Aqidah
[aqidah][bsummary]
vehicles
[vehicles][bigposts]
business
[business][twocolumns]
Kajian Kitab Terbitnya Dua Bulan Purnama (Alam terbagi kepada dua)
Kajian Kitab
Terbitnya Dua Bulan Purnama
طلوع البدرين:
Tarikh: 22 Jumada Awwal 1443 Ahad bersamaan 28/12/2021 Masehi
Alam terbagi kepada dua.
Kita hmm sampai mana? Akhir buka surat enam puluh lima dari eh akidah masih kalam Imam Ibnu Katsir Imam Ibnu Qayyim rahi. Kita sampai ke sini ya kemarin ya. Lafadz yaitu Allah adalah pencipta. segala sesuatu, lafadz ini saja sudah memisahkan antara pencipta dan yang diciptakan. Titik bagusnya. Sifat Allah subhanahu itu sudah masuk. masuk ke nama dia itu sendiri zat yang dinamai dengan nama Allah itu sendiri. Maka nama dan sifat Allah memang bukan makhluk.. Karena Allah Yang Maha Suci Allah ini adalah nama untuk sesembahan tersebut yaitu Allah. Nama untuk zat yang kita sembah, yang di sifat. dengan setiap sifat kesempurnaan. Dia ini adalah zat yang disucikan dari segala sifat kekurangan dan permisalan atau. yaitu yang setara dengan Dia. Berarti kalau dia disucikan dari segala sifat kekurangan, memang dia memiliki sifat kesempurnaan. Karena kalau tak punya sifat kesempurnaan, itu adalah kekurangan hakikatnya. Jadi. Ayat tadi, ini keumumannya adalah betul-betul keumuman yang tidak di, yang tidak dibatasi oleh apapun. Tak perlu dibatasi dengan Allah atau apa, karena zat Allah sudah masuk di. tidak masuk di dalam syair untuk kali ini.
Baik, ini pendekatan yang benar dari sisi dan juga dari sisi mmm adapun kalau dari sisi ushul fi. ini yang dikatakan usul fikih yang benar, ini yang dikatakan apa? Ini dalilnya umum, tapi sejak awal memang diinginkan khusus yaitu ini khusus untuk para makhluk, Allah menciptakan para makhluk, sementara zat Allah. sebagainya. Ini sejak awal memang tidak dimasukkan ke dalam kalimat sejak awal. Untuk muktazilah ini yang dikatakan ini dalilnya umum tetapi di khususkan. dengan dalil yang lain. Yaitu apa? Dalil aqli bahwasanya zat Allah tidak masuk di situ. Dan ini pendekatan yang salah dari muktazilah. Yang paling selamat adalah penjelasan Ibnu Qayim tadi. Sejak awal zat Allah. dan sifat Allah dan nama Allah itu tidak masuk dalam syaik karena semuanya sudah masuk dalam yaitu Allahu alam. alam, alam semesta ini terbagi menjadi dua. Zatnya dan perbuatannya. Sementara Allah pencipta alam semesta, berarti pencipta zat dan pencipta, perbuatan dari. makan Allah adalah pencipta untuk alam semesta ini dan Allah menciptakan apa pun yang muncul. Berupa perbuatan-perbuatan. Ya, semuanya adalah ciptaan Allah. Tak ada yang di luar ciptaan Allah tahu-tahu muncul sendiri bagaimana itu boleh terjadi. Tak mungkin. Semuanya adalah ciptaan Allah. Sebagaimana Allah lah yang mengetahui perincian itu semua. Maka tidak ada sedikit pun. alam semesta ini yang keluar dari ilmu Allah yaitu yang tidak masuk di dalam ilmunya Allah. Allah tahu semua tak ada satu pun dari itu semua yang keluar dari kekuasaan Allah. Berarti. semuanya sudah masuk dalam kekuasaan Allah. Allah yang kuasa terhadap itu dan Dia-lah yang memang mengetahui, menginginkan dan menciptakannya. Tidak ada sesuatu pun dari makhluk tadi yang keluar. ciptaan Allah dan kehendak Allah. Semuanya sudah masuk di area ciptaan dan kehendak Allah. Selesai yang diinginkan dari beliau menyatakan ahlusunah. berkata dinisbahkannya perbuatan-perbuatan kepada para makhluk sebagai apa? Fiilnya mereka dan usaha mereka. tidak meniadakan, tidak bertentangan dengan dinisbatkannya perbuatan tadi kepada Allah Yang Maha Suci dari sisi penciptaan dan kehendak, perbuatan tadi. diciptakan oleh Allah dan dikehendaki oleh Allah. Tapi siapa yang melakukan? Ya, eh pelakunya mungkin manusia atau jin, atau hewan, atau malaikat, para makhluk.. maka Allah yang Maha Suci itulah yang menginginkan perbuatan tadi terjadi dan menciptakan perbuatan itu.
