahwasanya kendaraan yang dibuat oleh manusia itu. adalah makhluknya Allah juga. Nah kalau unta ini tak sesuai nanti. Karena unta bukan buatan manusia. Baik, ini. ini makruh kepada ikhraj. Iktibarun. Yaitu menilai sesuatu yang dia itu jauh dari keserupaan. Karena unta mmm tidak sesuai untuk ayat untuk pola ayat ini dengan, dengan, dengan apa tadi ka. walaupun sama-sama mampu mengangkut, tetapi tidak sampai semisal. Karena bukan buatan manusia. Dan yang seperti itu pula adalah firman. taala dalilnya banyak, belum, belum tentu kita mampu untuk mengetahui ayat ini juga sampai kepada pembahasan itu, membatal muktazilah. Ini berkahnya kalau kita belajar ke para ulama, kita akan dapat ilmu. sekali memang, tadabur ayat-ayat. Firman Allah taala yang menceritakan tentang kekasihnya, walaupun terjadi khilaf di kalangan ulama, bolehkah kita mensifati Allah dengan hidayah. Tapi insyaallah tak masalah seperti itu. Yaitu Allah menceritakan tentang kekasihnya yaitu Ibrahim. Beliau bertanya kepada kaumnya, pertanyaan yang sifatnya pengingkaran. Apakah kalian menyembah sesuatu yang kalian paham? Kalian yang buat dia. Kenapa kalian malah menyembah dia? Baunya padahal. dalam keadaan Allah yang menciptakan kalian dan menciptakan apa yang kalian lakukan. Agar khilaf, maknya ini atau kata beliau tapi beliau memberikan apa?. kemungkinan. Ini khilaf makruf dibahas oleh Ibnu Hajar dalam dan juga Ibnu Katsir. Kita lihat Ibnu, Ibnu Qayim merojikan apa nanti, apabila manya itu mamasteriah, berarti apa yang. Ini jadinya apa? Kembali ke masker. Nah ini dalil yang sangat jelas menunjukkan bahwasanya. yang menunjukkan terbantahkannya orang-orang muktazilah yang mengatakan bahwasanya amalan kita ini ciptaan kita, bukan ciptaan Allah. Sementara ayat ini jelas dari Allah yang menciptakan kalian dan Allah yang mencipta. amalan kalian. Sebagaimana ini yang ditakdirkan, yang ditetapkan oleh sebagian ulama namanya. jelas yaitu Allah yang menciptakan kalian dan menciptakan amalan kalian. Pendalilan jelas.
Maka terbantahkanlah orang muktazilah. Namun ini tidak kuat. Tidak kuat dari sisi apa? Muktazilah. Apakah di zaman nabi. ada Muktazilah jauh sekali. Berapa ribu tahun yang lalu. Berarti apa? Dhohirnya ini tidak sampai ke situ cara berfikirnya orang-orang di masa itu. Bahwasanya mmm yaitu akidah Muktazilah bahwa. kita hanya mmm Allah hanya menciptakan dan tidak menciptakan kata muktazilah sementara zahirnya orang-orang di zaman Nabi Ibrahim tak ada yang bergaya-gaya seperti ahli filsafat semacam itu. karena gara-gara itu munculnya dari filsafat mutakhirin yaitu di zamannya Aristo dan teman-temannya. Adapun kata Imam Ibnu Qayim yaitu di zaman Imam mmm apa mmm di zaman Imam kita ya. Imam. yaitu Nabi Ibrahim mereka rata-rata adalah ahli tauhid. Filosof di generasi pertama itu mereka masih ahli tauhid dan tidak sampai menggunakan kata-kata yang aneh-aneh macam itu. Baik, berarti takper. Nabi Ibrahim sampai membantah orang musyrik di zaman itu dengan mengatakan Allah yang menciptakan kalian dan amalan kalian. Apa karena mengenal dengan amalan kita? Padahal yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim adalah patuh. Allah yang. kalian dan menciptakan patung. Itu yang diinginkan bukan masalah amalan. Berarti apa? Berarti tafsir kedua lebih tepat menurut Ibnu Ibnul Qayim. Dan memang itu yang lebih tepat. Walaupun dua-duanya insyaallah eh. masalah. Tapi yang kedua lebih tepat. Maknya bukan mamas jariah. Kata beliau karena tidak ada kesesuaian. antara pengingkaran Ibrahim terhadap mereka terhadap