health
[health][bsummary]
vehicles
[vehicles][bigposts]
business
[business][twocolumns]
Kajian Kitab Terbitnya Dua Bulan Purnama (mengenal kebenaran lalu mengamalkannya)
Kajian Kitab
Terbitnya Dua Bulan Purnama
طلوع البدرين:
Tarikh: 19 Jumada Awwal 1443 Khamis bersamaan 25/12/2021 Masehi
Hidayah - mengenal kebenaran lalu mengamalkannya.
Orang Yahudi banyak berilmu tapi tidak mendapatkan hidayah.
Orang2 yang mahu mengikuti hidayah.
Hidayah irsyad pemberian ilmu.
Hidayah taufiq.
Mohon hidayah at tsabat - kekokohan.
Kita masih di muka surah enam puluh-lima dari ucapan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah tentang mmm mentadaburi al-Fatihah terkait dengan masalah apakah masalah. dan sebagainya itu. Kata beliau di sini kita ambil dari sini yang namanya hidayah. hidayah adalah mengenal kebenaran dan mengamalkannya. Ini jelas hidayah yang sampai tingkat taufik bukan sekedar ilmu yang zahir itu yang apa? Yang teori-teori itu saja. ini yang sampai tingkat tauhid, tahu kebenaran lalu mengamalkannya. Maka barang siapa tidak Allah men, Allah taala tawar, Allah taala tidak menjadikan dia mmm. yang mengetahui kebenaran dalam keadaan dia mengamalkannya dia tidak memiliki jalan menuju kepada yaitu kemampuan untuk menjalankan. yang tadi, ih, tidak. Mungkin dia banyak ilmu seperti orang Yahudi, tapi kenapa dimurkai? Karena dia tidak mengamalkannya. Walaupun sudah punya ilmu, ternyata tidak mendapatkan bukan. tadi tidak maka Allah yang Mahasuci itulah yang bersendirian di dalam masalah pemberian hidayah. mewajibkan terbentuknya yaitu sampai menyebabkan orangnya itu menjalankan isi hidayah tadi. Ini menunjukkan bahwasanya Allah punya takdir, buktinya apa? Orang Yahudi banyak belajar, tapi karena. tak mendapatkan hidayah? Berarti memang ada takdir di situ, Allah yang menakdirkan mereka tidak memiliki hidayah walaupun ilmunya banyak, tidak mengamalkannya, justru malah berbuat syirik kepada Allah, berbuat kufur, dan seterusnya.. kata beliau yang mana itu tidak tertinggal dari hidayah. Makanya ini yang kita mohon hidayah karena akan membentuk yang namanya ihtida setelah tahun. lalu mengikuti hidayah tadi. Makanya Allah taala mengatakan orang-orang yang mau mengikuti hidayah, bukan ya. Sekedar apa? Diberi, diberi, ilmu. tapi yaitu mengikuti hidayah. Yang namanya ihtida adalah dijadikannya hamba itu memang. hidayah dia mencintai hidayah tadi mengutamakan hidayah tadi mengamalkannya. Maka hidayah ini tidak diserahkan yaitu pengurusannya tidak diserahkan kepada malaikat yang didekatkan ataupun nabi yang diutuskan. nabi Muhammad takmampu memberikan hidayah, yaitu taufik kepada orang-orang yang beliau cintai yaitu mmm siapa? Rabu, Abu Thalib, ataupun Abu Lahab, ataupun Abu Jahal, dan sebagainya.. Dan hidayah jenis inilah yang mana Allah subhanahu berfirman tentangnya sesungguhnya engkau wahai Rasulullah tidak mampu. berikan hidayah kepada orang yang engkau cintai. Tetapi Allah-lah yang memberikan hidayah kepada orang yang dia mmm dia inginkan. Berdas mmm bersamaan dengan firman Allah taala.
Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberikan hidayah kepada jalan yang lurus. Ini hidayah irsyad yaitu pemberian ilmu. Toyyib.. maka hidayah yang nabi itu memiliki, yang beliau berikan ke orang lain, ini adalah hidayah yang berupa dakwah, yaitu seruan, taklim, pengajaran, irsyad, bimbingan. Ini. nabi bahkan kita pun memiliki itu, yaitu kita membimbing adik kitakah, anak kitakah, teman kita dan sebagainya itu.. dan inilah hidayah yang kaum Tsamud telah diberi. Namun mereka lebih menyukai, lebih mencintai kebutaan daripada hidayah tadi. Dapat hidayah Irsyad tapi tidak mendapatkan hidayah taufik. Karena Allah. isi hati mereka memang lebih mencintai kebutaan. Dan hidayah inilah yang mana Allah taala berfirman tentangnya. sama sekali Allah tidak menyesatkan suatu kaum setelah dia memberikan hidayah pada mereka. Yaitu apa? Hidayah irsyad. Setelah diberi ilmu, Allah tidak akan menyesatkan mereka.. sehingga Allah menerangkan kepada mereka apa yang wajib mereka takuti. Ternyata setelah itu mereka lebih memilih jalan yang sesat. Maka Allah sesatkan sekalian mereka. Diberi Irsyad tetapi di. diberi taufik karena mereka yang sudah ditakut-takuti memilih jalan yang sesat. Ternyata tetap memilih jalan yang sesat tadi. Allah memberikan hidayah pada mereka tapi hidayah baik. diberi ilmu, diberi keterangan. Yang dengan itu, tegaklah hujah Allah terhadap mereka. Allah sudah memberikan argumentasi untuk nanti membantah mereka, tatkala mereka membangkang. Tidak. Allah menghalangi mereka dari mendapatkan hidayah yang mewajibkan yaitu taufik.. mana orang yang telah Allah beri hidayah jenis taufik ini dia tidak akan tersesat maka itu adalah keadilan Allah. mereka. Karena mereka yang memilih jalan itu. Maka tatkala mereka tidak mendapatkan taufik, ini keadilan dari Allah. Maka yang ini adalah dan ini adalah hik. Allah memberikan kepada mereka sejenis hidayah yaitu ilmu yang dengan itu tegaklah argumentasi Allah terhadap mereka. Dan Allah menghalangi mereka dari suatu jenis hidayah yang mereka memang tidak layak mendapatkannya. Maka takboleh menyalahkan Allah kalau engkau tidak mendapatkan hidayah yang. karena Allah tahu engkau tidak, tidak layak mendapatkannya, maka kita hendaknya takut, jangan sampai termasuk yang seperti itu. Kalau ternyata kita diberi hidayah pada Islam, diberi hidayah menuju pada iman, mmm diberi hidayah untuk mengikuti sunah nabi dan. Sejak para sahabat, maka kita wajib banyak bersyukur. Berarti Allah tahu kita layak mendapatkan itu. Paling tidak sampai sekarang. Karena manusia, hati manusia terkadang berbolak-balik. Nauzubillah. Nah, kita mohon hidayah yang. yaitu kekukuhan. Dan hidayah jenis taufik, Allah tau memang tidak layak untuk mereka tadi.. kata Ibnu Qayim, kami akan menyebutkan setelah bab yang ini, insya Allahu taala, penyebutan tentang hidayah dan kesesatan.
Dan tingkatan-tingkatan dua perkara tadi dan pembagian-pembagiannya atau bagian-bagiannya bagian-bagiannya. Karena pada perkara inilah mmm titik peredaran pun apa istilahnya ya. Pusat peredaran masalah-masalah takdir. Baik, masih banyak. belum kita baca tapi paling tidak apa sebagiannya sudah kita untuk menjadi eh apa itu menambah semangat oh perlui berarti perlu kita baca yang ini yang ini ah dulu para masyaikh memang. nanti untuk itu di seperti apa Syekh Ahmad Syami, demikian pula syekh-syekh yang lain ya beliau mengajarkan itu mengingatkan ini adalah buku ini. Nah setelah itu memang yo ana balik ana buka buku-buku itu alhamdulillah mmm. tambah banyak dulu waktu di, dipilih. Baik, sehingga apa? Ketika Syekh menyebutkan isyarat walaupun tidak disebutkan dalam darah tapi diisyaratkan ini di bab sekian. Memang kita cari. Nah ini yang di sekolah dikatakan. Indonesia Piranto. Apa itu? GPS eh cara belajar siswa aktif. Memang kita disemangati untuk itu. Hmm. Baik. Agar ilmu berkembang. Karena tak mungkin guru membacakan semua buku tak mungkin. Nah, kita yang. Tujuan saya dari penulisan yang bagian ini adalah menyebutkan sebagian perkara yang. yang menunjukkan ditetapkannya tingkatan yang keempat ini. Dari tingkatan yaitu apa? Al-Falaq, semuanya adalah ciptaan Allah, baik zatnya ataupun eh. perbuatan dan keadaan para makhluk tadi. Yaitu Allah taala menciptakan perbuatan-perbuatan para makhluk yang terbebani syariat.. Dan masuknya perbuatan para makhluk tadi di bawah kekuasaan dan kehendak Allah, semuanya sudah dikehendaki oleh Allah.. sebagaimana itu semua masuk di dalam masuk di bawah ilmu dan penulisan Allah taala.