Dan merekalah yang melakukannya. dan melakukannya eh mengerjakannya secara hakiki. Tidak seperti ucapan jamiah. Semua ini manusia dikatakan pelaku tapi majas saja. Hakikatnya Allah yang melakukan. Takboleh. Kita yang melakukan Allah yang menghendaki. kehendak Allah, ada sebabnya, Allah tahu hati seseorang memang menginginkan ini, condong kepada ini, lalu Allah memberikan izin untuk itu terjadi dan sebagainya. Dengan tetap dibatasi oleh Allah, kalau masalah keinginan, keinginan manusia tak terbatas. apalagi orang kufar, ingin terbanglah, ingin tembus bumi, ingin kekuatannya, bagaikan apa? Ah, keinginan ada, usaha ada, tapi dibatasi oleh Allah, monggo punya kemampuan, tapi kemampuanmu dibatasi sekian, dan seterusnya.. Semuanya terkait dengan izin Allah taala. Kata beliau seandainya perbuatan-perbuatan tadi. tidak disandarkan kepada kehendak Allah berarti apa Allah tidak menghendaki itu terjadi dan kudrohnya Allah, Allah tidak menakdirkan itu terjadi dan hamba-Nya tidak diberi kemampuan untuk melakukannya dan Allah tidak. itu pastilah mustahil itu terjadi dari mereka. Berapa banyak mereka menginginkan sesuatu? Ternyata tidak jadi dilakukan. Menunjukkan ada ada suatu. pemilik kekuatan yang Mahaperkasa di sana yang membatasi itu semua. Kalau itu terjadi berarti zat tadi mengizinkan itu terjadi. Baik. Karena para hamba terlampau lemah untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah kehendaki. Kita ada rencana nanti jam sekian mmm nak salat duha lah, jelas seorang mukmin punya keinginan, tapi. kali apa? Tidak terjadi menunjukkan ada zat yang membatasi itu dan ada sebabnya dilemahkan keinginannya karena maksiat atau dengan karena dia sakit atau terhalang kesibukan menerima tamu atau apa.. tidak semua keinginan itu terjadi.
Dan ini menunjukkan bahwasanya ada zat yang membatasi terlaksananya keinginan-keinginan kita. Kalau zat itu tidak menginginkan terjadi tak mungkin terjadi.. dan dia tidak menakdirkan itu pada orang tadi atau tidak menakdirkan itu terjadi Allah tidak menciptakan itu baru. Termasuk yang menunjukkan kekuasaan Allah yang Maha Suci terhadap perbuatan-perbuatan para makhluk bantah terhadap muktazilah firman Allah taala. Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu, sesuatu ini umum, mencakup dan mencakup apa? Dan itu apa?. perbuatan-perbuatan. Sementara bantahan orang Kadariah terhadap pendalilan dengan ayat ini karena mereka membantah dan. lemah dan jawaban terhadap bantahan tadi itu sama dengan bantahan mereka tanpa. hamzah Wash Koto ya, hamzahnya wasel. Terhadap firman Allah taala, Allah adalah pencipta segala sesuatu. Ya, sebuah mereka sama, cara kita membantahnya juga sama.. cara menjawabnya. Kita akan menambahkan penetapan tentang ini bahwasanya perbuatan-perbuatan para hamba itu adalah perkara. yang bersifat mungkin. Jelas ya? Bukan yang tapi mungkinah kalau kewajiban wajib apa? Allah taala itu sesuatu yang memang wajib ada. Tapi kalau. adalah mungkin, mungkinat. Zat kita saja kata mereka, mungkin, dan itu betul, yaitu mungkin terjadi, mungkin tidak terjadi, terkadang ada, terkadang mati dan lenyap. Nah, kalau zat kita saja sifatnya adalah mungkinah. dia lebih layak dikatakan mungkin terjadi, mungkin tidak terjadi. Namanya perbuatan. Sementara Allah itu Mahakuasa terhadap segala yang. bersifat mungkin. Toyyib, kalau kita saja mungkin melakukan sesuatu, kenapa Allah Yang Mahakuasa tidak mungkin? Nah, ini bantahan secara akal terhadap dengan kaidah mereka sendiri, dengan prinsip-prinsip mereka sendiri. Karena mereka mengata. Allah tidak kuasa terhadap nah kita katakan mungkin atau tidak mungkin? Mungkinlah buktinya kita mungkin melakukan, mungkin tidak melakukan. Ah kalau kita yang selemah ini saja, ya kalau tidak dicas baterainya pun tak mabuk. tak ada makanan, tak mampu gerak. Tapi masih mengatakan mungkin untuk melakukan sesuatu. Bagaimana Allah Yang Mahakuasa, Maha segalanya. Ternyata dia tidak mungkin melakukan, tidak mungkin menakdirkan perbuatan para hamba. jelas Allah lebih mungkin lagi maka Allah lah yang menjadikan para hamba itu melakukan perbuatan-perbuatan tadi dengan kekuasaannya dan dengan. kehendak-Nya. Untuk perkara yang tidak mungkin menurut akal manusia saja, jadi mungkin kalau Allah menghendaki. Seperti apa itu? Tongkatnya Nabi Musa, siapa yang berani? Bahkan tukang sihir zaman sekarang, menjadikan tongkat menjadi ular. Tak mampu dia, walaupun. sawah, tak mampu.