kaum musyrikin, terhadap perbuatan mereka yang menyembah benda yang mereka pahat dengan tangan-tangan mereka sendiri.. dengan pengabaran beliau kepada mereka bahwasanya Allah adalah pencipta amalan mereka. Iya, apa karena mengenal? Lalu apa kalau Allah sudah menciptakan amalan kami, lalu apa? Jelas? Pemikir. mereka tidak sampai dikotori oleh filsafat generasi yang belum lahir di masa itu. Amalan mereka yang berupa, menyembah, sesembahan-sesembahan tadi.. dan masalah apa? Pemahatan. Amalan kalian ini berupa apa? Kata Imam Ibnu Qayim yaitu mereka menyembah berhala dan mereka memahat berhala itu. Memahat kayu atau batu untuk menjadi berhala.. amalan-amalan yang lain.
Berarti kalau tidak sesuai walaupun kita tidak mengatakan salam, tetapi ini kurang sesuai, ada yang lebih sesuai, maka yang lebih sesuai, yang lebih tepat, manya. di mana Pak? Berarti kalau kita gimana menafsirkan ayat ini? Begitu kan berartinya Allah menciptakan. kalian dan menciptakan sesuatu yang kalian amalkan. Bukan, bukan menciptakan amalan kalian, tapi menciptakan sesuatu yang kalian amalkan, yang kalian perbuat, berarti apa? Berarti kembalinya. kepada objeknya. Menciptakan sesuatu yang kalian sembah, yaitu berhala. Menciptakan sesuatu yang kalian paham, yaitu berhala. Ah ini lebih sesuai. Karena tujuan Ibrahim intinya yaitu menitikberatkan pada. bukan masalah amalan. Tapi masalah patung. Nah makanya ma yang sesuai di sini adalah cuma akan ada pertanyaan tambahan apabila ma ini adalah sebagai sila mmm ma adalah isi. silatulnya mana? Jelas enggak pak? Sementara dalam syarat antara Mausul, isim Mausul dengan silatul Maula itu ada apa? Dalam Nahwu, ada Rabbit, ada pengikat,. antara kepala dengan ekornya itu karena kalau kepala saja tanpa ekor jadi nampak itu kan nampak aneh seperti apa itu klori-lori yang ta, tak sedang tidak membawa bagian belakang tuh nampak aneh. baik. Nah kalau cuma, cuma belakangnya tanpa kepala, eh tak jalan. Maka wajib ada penghubung, penghubungnya itu yang dikatakan Robin. Robin-nya di sini apa? Mana? Terhapus. Takdirnya apa?. ada di situ. Kembali ke kembali ke berarti ada, ada yang terhapus di situ. Kata beliau. Makanya kembalinya kepada apa? Objek dari amalan, objek dari perbuatan, yaitu patung-patu. itu. Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan menciptakan sesembahan-sesembahan kalian yang kalian buat dengan tangan kalian sendiri. Kalian kerjakan dengan tangan kalian.. maka patung-patung tadi berhala-berhala tadi itu adalah ciptaan milik Allah, sementara berhala-berhala tadi bukan seku. bukan sekutu-sekutu bersama Allah sebagai pencipta, pencipta apa? Dia sendiri dicipta dan semua boleh dikatakan di masa itu sudah tercipta sebelum patung-patung itu ada, semua yang makhluk-makhluk yang ada waktu itu. Ah inilah. Sisi pendalilan yang lebih kuat. Ketika Ibrahim membantah mereka, yaitu eh Allah yang menciptakan kalian dan menciptakan seluruh hasil dari kerja kalian, yaitu patung-patung itu.. maka Ibrahim mengabarkan bahwasanya Allah menciptakan hasil amalan mereka. Hah? Masih ada lagu. Oh ini ini level berikutnya memang, memang eh. banyak keluh. Memang. Dulu waktu, waktu kita di sekolah rendah pun belajar takpeluk kan kecuali ketika sudah melihat telurnya di lapangan, anak-anak ketika belajar tak, tak, tak perlu. insya Allah. Tapi ketika kita sudah kelas agak tinggi-tinggi mungkin sekolah menengah atau university ya memang ruhnya lebih banyak walaupun malah sudah jarang olahraga kalau sudah tinggi-tinggi itu. Olahraganya di kepala, hanya di jantung dan kepala..