Tayib, semuanya sudah Allah tulis, Allah sudah tahu, polan akan berbuat apa, sebagaimana Allah tahu itu dan. menulis itu berarti fiil tadi juga ciptaan Allah taala. Baik secara langsung ataupun tidak langsung mmm even Ibnu Utsaimin menjelaskan dalam kitab beliau dan sebagainya juga beliau pulang di dalam. kata beliau agar kita memahami masalah ini bagaimana kita yang berbuat kita yang disalahkan tapi Allah yang mencipta perbuatan kita. Kata beliau yang namanya perbuatan ini hasil dari perpaduan dua. yaitu dan keinginan dan kemampuan dan keinginan. Ada keinginan kalau tak ada kemampuan ya tak jadi, ada kemauan, tetapi takada kemampuan ya tak jadi, atau sebalik. sama saja. Ada kemampuan tapi takada keinginan ya tidak terjadi fiil. Nah kalau dua-duanya ada terbentuklah fiil, tayib. Sementara kemauan ini makhluk, makhluk ciptaan siapa ciptaan Allah. Demikian pula kekuatan. Siapa. menciptakan kekuatan, Allah. Tatkala dua-duanya adalah makhluknya Allah, berarti apa saja yang dilahirkan dari dua perkara tadi, dia juga makhluknya Allah. Makanya Allah mencipta segalanya, boleh jadi. langsung boleh jadi secara tidak langsung. Oh iya. Kemudian kata beliau di sini. Allah adalah pencipta segala sesuatu, ini umum. Dan umum. Maka semuanya dan juga apa? Semuanya masuk di sini. Dan Dia Maha Mengurusi. Segala sesuatu. Tak ada yang di, di luar pengurusan, kepengurusan Allah taala. Ini adalah dalil yang umum dan terpelihara.. alam. Tidak ada sedikit pun yang keluar darinya, dari alam semesta ini. Ini yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah di dalam kitab ushul fikih beliau.
Semua dalil-dalil umum itu sudah dikhususkan kecuali empat dalil di antaranya ini. ini umum keumumannya terpelihara, tidak ada pengkhususan. Yang masuk dalam istilah tentunya. Untuk Allah, untuk zat Allah, nama, dan sifatnya takmasuk di sini. Karena. di sini dia masuk di dalam apa? Pembahasan sebagai dari sementara Allah dengan nama dan sifatnya dia ada pada mubtadanya maka tak masuk di dalam kul mmm tidak masuk dalam syaik di sini. Maka tak perlu kita katakan, oh adalah pengecualian yaitu zat Allah, zat Allah kan syekh, betul zat Allah dalam ayat yang lain. Tapi untuk, untuk ayat ini dan Allah tidak masuk di dalam makmur dari khalik. Tapi zat Allah masuk di dalam. maka ini makruf di dalam mmm bagi orang yang memahami masuk dalam. semua. Zatnya, zat-zat semua alam semesta ini, perbuatan-perbuatan mereka, gerakan-gerakan mereka, dan diamnya mereka. Ini masuk dalam syaid.. ayat ini tidak dikhususkan dengan zat Allah dan sifat-Nya. Ya sejak awal memang sudah tidak masuk, tidak perlu kita bingung. Ada ini dikhususkan, tak perlu. Sejak awal dia tidak masuk.
Dan Allah tidak masuk dan sifat Allah tak masuk dalam pembahasan. Kata beliau karena Allah dengan zat dan sifat-Nya Dia-lah si pencipta itu.. Allah adalah makhluknya Allah. Eh yang setelahnya lafaz dari ayat tadi sudah memisah. antara pencipta dan yang diciptakan. Harusnya apa? Ada titik duanya. Sementara sifat-sifat Allah yang Mahasuci sudah masuk di dalam. apa ini? Yang dinamakan dengan nama Allah tadi Allah. Nah maka takperlu kita bingung ini dikhususkan kok dengan zatnya. Tak perlu. Karena Allah dan sifatnya sudah masuk di dalam mubtadanya. Yang lain-lain. masuk di dalam, di dalam murtad dari itu dan makmur dari nya. Memang kalau kita tak. pandai bahasa, kita boleh kena bully, ditipu oleh orang-orang asya'irah ataupun orang dan lain-lain. Memang wajib belajar bahasa.