Baik, tapi Nabi Musa dengan kekuasaan Allah mampu merubah jadi ular yang sangat besar. Mampu menelan semuanya itu. Yang dalam Israel yang katanya para tukang sihirnya ada berapa itu? Enam ra. atau bahkan sekian ribu katanya masing-masing membentuk ular. Ular yang itu eh khayalan. Yang ularnya Nabi Musa betul-betul apa? Betul-betul ular yang besar yang jelas. tukang sirkun lihat, oh ini bukan sihir, ini bermotor ular. Itu ternyata mungkin, sesuatu yang mustahil untuk makhluk ternyata mungkin untuk Allah, apalagi perbuatan-perbuatan biasa ini, bagaimana di luar takdir Allah? Ini rusaknya. Mu'tazilah. Akal dibantah dengan akal yang sehat. Akal mereka dibantah dengan akal yang sehat. Baik, kata beliau di sini seandainya Allah menghendaki, pastilah. menghalangi Allah. Allah menghalangi antara mereka dengan perbuatan tadi itu. Sebagaimana Allah menghalangi Firaun dengan kekuasaannya, menghalangi untuk membunuh Nabi Musa yang masih bayi tak mampu apa-apa. Ternyata apa. mampu dia. Cari-cari sana sini ternyata Musa malah dirawat di atas, di atas katel dia. Tak mampu dia untuk membunuh anak itu. Padahal alat-alat perbuatan. dari mereka itu masih selamat. Ini tanda kekuasaan yang besar. Sebagaimana firman Allah taala seandainya Allah menghendaki nisca. ya. Tidaklah orang-orang itu ya orang-orang yang sepeninggal mereka itu saling berbunuh, saling berperang. Setelah datangnya keterangan-keterangan kepada mereka. ini adalah dalil syar'i terkait dengan itu dalil berarti apa kehendak Allah-lah yang berlaku, seandainya Allah menghendaki tidak terjadi peperangan, tak terjadi peperangan, tapi kenapa setelah wafatnya para nabi. kemudian apa? Setelah terpencar-pencar lalu para orang-orang yang mengklaim mengikuti Islam, mereka saling bunuh satu sama lain, menunjukkan Allah menghendaki itu terjadi. Setelah datangnya keterangan,. mayoritasnya tetapi mereka yang berselisih tidak mau ikut tadi sebagian mereka memang ada yang beriman setia pada bayina sebagian dari mereka. ada yang kafir. Ah namanya berselisih, akhirnya timbul peperangan. Allah ulang lagi. Seandainya Allah menghendaki, mereka tidak akan saling berperang itu. Baik, muktazilah tidak mau menerima ayat ini, hakikatnya. Walaupun Allah sudah. ulang-ulang, itu terkait dengan kehendak Allah. Tetapi Allah melakukan apa yang dia inginkan. Ini bagian dari perbuatan Allah.