Baik, tapi sedangkan penat-penat sedang pembahasan oh kita dapat bekal banyak sekali itu.. Semoga kita dilindungi soalnya terkadang kita akan jumpa dengan orang-orang yang, orang-orang dari Sufia, atau orang dari Assyairoh yang mereka suka-suka Nahu, kalau kita jumpa mereka. kita tak punya ilmu, malu kita nanti. Eh katanya ikut nabi, katanya merasa paling benar. Tak lepas, ya diejek kita nanti. Sering kita jumpa itu dan kalah. Mmm walaupun niatnya baik, niatnya jarang watak diotot ni nanggung enggak lepas ya dieje. memang eh kacau. Alhamdulillah ketika mereka jumpa dengan orang yang Allah takdirkan, sudah belajar ah mereka yang kita gantian ejek. Ah, kamu pun tak lepas. Alhamdulillah kami sudah lewat level beberapa mazhab tentang masalah tentang masalah nahwung. lebih banyak belajar tuh. Kita senang kalau kita mampu menjawab. Kalau tak, kita nanti saja kebenaran kita jadi ditolak. Gara-gara masalah nahu. Memang semuanya perlu di, dilihat mmm diberi porsi untuk dipelajari.. Oh ini tadi belum di
Sumber Channel Telegram: طلوع البدرين
Labels:
2 Purnama
Related Posts
Kajian Kitab Terbitnya Dua Bulan Purnama (Perbuatan hamba adalah ciptaan Allah)
Reviewed by Malik alFaruq
on
Oktober 10, 2022
Rating: 5
Reviewed by Malik alFaruq
on
Oktober 10, 2022
Rating: 5
Katalog
[socialcounter]
[facebook][#][230,000]
[twitter][#][230,000]
[youtube][#][230,000]
[rss][#][230,000]
[linkedin][#][230,000]
[instagram][#][230,000]
Subscribe Us
Popular Posts
blog tags
- 2 Purnama
- Ahkam Adhiyah
- Ahkamish Shiyam
- Ajaibnya Alam Semesta
- AKHLAQUL MU'MININ WAL MU'MINAT
- Al Bidayah Wan Nihayah
- Al Fawaiduts Tsunaiyyah
- Al Fawakihul Janiyyah
- Al Hamawiyah
- Al Qowaaidul Hisan
- Al Ushul Min Ilmil Ushul
- Al Usul Tsalatsah
- Al Uyunul Jawariy
- Al Wasitiyah
- Aqidah
- Aqidah Qairawaniyyah
- Arbain Nawawiy
- Bab 1 RS
- Bab 1 SB Haid
- Bab 1 SB ILMU
- Bab 1 SB IMAN
- Bab 1 SB Mandi
- Bab 1 SB Shalat
- Bab 1 SB Tayamum
- Bab 1 SB WAHYU
- Bab 1 SB WUDHU
- Bab 10 RS
- Bab 10 Sb Aurat
- Bab 10 SB Haid
- Bab 10 SB ILMU
- Bab 10 SB IMAN
- Bab 10 SB Mandi
- Bab 10 SB WUDHU