Sumber Channel Telegram: طلوع البدرين
Labels:
2 Purnama
Related Posts
Kajian Kitab Terbitnya Dua Bulan Purnama (mengenal kebenaran lalu mengamalkannya)
Reviewed by Malik alFaruq
on
Oktober 10, 2022
Rating: 5
Reviewed by Malik alFaruq
on
Oktober 10, 2022
Rating: 5
Katalog
[socialcounter]
[facebook][#][230,000]
[twitter][#][230,000]
[youtube][#][230,000]
[rss][#][230,000]
[linkedin][#][230,000]
[instagram][#][230,000]
Subscribe Us
Popular Posts
blog tags
- 2 Purnama
- Ahkam Adhiyah
- Ahkamish Shiyam
- Ajaibnya Alam Semesta
- AKHLAQUL MU'MININ WAL MU'MINAT
- Al Bidayah Wan Nihayah
- Al Fawaiduts Tsunaiyyah
- Al Fawakihul Janiyyah
- Al Hamawiyah
- Al Qowaaidul Hisan
- Al Ushul Min Ilmil Ushul
- Al Usul Tsalatsah
- Al Uyunul Jawariy
- Al Wasitiyah
- Aqidah
- Aqidah Qairawaniyyah
- Arbain Nawawiy
- Bab 1 RS
- Bab 1 SB Haid
- Bab 1 SB ILMU
- Bab 1 SB IMAN
- Bab 1 SB Mandi
- Bab 1 SB Shalat
- Bab 1 SB Tayamum
- Bab 1 SB WAHYU
- Bab 1 SB WUDHU
- Bab 10 RS
- Bab 10 Sb Aurat
- Bab 10 SB Haid
- Bab 10 SB ILMU
- Bab 10 SB IMAN
- Bab 10 SB Mandi
- Bab 10 SB WUDHU
- Bab 100 RS
- Bab 101 RS
- Bab 102 RS
- Bab 103 RS
- Bab 104 RS
- Bab 105 RS
- Bab 106 RS
- Bab 107 RS
- Bab 108 RS
- Bab 109 RS
- Bab 11 RS
- Bab 11 SB Haid
- Bab 11 SB ILMU
- Bab 11 SB IMAN
- Bab 11 SB Mandi
- Bab 11 SB Rida
- Bab 11 SB WUDHU
- Bab 110 RS
- Bab 111 RS
- Bab 112 RS
- Bab 113 RS
- Bab 114 RS
- Bab 115 RS
- Bab 116 RS
- Bab 117 RS
- Bab 118 RS
- Bab 119 RS
- Bab 12 RS
- Bab 12 SB Haid
- Bab 12 SB ILMU
- Bab 12 SB IMAN
- Bab 12 SB Mandi
- Bab 12 SB Paha
- Bab 12 SB WUDHU
- Bab 120 RS
- Bab 121 RS
- Bab 122 RS
- Bab 123 RS
- Bab 124 RS
- Bab 125 RS
- Bab 126 RS
- Bab 127 RS
- Bab 128 RS
- Bab 129 RS
- Bab 13 RS
- Bab 13 SB
- Bab 13 SB Haid
- Bab 13 SB ILMU
- Bab 13 SB IMAN
- Bab 13 SB Mandi
- Bab 13 SB WUDHU
- Bab 130 RS
- Bab 131 RS
- Bab 132 RS
- Bab 133 RS
- Bab 134 RS
- Bab 135 RS
- Bab 136 RS
- Bab 137 RS
- Bab 138 RS
- Bab 139 RS
- Bab 14 RS
- Bab 14 SB
- Bab 14 SB Haid
- Bab 14 SB ILMU
- Bab 14 SB IMAN
- Bab 14 SB WUDHU
- Bab 140 RS
- Bab 142 RS
- Bab 143 RS
- Bab 144 RS
- Bab 145 RS
- Bab 146 RS
- Bab 147 RS
- Bab 148 RS
- Bab 149 RS
- Bab 15 RS
- Bab 15 SB
- Bab 15 SB Haid
- Bab 15 SB ILMU
- Bab 15 SB IMAN
- Bab 15 SB WUDHU
- Bab 150 RS
- Bab 151 RS
- Bab 152 RS
- Bab 153 RS