Tayib. Untuk contoh visinya, seperti yang makruf, kita. masing-masing mampu mengetahui itu untuk diri kita seperti juga sebagian dai dulu cerita ketika saya mau ceramah tahu-tahu padahal saya sudah siapkan segalanya dan dia biasa ceramah ketika mau ceramah tahu-tahu takmampu bicara akhirnya dia sadar bahwa ini ada. lalu saya membaca dan langsung lancar lagi, menunjukkan ini di bawah kekuasaan Allah, Allah kuasa terhadap perbuatan para hamba, sebagaimana Allah kuasa untuk mengalahkan sihir tadi.. jadi Allah kuasa terhadap perbuatan para hamba, tidak seperti ucapan muktazilah wallahu alam. Syekh kita membagi. selain Allah tuh ya Allah dengan ya betul antara Khalik dengan makhluk pembagiannya. Iya betul. Iya kalau Allah dikatakan apa? Ataupun kalau makhluk. dikatakan apa? Yaitu sesuatu yang baru. Boleh nggak masalah. Dari sisi pendekatan saja. Karena tidak ada sisi, sisi, kesalahan dari sekedar kalimat itu enggak ada. kesalahan. Walaupun itu istilah yang dipakai oleh tapi itu bukan istilah yang sampai tingkat menyimpang. Budidaya ini mmm insya Allah ini dengan. ada ketika ditanya Facebook. Iya betul. Yaitu Allah menghendaki tapi ada sebabnya. Makanya yang namanya takdir Allah itu ada keterkaitan dengan sunatullah. Sunatullah yang terbesar apa? Masalah yaitu. akibat. Kenapa Allah menghendaki mereka perang? Padahal di dalam kitab suci mereka, mereka dilarang untuk berperang, dilarang untuk saling menawan, kalau, kalau mereka, dan mereka diwajibkan untuk membebaskan tawanan dari mmm apa itu. kafilah mereka itu ternyata mereka memilih untuk berselisih, memilih ada yang ikut yang benar ada yang ikut yang salah namanya lain pendapat akhirnya berselisih, setelah berselisih sandang mereka telah dikatakan oleh Allah taala ba. Kezaliman di antara mereka akhirnya perang saling mendominasi, saling mengalahkan. Yang ini niatnya fi sabilillah, itu tentara setan. Yang itu mengatakan, tak hukum ini tak lagi berlaku. Akhirnya memang pernahlah. Berarti ada sebabnya kenapa Allah menakdirkan. berperang, berselisih. Sebabnya adalah karena sebagiannya memang durhaka pada para nabi itu. Jadi kehendak Allah ada sebabnya, sebagaimana Allah menghendaki iblis itu masuk neraka, ada. Allah menghendaki iblis tidak istikamah ada sebabnya. Allah tahu isi hati dia adalah memang condong kepada kebatilan dan sebagainya. Sehingga ditakdirkan ketika yang lain semua sujud ditakdirkan ada satu yang berdiri tegak nampak ketahuan. tak mau taat pada Allah. Baik, ada sukanya memang. Wallahualam. Kenapa? Ya itu hikmahnya dia masuk apa? Kenapa? Ke mall. Seluruh perbuatan. itu ada hikmahnya. Istilahnya hikmah itu dimasukkan ke seluruh perbuatan Allah. Karena apa? Setiap kali dalam Quran, setiap kali, sering kali dalam Alquran, setelah Allah menyebutkan perbuatan dia, ada kalimat hikmat. atau menunjukkan setiap pikirannya Allah baik itu ada hikmahnya di setiap dan ya di setiap fiil dari fiil Allah pasti ada hikmah. tujuan. Wallahualam.