- Bab 100 RS
- Bab 101 RS
- Bab 102 RS
- Bab 103 RS
- Bab 104 RS
- Bab 105 RS
- Bab 106 RS
- Bab 107 RS
- Bab 108 RS
- Bab 109 RS
- Bab 11 RS
- Bab 11 SB Haid
- Bab 11 SB ILMU
- Bab 11 SB IMAN
- Bab 11 SB Mandi
- Bab 11 SB Rida
- Bab 11 SB WUDHU
- Bab 110 RS
- Bab 111 RS
- Bab 112 RS
- Bab 113 RS
- Bab 114 RS
- Bab 115 RS
- Bab 116 RS
- Bab 117 RS
- Bab 118 RS
- Bab 119 RS
- Bab 12 RS
- Bab 12 SB Haid
- Bab 12 SB ILMU
- Bab 12 SB IMAN
- Bab 12 SB Mandi
- Bab 12 SB Paha
- Bab 12 SB WUDHU
- Bab 120 RS
- Bab 121 RS
- Bab 122 RS
- Bab 123 RS
- Bab 124 RS
- Bab 125 RS
- Bab 126 RS
- Bab 127 RS
- Bab 128 RS
- Bab 129 RS
- Bab 13 RS
- Bab 13 SB
- Bab 13 SB Haid
- Bab 13 SB ILMU
- Bab 13 SB IMAN
- Bab 13 SB Mandi
- Bab 13 SB WUDHU
- Bab 130 RS
- Bab 131 RS
- Bab 132 RS
- Bab 133 RS
- Bab 134 RS
- Bab 135 RS
- Bab 136 RS
- Bab 137 RS
- Bab 138 RS
- Bab 139 RS
- Bab 14 RS
- Bab 14 SB
- Bab 14 SB Haid
- Bab 14 SB ILMU
- Bab 14 SB IMAN
- Bab 14 SB WUDHU
- Bab 140 RS
- Bab 142 RS
- Bab 143 RS
- Bab 144 RS
- Bab 145 RS
- Bab 146 RS
- Bab 147 RS
- Bab 148 RS
- Bab 149 RS
- Bab 15 RS
- Bab 15 SB
- Bab 15 SB Haid
- Bab 15 SB ILMU
- Bab 15 SB IMAN
- Bab 15 SB WUDHU
- Bab 150 RS
- Bab 151 RS
- Bab 152 RS
- Bab 153 RS
- Bab 154 RS
- Bab 155 RS
- Bab 156 RS
- Bab 157 RS
- Bab 158 RS
- Bab 159 RS
- Bab 16 RS
- Bab 16 SB Haid
- Bab 16 SB ILMU
- Bab 16 SB IMAN
- Bab 16 SB Mandi
- Bab 16 SB Sutra
- Bab 16 SB WUDHU
- Bab 160 RS
- Bab 161 RS
- Bab 162 RS
- Bab 163 RS
- Bab 164 RS
- Bab 165 RS
- Bab 166 RS
- Bab 167 RS
- Bab 168 RS
- Bab 169 RS
- Bab 17 RS
- Bab 17 SB Haid
- Bab 17 SB ILMU
- Bab 17 SB IMAN
- Bab 17 SB Mandi
- Bab 17 SB Pakaian warna merah
- Bab 17 SB WUDHU
- Bab 170 RS
- Bab 171 RS
- Bab 172 RS
- Bab 173 RS
- Bab 174 RS
- Bab 175 RS
- Bab 176 RS
- Bab 177 RS
- Bab 178 RS
- Bab 179 RS
- Bab 18 RS
- Bab 18 SB Haid
- Bab 18 SB ILMU
- Bab 18 SB IMAN
- Bab 18 SB Mandi
- Bab 18 SB Shalat diatap
- Bab 18 SB WUDHU
- Bab 180 RS
- Bab 181 RS
- Bab 182 RS
- Bab 19 RS
- Bab 19 SB
- Bab 19 SB Haid
- Bab 19 SB ILMU
- Bab 19 SB IMAN
- Bab 19 SB Mandi
- Bab 19 SB WUDHU