- Bab 154 RS
- Bab 155 RS
- Bab 156 RS
- Bab 157 RS
- Bab 158 RS
- Bab 159 RS
- Bab 16 RS
- Bab 16 SB Haid
- Bab 16 SB ILMU
- Bab 16 SB IMAN
- Bab 16 SB Mandi
- Bab 16 SB Sutra
- Bab 16 SB WUDHU
- Bab 160 RS
- Bab 161 RS
- Bab 162 RS
- Bab 163 RS
- Bab 164 RS
- Bab 165 RS
- Bab 166 RS
- Bab 167 RS
- Bab 168 RS
- Bab 169 RS
- Bab 17 RS
- Bab 17 SB Haid
- Bab 17 SB ILMU
- Bab 17 SB IMAN
- Bab 17 SB Mandi
- Bab 17 SB Pakaian warna merah
- Bab 17 SB WUDHU
- Bab 170 RS
- Bab 171 RS
- Bab 172 RS
- Bab 173 RS
- Bab 174 RS
- Bab 175 RS
- Bab 176 RS
- Bab 177 RS
- Bab 178 RS
- Bab 179 RS
- Bab 18 RS
- Bab 18 SB Haid
- Bab 18 SB ILMU
- Bab 18 SB IMAN
- Bab 18 SB Mandi
- Bab 18 SB Shalat diatap
- Bab 18 SB WUDHU
- Bab 180 RS
- Bab 181 RS
- Bab 182 RS
- Bab 19 RS
- Bab 19 SB
- Bab 19 SB Haid
- Bab 19 SB ILMU
- Bab 19 SB IMAN
- Bab 19 SB Mandi
- Bab 19 SB WUDHU
- Bab 2 RS
- Bab 2 SB Haid
- Bab 2 SB ILMU
- Bab 2 SB IMAN
- Bab 2 SB Mandi
- Bab 2 SB Shalat
- Bab 2 SB Tayamum
- Bab 2 SB WAHYU
- Bab 2 SB WUDHU
- Bab 20 RS
- Bab 20 SB Haid
- Bab 20 SB ILMU
- Bab 20 SB IMAN
- Bab 20 SB Mandi
- Bab 20 SB Shalat diatas tikar
- Bab 20 SB WUDHU
- Bab 21 RS
- Bab 21 SB
- Bab 21 SB Haid
- Bab 21 SB ILMU
- Bab 21 SB IMAN
- Bab 21 SB Mandi
- Bab 21 SB WUDHU
- Bab 22 RS
- Bab 22 SB
- Bab 22 SB Haid
- Bab 22 SB ILMU
- Bab 22 SB IMAN
- Bab 22 SB Mandi
- Bab 22 SB WUDHU
- Bab 23 RS
- Bab 23 SB
- Bab 23 SB Haid
- Bab 23 SB ILMU
- Bab 23 SB IMAN
- Bab 23 SB WUDHU
- Bab 24 RS
- Bab 24 SB
- Bab 24 SB haid
- Bab 24 SB ILMU
- Bab 24 SB IMAN
- Bab 24 SB Mandi
- Bab 24 SB WUDHU
- Bab 25 RS
- Bab 25 SB
- Bab 25 SB Haid
- Bab 25 SB ILMU
- Bab 25 SB IMAN
- Bab 25 SB Mandi
- Bab 25 SB WUDHU
- Bab 26 RS
- Bab 26 SB
- Bab 26 SB Haid
- Bab 26 SB ILMU
- Bab 26 SB IMAN
- Bab 26 SB Mandi
- Bab 26 SB WUDHU
- Bab 27 RS
- Bab 27 SB
- Bab 27 SB Haid
- Bab 27 SB IMAN
- Bab 27 SB Mandi
- Bab 27 SB WUDHU
- Bab 28 RS
- Bab 28 SB
- Bab 28 SB haid
- Bab 28 SB ILMU
- Bab 28 SB IMAN
- Bab 28 SB Mandi
- Bab 28 SB WUDHU
- Bab 29 RS
- Bab 29 SB Haid
- Bab 29 SB ILMU
- Bab 29 SB IMAN
- Bab 29 SB Kiblat
- Bab 29 SB Mandi
- Bab 29 SB WUDHU
- Bab 3 RS
- Bab 3 SB Haid
- Bab 3 SB ILMU
- Bab 3 SB IMAN
- Bab 3 SB Mandi
- Bab 3 SB Shalat
- Bab 3 SB Tayamum
- Bab 3 SB WAHYU
- Bab 3 SB WUDHU
- Bab 30 RS
- Bab 30 SB Haid