Sumber Channel Telegram: طلوع البدرين
Labels:
2 Purnama
Related Posts
Kajian Kitab Terbitnya Dua Bulan Purnama (Alam terbagi kepada dua)
Reviewed by Malik alFaruq
on
Oktober 10, 2022
Rating: 5
Reviewed by Malik alFaruq
on
Oktober 10, 2022
Rating: 5
Katalog
[socialcounter]
[facebook][#][230,000]
[twitter][#][230,000]
[youtube][#][230,000]
[rss][#][230,000]
[linkedin][#][230,000]
[instagram][#][230,000]
Subscribe Us
Popular Posts
blog tags
- 2 Purnama
- Ahkam Adhiyah
- Ahkamish Shiyam
- Ajaibnya Alam Semesta
- AKHLAQUL MU'MININ WAL MU'MINAT
- Al Bidayah Wan Nihayah
- Al Fawaiduts Tsunaiyyah
- Al Fawakihul Janiyyah
- Al Hamawiyah
- Al Qowaaidul Hisan
- Al Ushul Min Ilmil Ushul
- Al Usul Tsalatsah
- Al Uyunul Jawariy
- Al Wasitiyah
- Aqidah
- Aqidah Qairawaniyyah
- Arbain Nawawiy
- Bab 1 RS
- Bab 1 SB Haid
- Bab 1 SB ILMU
- Bab 1 SB IMAN
- Bab 1 SB Mandi
- Bab 1 SB Shalat
- Bab 1 SB Tayamum
- Bab 1 SB WAHYU
- Bab 1 SB WUDHU
- Bab 10 RS
- Bab 10 Sb Aurat
- Bab 10 SB Haid
- Bab 10 SB ILMU
- Bab 10 SB IMAN
- Bab 10 SB Mandi
- Bab 10 SB WUDHU
- Bab 100 RS
- Bab 101 RS
- Bab 102 RS
- Bab 103 RS
- Bab 104 RS
- Bab 105 RS
- Bab 106 RS
- Bab 107 RS
- Bab 108 RS
- Bab 109 RS
- Bab 11 RS
- Bab 11 SB Haid
- Bab 11 SB ILMU
- Bab 11 SB IMAN
- Bab 11 SB Mandi
- Bab 11 SB Rida
- Bab 11 SB WUDHU
- Bab 110 RS
- Bab 111 RS
- Bab 112 RS
- Bab 113 RS
- Bab 114 RS
- Bab 115 RS
- Bab 116 RS
- Bab 117 RS
- Bab 118 RS
- Bab 119 RS
- Bab 12 RS
- Bab 12 SB Haid
- Bab 12 SB ILMU
- Bab 12 SB IMAN
- Bab 12 SB Mandi
- Bab 12 SB Paha
- Bab 12 SB WUDHU
- Bab 120 RS
- Bab 121 RS
- Bab 122 RS
- Bab 123 RS
- Bab 124 RS
- Bab 125 RS
- Bab 126 RS
- Bab 127 RS
- Bab 128 RS
- Bab 129 RS
- Bab 13 RS
- Bab 13 SB
- Bab 13 SB Haid
- Bab 13 SB ILMU
- Bab 13 SB IMAN
- Bab 13 SB Mandi
- Bab 13 SB WUDHU
- Bab 130 RS
- Bab 131 RS
- Bab 132 RS
- Bab 133 RS
- Bab 134 RS
- Bab 135 RS
- Bab 136 RS
- Bab 137 RS
- Bab 138 RS
- Bab 139 RS
- Bab 14 RS
- Bab 14 SB
- Bab 14 SB Haid
- Bab 14 SB ILMU
- Bab 14 SB IMAN
- Bab 14 SB WUDHU
- Bab 140 RS
- Bab 142 RS
- Bab 143 RS
- Bab 144 RS
- Bab 145 RS
- Bab 146 RS
- Bab 147 RS
- Bab 148 RS
- Bab 149 RS
- Bab 15 RS
- Bab 15 SB
- Bab 15 SB Haid
- Bab 15 SB ILMU
- Bab 15 SB IMAN
- Bab 15 SB WUDHU
- Bab 150 RS
- Bab 151 RS
- Bab 152 RS
- Bab 153 RS
- Bab 154 RS
- Bab 155 RS
- Bab 156 RS
- Bab 157 RS
- Bab 158 RS
- Bab 159 RS
- Bab 16 RS
- Bab 16 SB Haid
- Bab 16 SB ILMU
- Bab 16 SB IMAN
- Bab 16 SB Mandi
- Bab 16 SB Sutra
- Bab 16 SB WUDHU
- Bab 160 RS
- Bab 161 RS
- Bab 162 RS
- Bab 163 RS
- Bab 164 RS
- Bab 165 RS
- Bab 166 RS
- Bab 167 RS
- Bab 168 RS
- Bab 169 RS
- Bab 17 RS
- Bab 17 SB Haid
- Bab 17 SB ILMU
- Bab 17 SB IMAN
- Bab 17 SB Mandi
- Bab 17 SB Pakaian warna merah
- Bab 17 SB WUDHU
- Bab 170 RS
- Bab 171 RS
- Bab 172 RS
- Bab 173 RS
- Bab 174 RS
- Bab 175 RS