- Bab 2 RS
- Bab 2 SB Haid
- Bab 2 SB ILMU
- Bab 2 SB IMAN
- Bab 2 SB Mandi
- Bab 2 SB Shalat
- Bab 2 SB Tayamum
- Bab 2 SB WAHYU
- Bab 2 SB WUDHU
- Bab 20 RS
- Bab 20 SB Haid
- Bab 20 SB ILMU
- Bab 20 SB IMAN
- Bab 20 SB Mandi
- Bab 20 SB Shalat diatas tikar
- Bab 20 SB WUDHU
- Bab 21 RS
- Bab 21 SB
- Bab 21 SB Haid
- Bab 21 SB ILMU
- Bab 21 SB IMAN
- Bab 21 SB Mandi
- Bab 21 SB WUDHU
- Bab 22 RS
- Bab 22 SB
- Bab 22 SB Haid
- Bab 22 SB ILMU
- Bab 22 SB IMAN
- Bab 22 SB Mandi
- Bab 22 SB WUDHU
- Bab 23 RS
- Bab 23 SB
- Bab 23 SB Haid
- Bab 23 SB ILMU
- Bab 23 SB IMAN
- Bab 23 SB WUDHU
- Bab 24 RS
- Bab 24 SB
- Bab 24 SB haid
- Bab 24 SB ILMU
- Bab 24 SB IMAN
- Bab 24 SB Mandi
- Bab 24 SB WUDHU
- Bab 25 RS
- Bab 25 SB
- Bab 25 SB Haid
- Bab 25 SB ILMU
- Bab 25 SB IMAN
- Bab 25 SB Mandi
- Bab 25 SB WUDHU
- Bab 26 RS
- Bab 26 SB
- Bab 26 SB Haid
- Bab 26 SB ILMU
- Bab 26 SB IMAN
- Bab 26 SB Mandi
- Bab 26 SB WUDHU
- Bab 27 RS
- Bab 27 SB
- Bab 27 SB Haid
- Bab 27 SB IMAN
- Bab 27 SB Mandi
- Bab 27 SB WUDHU
- Bab 28 RS
- Bab 28 SB
- Bab 28 SB haid
- Bab 28 SB ILMU
- Bab 28 SB IMAN
- Bab 28 SB Mandi
- Bab 28 SB WUDHU
- Bab 29 RS
- Bab 29 SB Haid
- Bab 29 SB ILMU
- Bab 29 SB IMAN
- Bab 29 SB Kiblat
- Bab 29 SB Mandi
- Bab 29 SB WUDHU
- Bab 3 RS
- Bab 3 SB Haid
- Bab 3 SB ILMU
- Bab 3 SB IMAN
- Bab 3 SB Mandi
- Bab 3 SB Shalat
- Bab 3 SB Tayamum
- Bab 3 SB WAHYU
- Bab 3 SB WUDHU
- Bab 30 RS
- Bab 30 SB Haid
- Bab 30 SB ILMU
- Bab 30 SB IMAN
- Bab 30 SB Maqam Ibrahim
- Bab 30 SB WUDHU
- Bab 31 RS
- Bab 31 SB ILMU
- Bab 31 SB IMAN
- Bab 31 SB Menghadap Kiblat
- Bab 31 SB WUDHU
- Bab 32 RS
- Bab 32 SB ILMU
- Bab 32 SB IMAN
- Bab 32 SB Perihal Kiblat
- Bab 32 SB WUDHU
- Bab 33 RS
- Bab 33 SB ILMU
- Bab 33 SB IMAN
- Bab 33 SB Mengerik Kahak
- Bab 33 SB WUDHU
- Bab 34 RS
- Bab 34 SB ILMU
- Bab 34 SB IMAN
- Bab 34 SB Mengerik Ingus
- Bab 34 SB WUDHU
- Bab 35 RS
- Bab 35 SB ILMU
- Bab 35 SB IMAN
- Bab 35 SB Meludah
- Bab 35 SB WUDHU
- Bab 36 RS
- Bab 36 SB ILMU
- Bab 36 SB IMAN
- Bab 36 SB Meludah ke sebelah kiri
- Bab 36 SB WUDHU
- Bab 37 RS
- Bab 37 SB ILMU