- Bab 30 SB ILMU
- Bab 30 SB IMAN
- Bab 30 SB Maqam Ibrahim
- Bab 30 SB WUDHU
- Bab 31 RS
- Bab 31 SB ILMU
- Bab 31 SB IMAN
- Bab 31 SB Menghadap Kiblat
- Bab 31 SB WUDHU
- Bab 32 RS
- Bab 32 SB ILMU
- Bab 32 SB IMAN
- Bab 32 SB Perihal Kiblat
- Bab 32 SB WUDHU
- Bab 33 RS
- Bab 33 SB ILMU
- Bab 33 SB IMAN
- Bab 33 SB Mengerik Kahak
- Bab 33 SB WUDHU
- Bab 34 RS
- Bab 34 SB ILMU
- Bab 34 SB IMAN
- Bab 34 SB Mengerik Ingus
- Bab 34 SB WUDHU
- Bab 35 RS
- Bab 35 SB ILMU
- Bab 35 SB IMAN
- Bab 35 SB Meludah
- Bab 35 SB WUDHU
- Bab 36 RS
- Bab 36 SB ILMU
- Bab 36 SB IMAN
- Bab 36 SB Meludah ke sebelah kiri
- Bab 36 SB WUDHU
- Bab 37 RS
- Bab 37 SB ILMU
- Bab 37 SB IMAN
- Bab 37 SB Kafarat
- Bab 37 SB WUDHU
- Bab 38 RS
- Bab 38 SB ILMU
- Bab 38 SB IMAN
- Bab 38 SB Menanam kahak
- Bab 38 SB WUDHU
- Bab 39 RS
- Bab 39 SB Dorongan meludah
- Bab 39 SB ILMU
- Bab 39 SB IMAN
- Bab 39 SB WUDHU
- Bab 4 RS
- Bab 4 SB Haid
- Bab 4 SB ILMU
- Bab 4 SB IMAN
- Bab 4 SB Mandi
- Bab 4 SB Shalat
- Bab 4 SB Tayamum
- Bab 4 SB WAHYU
- Bab 4 SB WUDHU
- Bab 40 RS
- Bab 40 SB ILMU
- Bab 40 SB IMAN
- Bab 40 SB Nasihat Imam
- Bab 40 SB WUDHU
- Bab 41 RS
- Bab 41 SB
- Bab 41 SB ILMU
- Bab 41 SB IMAN
- Bab 41 SB WUDHU
- Bab 42 RS
- Bab 42 SB
- Bab 42 SB ILMU
- Bab 42 SB IMAN
- Bab 42 SB WUDHU
- Bab 43 RS
- Bab 43 SB ILMU
- Bab 43 SB Mengundang dan yang di undang
- Bab 43 SB WUDHU
- Bab 44 RS
- Bab 44 SB ILMU
- Bab 44 SB Memutuskan Perkara
- Bab 44 SB WUDHU
- Bab 45 RS
- Bab 45 SB
- Bab 45 SB ILMU
- Bab 45 SB WUDHU
- Bab 46 RS
- Bab 46 SB ILMU
- Bab 46 SB Membuat Masjid
- Bab 46 SB WUDHU
- Bab 47 RS
- Bab 47 SB ILMU
- Bab 47 SB Kaki Kanan
- Bab 47 SB WUDHU
- Bab 48 RS
- Bab 48 SB ILMU
- Bab 48 SB Membongkar Kuburan
- Bab 48 SB WUDHU
- Bab 49 RS
- Bab 49 SB
- Bab 49 SB ILMU
- Bab 49 SB WUDHU
- Bab 5 RS
- Bab 5 SB Haid
- Bab 5 SB ILMU
- Bab 5 SB IMAN
- Bab 5 SB Mandi
- Bab 5 Sb Shalat
- Bab 5 SB Tayamum
- Bab 5 SB WAHYU
- Bab 5 SB WUDHU
- Bab 50 RS
- Bab 50 SB
- Bab 50 SB ILMU
- Bab 50 SB WUDHU
- Bab 51 RS
- Bab 51 SB ILMU
- Bab 51 SB WUDHU
- Bab 51SB
- Bab 52 RS
- Bab 52 SB ILMU
- Bab 52 SB WUDHU
- Bab 53 RS
- Bab 53 SB
- Bab 53 SB ILMU
- Bab 53 SB WUDHU
- Bab 54 RS
- Bab 54 SB Shalat dalam gereja
- Bab 54 SB WUDHU
- Bab 55 SB
- Bab 55 SB WUDHU
- Bab 56 SB
- Bab 56 SB WUDHU
- Bab 57 RS