- Bab 176 RS
- Bab 177 RS
- Bab 178 RS
- Bab 179 RS
- Bab 18 RS
- Bab 18 SB Haid
- Bab 18 SB ILMU
- Bab 18 SB IMAN
- Bab 18 SB Mandi
- Bab 18 SB Shalat diatap
- Bab 18 SB WUDHU
- Bab 180 RS
- Bab 181 RS
- Bab 182 RS
- Bab 19 RS
- Bab 19 SB
- Bab 19 SB Haid
- Bab 19 SB ILMU
- Bab 19 SB IMAN
- Bab 19 SB Mandi
- Bab 19 SB WUDHU
- Bab 2 RS
- Bab 2 SB Haid
- Bab 2 SB ILMU
- Bab 2 SB IMAN
- Bab 2 SB Mandi
- Bab 2 SB Shalat
- Bab 2 SB Tayamum
- Bab 2 SB WAHYU
- Bab 2 SB WUDHU
- Bab 20 RS
- Bab 20 SB Haid
- Bab 20 SB ILMU
- Bab 20 SB IMAN
- Bab 20 SB Mandi
- Bab 20 SB Shalat diatas tikar
- Bab 20 SB WUDHU
- Bab 21 RS
- Bab 21 SB
- Bab 21 SB Haid
- Bab 21 SB ILMU
- Bab 21 SB IMAN
- Bab 21 SB Mandi
- Bab 21 SB WUDHU
- Bab 22 RS
- Bab 22 SB
- Bab 22 SB Haid
- Bab 22 SB ILMU
- Bab 22 SB IMAN
- Bab 22 SB Mandi
- Bab 22 SB WUDHU
- Bab 23 RS
- Bab 23 SB
- Bab 23 SB Haid
- Bab 23 SB ILMU
- Bab 23 SB IMAN
- Bab 23 SB WUDHU
- Bab 24 RS
- Bab 24 SB
- Bab 24 SB haid
- Bab 24 SB ILMU
- Bab 24 SB IMAN
- Bab 24 SB Mandi
- Bab 24 SB WUDHU
- Bab 25 RS
- Bab 25 SB
- Bab 25 SB Haid
- Bab 25 SB ILMU
- Bab 25 SB IMAN
- Bab 25 SB Mandi
- Bab 25 SB WUDHU
- Bab 26 RS
- Bab 26 SB
- Bab 26 SB Haid
- Bab 26 SB ILMU
- Bab 26 SB IMAN
- Bab 26 SB Mandi
- Bab 26 SB WUDHU
- Bab 27 RS
- Bab 27 SB
- Bab 27 SB Haid
- Bab 27 SB IMAN
- Bab 27 SB Mandi
- Bab 27 SB WUDHU
- Bab 28 RS
- Bab 28 SB
- Bab 28 SB haid
- Bab 28 SB ILMU
- Bab 28 SB IMAN
- Bab 28 SB Mandi
- Bab 28 SB WUDHU
- Bab 29 RS
- Bab 29 SB Haid
- Bab 29 SB ILMU
- Bab 29 SB IMAN
- Bab 29 SB Kiblat
- Bab 29 SB Mandi
- Bab 29 SB WUDHU
- Bab 3 RS
- Bab 3 SB Haid
- Bab 3 SB ILMU
- Bab 3 SB IMAN
- Bab 3 SB Mandi
- Bab 3 SB Shalat
- Bab 3 SB Tayamum
- Bab 3 SB WAHYU
- Bab 3 SB WUDHU
- Bab 30 RS
- Bab 30 SB Haid
- Bab 30 SB ILMU
- Bab 30 SB IMAN
- Bab 30 SB Maqam Ibrahim
- Bab 30 SB WUDHU
- Bab 31 RS
- Bab 31 SB ILMU
- Bab 31 SB IMAN
- Bab 31 SB Menghadap Kiblat
- Bab 31 SB WUDHU
- Bab 32 RS
- Bab 32 SB ILMU
- Bab 32 SB IMAN
- Bab 32 SB Perihal Kiblat
- Bab 32 SB WUDHU
- Bab 33 RS
- Bab 33 SB ILMU
- Bab 33 SB IMAN
- Bab 33 SB Mengerik Kahak
- Bab 33 SB WUDHU
- Bab 34 RS
- Bab 34 SB ILMU
- Bab 34 SB IMAN
- Bab 34 SB Mengerik Ingus
- Bab 34 SB WUDHU
- Bab 35 RS
- Bab 35 SB ILMU
- Bab 35 SB IMAN
- Bab 35 SB Meludah
- Bab 35 SB WUDHU
- Bab 36 RS
- Bab 36 SB ILMU
- Bab 36 SB IMAN
- Bab 36 SB Meludah ke sebelah kiri
- Bab 36 SB WUDHU
- Bab 37 RS
- Bab 37 SB ILMU
- Bab 37 SB IMAN
- Bab 37 SB Kafarat
- Bab 37 SB WUDHU
- Bab 38 RS
- Bab 38 SB ILMU
- Bab 38 SB IMAN
- Bab 38 SB Menanam kahak
- Bab 38 SB WUDHU
- Bab 39 RS
- Bab 39 SB Dorongan meludah
- Bab 39 SB ILMU
- Bab 39 SB IMAN
- Bab 39 SB WUDHU
- Bab 4 RS
- Bab 4 SB Haid
- Bab 4 SB ILMU
- Bab 4 SB IMAN
- Bab 4 SB Mandi
- Bab 4 SB Shalat
- Bab 4 SB Tayamum
- Bab 4 SB WAHYU
- Bab 4 SB WUDHU
- Bab 40 RS
- Bab 40 SB ILMU
- Bab 40 SB IMAN
- Bab 40 SB Nasihat Imam
- Bab 40 SB WUDHU