- Bab 37 SB IMAN
- Bab 37 SB Kafarat
- Bab 37 SB WUDHU
- Bab 38 RS
- Bab 38 SB ILMU
- Bab 38 SB IMAN
- Bab 38 SB Menanam kahak
- Bab 38 SB WUDHU
- Bab 39 RS
- Bab 39 SB Dorongan meludah
- Bab 39 SB ILMU
- Bab 39 SB IMAN
- Bab 39 SB WUDHU
- Bab 4 RS
- Bab 4 SB Haid
- Bab 4 SB ILMU
- Bab 4 SB IMAN
- Bab 4 SB Mandi
- Bab 4 SB Shalat
- Bab 4 SB Tayamum
- Bab 4 SB WAHYU
- Bab 4 SB WUDHU
- Bab 40 RS
- Bab 40 SB ILMU
- Bab 40 SB IMAN
- Bab 40 SB Nasihat Imam
- Bab 40 SB WUDHU
- Bab 41 RS
- Bab 41 SB
- Bab 41 SB ILMU
- Bab 41 SB IMAN
- Bab 41 SB WUDHU
- Bab 42 RS
- Bab 42 SB
- Bab 42 SB ILMU
- Bab 42 SB IMAN
- Bab 42 SB WUDHU
- Bab 43 RS
- Bab 43 SB ILMU
- Bab 43 SB Mengundang dan yang di undang
- Bab 43 SB WUDHU
- Bab 44 RS
- Bab 44 SB ILMU
- Bab 44 SB Memutuskan Perkara
- Bab 44 SB WUDHU
- Bab 45 RS
- Bab 45 SB
- Bab 45 SB ILMU
- Bab 45 SB WUDHU
- Bab 46 RS
- Bab 46 SB ILMU
- Bab 46 SB Membuat Masjid
- Bab 46 SB WUDHU
- Bab 47 RS
- Bab 47 SB ILMU
- Bab 47 SB Kaki Kanan
- Bab 47 SB WUDHU
- Bab 48 RS
- Bab 48 SB ILMU
- Bab 48 SB Membongkar Kuburan
- Bab 48 SB WUDHU
- Bab 49 RS
- Bab 49 SB
- Bab 49 SB ILMU
- Bab 49 SB WUDHU
- Bab 5 RS
- Bab 5 SB Haid
- Bab 5 SB ILMU
- Bab 5 SB IMAN
- Bab 5 SB Mandi
- Bab 5 Sb Shalat
- Bab 5 SB Tayamum
- Bab 5 SB WAHYU
- Bab 5 SB WUDHU
- Bab 50 RS
- Bab 50 SB
- Bab 50 SB ILMU
- Bab 50 SB WUDHU
- Bab 51 RS
- Bab 51 SB ILMU
- Bab 51 SB WUDHU
- Bab 51SB
- Bab 52 RS
- Bab 52 SB ILMU
- Bab 52 SB WUDHU
- Bab 53 RS
- Bab 53 SB
- Bab 53 SB ILMU
- Bab 53 SB WUDHU
- Bab 54 RS
- Bab 54 SB Shalat dalam gereja
- Bab 54 SB WUDHU
- Bab 55 SB
- Bab 55 SB WUDHU
- Bab 56 SB
- Bab 56 SB WUDHU
- Bab 57 RS
- Bab 57 SB
- Bab 57 SB WUDHU
- Bab 58 RS
- Bab 58 SB Tidur di Masjid
- Bab 58 SB WUDHU
- Bab 59 RS
- Bab 59 SB
- Bab 59 SB WUDHU
- Bab 6 RS
- Bab 6 SB Haid
- Bab 6 SB ILMU
- Bab 6 SB IMAN
- Bab 6 SB Mandi
- Bab 6 SB Shalat
- Bab 6 SB Tayamum
- Bab 6 SB WAHYU
- Bab 6 SB WUDHU
- Bab 60 RS
- Bab 60 SB
- Bab 60 SB WUDHU
- Bab 61 RS
- Bab 61 SB
- Bab 61 SB WUDHU
- Bab 62 RS
- Bab 62 SB Bangunan Masjid Nabawi
- Bab 62 SB WUDHU