- Bab 57 SB
- Bab 57 SB WUDHU
- Bab 58 RS
- Bab 58 SB Tidur di Masjid
- Bab 58 SB WUDHU
- Bab 59 RS
- Bab 59 SB
- Bab 59 SB WUDHU
- Bab 6 RS
- Bab 6 SB Haid
- Bab 6 SB ILMU
- Bab 6 SB IMAN
- Bab 6 SB Mandi
- Bab 6 SB Shalat
- Bab 6 SB Tayamum
- Bab 6 SB WAHYU
- Bab 6 SB WUDHU
- Bab 60 RS
- Bab 60 SB
- Bab 60 SB WUDHU
- Bab 61 RS
- Bab 61 SB
- Bab 61 SB WUDHU
- Bab 62 RS
- Bab 62 SB Bangunan Masjid Nabawi
- Bab 62 SB WUDHU
- Bab 63 RS
- Bab 63 SB
- Bab 63 SB WUDHU
- Bab 64 RS
- Bab 64 SB Mimbar Masjid
- Bab 64 SB WUDHU
- Bab 65 RS
- Bab 65 SB Pahala Membangun Masjid
- Bab 65 SB WUDHU
- Bab 66 RS
- Bab 66 SB Anak Panah
- Bab 66 SB WUDHU
- Bab 67 RS
- Bab 67 SB Lewat Masjid
- Bab 67 SB WUDHU
- Bab 68 RS
- Bab 68 SB
- Bab 68 SB WUDHU
- Bab 69 RS
- Bab 69 SB Pemilik Tombak
- Bab 69 SB WUDHU
- Bab 7 RS
- Bab 7 SB Haid
- Bab 7 SB ILMU
- Bab 7 SB IMAN
- Bab 7 SB Mandi
- Bab 7 SB Tayamum
- Bab 7 SB WUDHU
- Bab 70 RS
- Bab 70 SB WUDHU
- Bab 71 RS
- Bab 71 SB Hutang Piutang
- Bab 71SB WUDHU
- Bab 72 RS
- Bab 72 SB
- Bab 72 SB WUDHU
- Bab 73 RS
- Bab 73 SB
- Bab 73 SB WUDHU
- Bab 74 RS
- Bab 74 SB
- Bab 74 SB WUDHU
- Bab 75 RS
- Bab 75 SB Tawanan
- Bab 75 SB WUDHU
- Bab 76 RS
- Bab 76 SB
- Bab 77 RS
- Bab 77 SB
- Bab 78 RS
- Bab 78 SB
- Bab 79 RS
- Bab 79 SB
- Bab 8 RS
- Bab 8 SB Haid
- Bab 8 SB ILMU
- Bab 8 SB IMAN
- Bab 8 SB Mandi
- Bab 8 SB Shalat
- Bab 8 SB Tayamum
- Bab 8 SB WUDHU
- Bab 80 RS
- Bab 80 SB Khaukhah
- Bab 81 RS
- Bab 81 SB
- Bab 82 RS
- Bab 82 SB
- Bab 83 RS
- Bab 83 SB
- Bab 84 RS
- Bab 84 SB Halaqah
- Bab 85 RS
- Bab 85 SB Terlentang
- Bab 86 RS
- Bab 86 SB
- Bab 87 RS
- Bab 87 SB
- Bab 88 RS
- Bab 88 SB
- Bab 89 RS
- Bab 89 SB
- Bab 9 RS
- Bab 9 SB Haid
- Bab 9 SB ILMU
- Bab 9 SB IMAN
- Bab 9 SB Mandi
- Bab 9 SB Shalat
- Bab 9 SB Tayamum
- Bab 9 SB WUDHU
- Bab 90 RS
- Bab 91 RS
- Bab 92 RS
- Bab 93 RS
- Bab 94 RS
- Bab 95 RS
- Bab 96 RS
- Bab 97 RS
- Bab 98 RS
- Bab 99 RS
- Bab15 SB Mandi
- Bab70 SB Jual Beli
- Bahasa Arab
- Bid'ah dan macam²nya
- blora
- brebes
- buku
- depok
- Faedah Dalam Kesulitan
- Faraid
- Fatwa
- Feature
- Fiqih
- Habibatul Mustofa
- Hadits
- Hilangnya Debu
- Hukum Satu Perkara
- Ilmu Sorof
- Ilmu Sorof Fathul Wadud
- Iqtisom
- jakarta
- Jami'ush Shahih
- Jilid 1
- Jilid 2
- Jilid 3
- Jilid 4
- Jilid 5
- jogja