- Bab 41 RS
- Bab 41 SB
- Bab 41 SB ILMU
- Bab 41 SB IMAN
- Bab 41 SB WUDHU
- Bab 42 RS
- Bab 42 SB
- Bab 42 SB ILMU
- Bab 42 SB IMAN
- Bab 42 SB WUDHU
- Bab 43 RS
- Bab 43 SB ILMU
- Bab 43 SB Mengundang dan yang di undang
- Bab 43 SB WUDHU
- Bab 44 RS
- Bab 44 SB ILMU
- Bab 44 SB Memutuskan Perkara
- Bab 44 SB WUDHU
- Bab 45 RS
- Bab 45 SB
- Bab 45 SB ILMU
- Bab 45 SB WUDHU
- Bab 46 RS
- Bab 46 SB ILMU
- Bab 46 SB Membuat Masjid
- Bab 46 SB WUDHU
- Bab 47 RS
- Bab 47 SB ILMU
- Bab 47 SB Kaki Kanan
- Bab 47 SB WUDHU
- Bab 48 RS
- Bab 48 SB ILMU
- Bab 48 SB Membongkar Kuburan
- Bab 48 SB WUDHU
- Bab 49 RS
- Bab 49 SB
- Bab 49 SB ILMU
- Bab 49 SB WUDHU
- Bab 5 RS
- Bab 5 SB Haid
- Bab 5 SB ILMU
- Bab 5 SB IMAN
- Bab 5 SB Mandi
- Bab 5 Sb Shalat
- Bab 5 SB Tayamum
- Bab 5 SB WAHYU
- Bab 5 SB WUDHU
- Bab 50 RS
- Bab 50 SB
- Bab 50 SB ILMU
- Bab 50 SB WUDHU
- Bab 51 RS
- Bab 51 SB ILMU
- Bab 51 SB WUDHU
- Bab 51SB
- Bab 52 RS
- Bab 52 SB ILMU
- Bab 52 SB WUDHU
- Bab 53 RS
- Bab 53 SB
- Bab 53 SB ILMU
- Bab 53 SB WUDHU
- Bab 54 RS
- Bab 54 SB Shalat dalam gereja
- Bab 54 SB WUDHU
- Bab 55 SB
- Bab 55 SB WUDHU
- Bab 56 SB
- Bab 56 SB WUDHU
- Bab 57 RS
- Bab 57 SB
- Bab 57 SB WUDHU
- Bab 58 RS
- Bab 58 SB Tidur di Masjid
- Bab 58 SB WUDHU
- Bab 59 RS
- Bab 59 SB
- Bab 59 SB WUDHU
- Bab 6 RS
- Bab 6 SB Haid
- Bab 6 SB ILMU
- Bab 6 SB IMAN
- Bab 6 SB Mandi
- Bab 6 SB Shalat
- Bab 6 SB Tayamum
- Bab 6 SB WAHYU
- Bab 6 SB WUDHU
- Bab 60 RS
- Bab 60 SB
- Bab 60 SB WUDHU
- Bab 61 RS
- Bab 61 SB
- Bab 61 SB WUDHU
- Bab 62 RS
- Bab 62 SB Bangunan Masjid Nabawi
- Bab 62 SB WUDHU
- Bab 63 RS
- Bab 63 SB
- Bab 63 SB WUDHU
- Bab 64 RS
- Bab 64 SB Mimbar Masjid
- Bab 64 SB WUDHU
- Bab 65 RS
- Bab 65 SB Pahala Membangun Masjid
- Bab 65 SB WUDHU
- Bab 66 RS
- Bab 66 SB Anak Panah
- Bab 66 SB WUDHU
- Bab 67 RS
- Bab 67 SB Lewat Masjid
- Bab 67 SB WUDHU
- Bab 68 RS
- Bab 68 SB
- Bab 68 SB WUDHU
- Bab 69 RS
- Bab 69 SB Pemilik Tombak
- Bab 69 SB WUDHU
- Bab 7 RS
- Bab 7 SB Haid
- Bab 7 SB ILMU
- Bab 7 SB IMAN
- Bab 7 SB Mandi
- Bab 7 SB Tayamum
- Bab 7 SB WUDHU
- Bab 70 RS
- Bab 70 SB WUDHU
- Bab 71 RS
- Bab 71 SB Hutang Piutang
- Bab 71SB WUDHU
- Bab 72 RS
- Bab 72 SB
- Bab 72 SB WUDHU
- Bab 73 RS
- Bab 73 SB
- Bab 73 SB WUDHU
- Bab 74 RS
- Bab 74 SB
- Bab 74 SB WUDHU
- Bab 75 RS
- Bab 75 SB Tawanan
- Bab 75 SB WUDHU
- Bab 76 RS
- Bab 76 SB
- Bab 77 RS
- Bab 77 SB
- Bab 78 RS
- Bab 78 SB
- Bab 79 RS
- Bab 79 SB
- Bab 8 RS
- Bab 8 SB Haid
- Bab 8 SB ILMU
- Bab 8 SB IMAN
- Bab 8 SB Mandi
- Bab 8 SB Shalat
- Bab 8 SB Tayamum
- Bab 8 SB WUDHU
- Bab 80 RS
- Bab 80 SB Khaukhah
- Bab 81 RS
- Bab 81 SB
- Bab 82 RS
- Bab 82 SB
- Bab 83 RS
- Bab 83 SB
- Bab 84 RS
- Bab 84 SB Halaqah
- Bab 85 RS
- Bab 85 SB Terlentang
- Bab 86 RS
- Bab 86 SB
- Bab 87 RS
- Bab 87 SB
- Bab 88 RS
- Bab 88 SB
- Bab 89 RS
- Bab 89 SB
- Bab 9 RS
- Bab 9 SB Haid
- Bab 9 SB ILMU