- Bab 63 RS
- Bab 63 SB
- Bab 63 SB WUDHU
- Bab 64 RS
- Bab 64 SB Mimbar Masjid
- Bab 64 SB WUDHU
- Bab 65 RS
- Bab 65 SB Pahala Membangun Masjid
- Bab 65 SB WUDHU
- Bab 66 RS
- Bab 66 SB Anak Panah
- Bab 66 SB WUDHU
- Bab 67 RS
- Bab 67 SB Lewat Masjid
- Bab 67 SB WUDHU
- Bab 68 RS
- Bab 68 SB
- Bab 68 SB WUDHU
- Bab 69 RS
- Bab 69 SB Pemilik Tombak
- Bab 69 SB WUDHU
- Bab 7 RS
- Bab 7 SB Haid
- Bab 7 SB ILMU
- Bab 7 SB IMAN
- Bab 7 SB Mandi
- Bab 7 SB Tayamum
- Bab 7 SB WUDHU
- Bab 70 RS
- Bab 70 SB WUDHU
- Bab 71 RS
- Bab 71 SB Hutang Piutang
- Bab 71SB WUDHU
- Bab 72 RS
- Bab 72 SB
- Bab 72 SB WUDHU
- Bab 73 RS
- Bab 73 SB
- Bab 73 SB WUDHU
- Bab 74 RS
- Bab 74 SB
- Bab 74 SB WUDHU
- Bab 75 RS
- Bab 75 SB Tawanan
- Bab 75 SB WUDHU
- Bab 76 RS
- Bab 76 SB
- Bab 77 RS
- Bab 77 SB
- Bab 78 RS
- Bab 78 SB
- Bab 79 RS
- Bab 79 SB
- Bab 8 RS
- Bab 8 SB Haid
- Bab 8 SB ILMU
- Bab 8 SB IMAN
- Bab 8 SB Mandi
- Bab 8 SB Shalat
- Bab 8 SB Tayamum
- Bab 8 SB WUDHU
- Bab 80 RS
- Bab 80 SB Khaukhah
- Bab 81 RS
- Bab 81 SB
- Bab 82 RS
- Bab 82 SB
- Bab 83 RS
- Bab 83 SB
- Bab 84 RS
- Bab 84 SB Halaqah
- Bab 85 RS
- Bab 85 SB Terlentang
- Bab 86 RS
- Bab 86 SB
- Bab 87 RS
- Bab 87 SB
- Bab 88 RS
- Bab 88 SB
- Bab 89 RS
- Bab 89 SB
- Bab 9 RS
- Bab 9 SB Haid
- Bab 9 SB ILMU
- Bab 9 SB IMAN
- Bab 9 SB Mandi
- Bab 9 SB Shalat
- Bab 9 SB Tayamum
- Bab 9 SB WUDHU
- Bab 90 RS
- Bab 91 RS
- Bab 92 RS
- Bab 93 RS
- Bab 94 RS
- Bab 95 RS
- Bab 96 RS
- Bab 97 RS
- Bab 98 RS
- Bab 99 RS
- Bab15 SB Mandi
- Bab70 SB Jual Beli
- Bahasa Arab
- Bid'ah dan macam²nya
- blora
- brebes
- buku
- depok
- Faedah Dalam Kesulitan
- Faraid
- Fatwa
- Feature
- Fiqih
- Habibatul Mustofa
- Hadits
- Hilangnya Debu
- Hukum Satu Perkara
- Ilmu Sorof
- Ilmu Sorof Fathul Wadud
- Iqtisom
- jakarta
- Jami'ush Shahih
- Jilid 1
- Jilid 2
- Jilid 3
- Jilid 4
- Jilid 5
- jogja
- Karakteristik Dakwah
- Karomatul Khulafair Rasyidin
- Kasyfisy Syubuhat
- Katalog
- Keagungan Aqidah Ulama Syafi'iyah
- kedah
- kendari
- Kesesatan Sururiy
- Keutamaan Al Quran
- Keutamaan Umat Islam
- Khutbah
- Khutbah 'ied