- Karakteristik Dakwah
- Karomatul Khulafair Rasyidin
- Kasyfisy Syubuhat
- Katalog
- Keagungan Aqidah Ulama Syafi'iyah
- kedah
- kendari
- Kesesatan Sururiy
- Keutamaan Al Quran
- Keutamaan Umat Islam
- Khutbah
- Khutbah 'ied
- Khutbah Jumat
- Kitab Adab
- Kitab Adab Berpakaian
- Kitab Adab tidur_berbaring_duduk_tempat duduk_teman duduk dan mimpi
- Kitab Etika Makan
- Kitab Etika Safar
- Kitab Fadhail
- Kitab Haid
- Kitab Ilmu
- Kitab Iman
- Kitab Keikhlasan
- Kitab Mandi
- Kitab Menjenguk Orang Sakit
- Kitab Permulaan wahyu
- Kitab Salam
- Kitab Shalat
- Kitab Tauhid
- Kitab Tayamum
- Kitab Waktu Shalat
- Kitab Wudhu'
- kuala lumpur
- kudus
- kuningan
- Lamiyyah
- Madatul Fiqih 2
- Madatul Fiqih 3
- Madatul Fiqih 4
- Madatul Fiqih 5
- Madatul Tafsir
- Maddatul Adab
- Maddatul Adab 2
- Maddatul Adab 3
- Maddatul Adab 4
- Maddatul Adab 5
- madiun
- makasar
- Manhaj
- Membantah Gerakan Pemberontakan
- muhadhoroh
- Mustolah Hadits
- Nahwu
- Nahwu 5
- Nahwu 6
- Nahwu 7
- Nailul Maram
- Nawaqidul Islam
- nganjuk
- Nikmat Islam
- padang
- pangkep
- pare-pare
- pekalongan
- pekanbaru
- Pengumuman
- Penjelasan yang Indah Terhadap Nasihat Al-Imam Al-Wadi'iy dalam Mendamaikan AhlusSunnah
- perlis
- Petikan Aqidah Al Imam Ibnu Abi Zamanin
- Petuah Ramadhan
- Raddul Mubthilil Mardzul Laisa Minal Fudhul
- Ramadhan
- Ringkasan Hamawiyah
- Risalah Tabukiyyah
- Riyadhus Shalihin
- selangor
- semarang
- Shahih Al Bukhari
- Shohih Bukhari Syaikh Abu Fairuz
- Sirah Nabawiyyah
- Sirah Nabawiyyah 10
- Sirah Nabawiyyah 2
- Sirah Nabawiyyah 3
- Sirah Nabawiyyah 4
- Sirah Nabawiyyah 5
- Sirah Nabawiyyah 6
- Sirah Nabawiyyah 7
- Sirah Nabawiyyah 8
- Sirah Nabawiyyah 9
- solo
- subang
- Syarah Ajurrumiyyah 1
- Syarah Ajurrumiyyah 2
- Syarah Aqidah Al Karmaniy
- Syarah Asma Al Husna
- Syarah Qawa'idil Arba'
- Syarhul Ushulis Sittah
- Ta'liq
- tafsir
- Tafsir Al Furqan
- Tafsir Ash Shaff
- Tafsir ibnu Katsir
- Taisirul Alam
- Takalar
- Tanda² Hari Kiamat
- tanya jawab
- Tathir Itiqod
- Taudhihul Ahkam
- Tauhid
- Tsulatsiyat Shahih Bukhari
- Ubat untuk penyakit
- Ushul Fiqih Imrithiy
- Ushul Sunnah Imam Ahmad
- Ushul Tsalatsah
- Ushulud Da'watis Salafiyyah
- Usul Fiqih
- Usul Tafsir
- Video
- watang
- yaman
- الصرف للمبتدئين
- المطايا الهنية تيسير فهم البيقونية
- خلاصة مصطلح الحديث