- Bab 9 SB IMAN
- Bab 9 SB Mandi
- Bab 9 SB Shalat
- Bab 9 SB Tayamum
- Bab 9 SB WUDHU
- Bab 90 RS
- Bab 91 RS
- Bab 92 RS
- Bab 93 RS
- Bab 94 RS
- Bab 95 RS
- Bab 96 RS
- Bab 97 RS
- Bab 98 RS
- Bab 99 RS
- Bab15 SB Mandi
- Bab70 SB Jual Beli
- Bahasa Arab
- Bid'ah dan macam²nya
- blora
- brebes
- buku
- depok
- Faedah Dalam Kesulitan
- Faraid
- Fatwa
- Feature
- Fiqih
- Habibatul Mustofa
- Hadits
- Hilangnya Debu
- Hukum Satu Perkara
- Ilmu Sorof
- Ilmu Sorof Fathul Wadud
- Iqtisom
- jakarta
- Jami'ush Shahih
- Jilid 1
- Jilid 2
- Jilid 3
- Jilid 4
- Jilid 5
- jogja
- Karakteristik Dakwah
- Karomatul Khulafair Rasyidin
- Kasyfisy Syubuhat
- Katalog
- Keagungan Aqidah Ulama Syafi'iyah
- kedah
- kendari
- Kesesatan Sururiy
- Keutamaan Al Quran
- Keutamaan Umat Islam
- Khutbah
- Khutbah 'ied
- Khutbah Jumat
- Kitab Adab
- Kitab Adab Berpakaian
- Kitab Adab tidur_berbaring_duduk_tempat duduk_teman duduk dan mimpi
- Kitab Etika Makan
- Kitab Etika Safar
- Kitab Fadhail
- Kitab Haid
- Kitab Ilmu
- Kitab Iman
- Kitab Keikhlasan
- Kitab Mandi
- Kitab Menjenguk Orang Sakit
- Kitab Permulaan wahyu
- Kitab Salam
- Kitab Shalat
- Kitab Tauhid
- Kitab Tayamum
- Kitab Waktu Shalat
- Kitab Wudhu'
- kuala lumpur
- kudus
- kuningan
- Lamiyyah
- Madatul Fiqih 2
- Madatul Fiqih 3
- Madatul Fiqih 4
- Madatul Fiqih 5
- Madatul Tafsir
- Maddatul Adab
- Maddatul Adab 2
- Maddatul Adab 3
- Maddatul Adab 4
- Maddatul Adab 5
- madiun
- makasar
- Manhaj
- Membantah Gerakan Pemberontakan
- muhadhoroh
- Mustolah Hadits
- Nahwu
- Nahwu 5
- Nahwu 6
- Nahwu 7
- Nailul Maram
- Nawaqidul Islam
- nganjuk
- Nikmat Islam
- padang
- pangkep
- pare-pare
- pekalongan
- pekanbaru
- Pengumuman
- Penjelasan yang Indah Terhadap Nasihat Al-Imam Al-Wadi'iy dalam Mendamaikan AhlusSunnah
- perlis
- Petikan Aqidah Al Imam Ibnu Abi Zamanin
- Petuah Ramadhan
- Raddul Mubthilil Mardzul Laisa Minal Fudhul
- Ramadhan
- Ringkasan Hamawiyah
- Risalah Tabukiyyah
- Riyadhus Shalihin
- selangor
- semarang
- Shahih Al Bukhari
- Shohih Bukhari Syaikh Abu Fairuz
- Sirah Nabawiyyah
- Sirah Nabawiyyah 10
- Sirah Nabawiyyah 2
- Sirah Nabawiyyah 3
- Sirah Nabawiyyah 4
- Sirah Nabawiyyah 5
- Sirah Nabawiyyah 6
- Sirah Nabawiyyah 7
- Sirah Nabawiyyah 8
- Sirah Nabawiyyah 9
- solo
- subang
- Syarah Ajurrumiyyah 1
- Syarah Ajurrumiyyah 2
- Syarah Aqidah Al Karmaniy
- Syarah Asma Al Husna
- Syarah Qawa'idil Arba'
- Syarhul Ushulis Sittah
- Ta'liq
- tafsir
- Tafsir Al Furqan
- Tafsir Ash Shaff
- Tafsir ibnu Katsir
- Taisirul Alam
- Takalar
- Tanda² Hari Kiamat
- tanya jawab
- Tathir Itiqod
- Taudhihul Ahkam
- Tauhid
- Tsulatsiyat Shahih Bukhari
- Ubat untuk penyakit
- Ushul Fiqih Imrithiy
- Ushul Sunnah Imam Ahmad
- Ushul Tsalatsah
- Ushulud Da'watis Salafiyyah
- Usul Fiqih
- Usul Tafsir
- Video
- watang
- yaman
- الصرف للمبتدئين
- المطايا الهنية تيسير فهم البيقونية
- خلاصة مصطلح الحديث