- Khutbah Jumat
- Kitab Adab
- Kitab Adab Berpakaian
- Kitab Adab tidur_berbaring_duduk_tempat duduk_teman duduk dan mimpi
- Kitab Etika Makan
- Kitab Etika Safar
- Kitab Fadhail
- Kitab Haid
- Kitab Ilmu
- Kitab Iman
- Kitab Keikhlasan
- Kitab Mandi
- Kitab Menjenguk Orang Sakit
- Kitab Permulaan wahyu
- Kitab Salam
- Kitab Shalat
- Kitab Tauhid
- Kitab Tayamum
- Kitab Waktu Shalat
- Kitab Wudhu'
- kuala lumpur
- kudus
- kuningan
- Lamiyyah
- Madatul Fiqih 2
- Madatul Fiqih 3
- Madatul Fiqih 4
- Madatul Fiqih 5
- Madatul Tafsir
- Maddatul Adab
- Maddatul Adab 2
- Maddatul Adab 3
- Maddatul Adab 4
- Maddatul Adab 5
- madiun
- makasar
- Manhaj
- Membantah Gerakan Pemberontakan
- muhadhoroh
- Mustolah Hadits
- Nahwu
- Nahwu 5
- Nahwu 6
- Nahwu 7
- Nailul Maram
- Nawaqidul Islam
- nganjuk
- Nikmat Islam
- padang
- pangkep
- pare-pare
- pekalongan
- pekanbaru
- Pengumuman
- Penjelasan yang Indah Terhadap Nasihat Al-Imam Al-Wadi'iy dalam Mendamaikan AhlusSunnah
- perlis
- Petikan Aqidah Al Imam Ibnu Abi Zamanin
- Petuah Ramadhan
- Raddul Mubthilil Mardzul Laisa Minal Fudhul
- Ramadhan
- Ringkasan Hamawiyah
- Risalah Tabukiyyah
- Riyadhus Shalihin
- selangor
- semarang
- Shahih Al Bukhari
- Shohih Bukhari Syaikh Abu Fairuz
- Sirah Nabawiyyah
- Sirah Nabawiyyah 10
- Sirah Nabawiyyah 2
- Sirah Nabawiyyah 3
- Sirah Nabawiyyah 4
- Sirah Nabawiyyah 5
- Sirah Nabawiyyah 6
- Sirah Nabawiyyah 7
- Sirah Nabawiyyah 8
- Sirah Nabawiyyah 9
- solo
- subang
- Syarah Ajurrumiyyah 1
- Syarah Ajurrumiyyah 2
- Syarah Aqidah Al Karmaniy
- Syarah Asma Al Husna
- Syarah Qawa'idil Arba'
- Syarhul Ushulis Sittah
- Ta'liq
- tafsir
- Tafsir Al Furqan
- Tafsir Ash Shaff
- Tafsir ibnu Katsir
- Taisirul Alam
- Takalar
- Tanda² Hari Kiamat
- tanya jawab
- Tathir Itiqod
- Taudhihul Ahkam
- Tauhid
- Tsulatsiyat Shahih Bukhari
- Ubat untuk penyakit
- Ushul Fiqih Imrithiy
- Ushul Sunnah Imam Ahmad
- Ushul Tsalatsah
- Ushulud Da'watis Salafiyyah
- Usul Fiqih
- Usul Tafsir
- Video
- watang
- yaman
- الصرف للمبتدئين
- المطايا الهنية تيسير فهم البيقونية
- خلاصة مصطلح الحديث



