Kajian Kitab Riyadhus Shalihin (Bab 50: Takut Kepada Allah) #1

بسم الله الرحمن الرحيم

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin

Bab 50: Takut kepada Allooh

Audio 1


Audio 2


📣Oleh Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin soekojo Al Indonesiy Al Jawiy Al Qudsiy حفظه الله


Hadits 1

عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ قَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ وَيُقَالُ لَهُ اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ فَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ لَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجَنَّةِ إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ كِتَابُهُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Dari Zaid bin Wahb berkata 'Abdullah telah bercerita kepada kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dia adalah orang yang jujur lagi dibenarkan, bersabda: "Sesungguhnya setiap orang dari kalian dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi 'alaqah (zigot) selama itu pula kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging), selama itu pula kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan empat ketetapan dan dikatakan kepadanya, tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya dan sengsara dan bahagianya lalu ditiupkan ruh kepadanya. Dan sungguh seseorang dari kalian akan ada yang beramal hingga dirinya berada dekat dengan surga kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan takdir) hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka dan ada juga seseorang yang beramal hingga dirinya berada dekat dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan takdir) hingga dia beramal dengan amalan penghuni surga". (Muttafaq Alaih)

Shahih Al-Bukhari (3208), Shahih Muslim (2643)

Audio didapatkan dari Al Akh Wan Perwira Wan Adam Al Malizy حفظه الله

Semoga mendapat faedah-faedah dan manfaatnya

إن شاء الله

بارك الله فيكم
Sumber Channel Telegram: رياض الصالحين

PERINTAH UNTUK MENGIKUTI RASUL ﷺ DAN LARANGAN DARI MEMBUAT KEBID'AHAN DIDALAM AGAMA INI

Sumber Channel Telegram: @MaktabahFairuzAddailamiy

PERINTAH UNTUK MENGIKUTI RASUL ﷺ DAN LARANGAN DARI MEMBUAT KEBID'AHAN DIDALAM AGAMA INI

Allah ta’ala berfirman:
﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ الله فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ الله وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَالله غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ [آل عمران/31].

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah itu Ghofur (Maha Pengampun) dan Rahim (Maha Menyayangi para hamba).” (QS. Ali Imran: 31).


Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan hanyalah kesempurnaan rasa cinta pada beliau dan pengagungannya itu ada pada mutaba’ah (mengikutinya), taat dan mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnah-sunnahnya yang lahiriyyah dan bathiniyyah, menyebarkan syariat yang beliau diutus dengannya, menegakkan jihad untuknya dengan hati, tangan dan lisan. Maka inilah jalan para As Sabiqunal Awwalun (yang terdahulu dan pertama masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan yang mengikuti mereka dengan baik.” (“Iqtidhaush Shirathal Mustaqim”/2/hal. 124/Maktabatur Rusyd).

Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengaku cinta pada Allah, tapi dia tidak berada di atas jalan Muhammad ﷺ , karena dia itu sungguh pada hakikatnya telah berdusta di dalam pengakuannya, sampai dia itu mau mengikuti syariat Muhammad ﷺ  dan agama Nabi di dalam seluruh ucapan dan keadaannya, sebagaimana telah tetap di dalam “Ash Shahih” dari Rasulullah ﷺ yang bersabda:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عليه أمْرُنَا فَهُوَ رَدُّ»

“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang bukan dari urusan agama kami maka amalannya itu tertolak.”

Oleh karena itulah Allah berfirman: (yang artinya) “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian” Yaitu kalian akan mendapatkan sesuatu yang melebihi apa yang kalian cari, yaitu diakuinya cinta kalian pada-Nya. Yang akan kalian dapatkan adalah: Allah cinta pada kalian, dan itu lebih agung daripada yang pertama. Sebagaimana sebagian orang bijak berkata: "Bukanlah yang penting itu kalian mencintai, tapi yang penting adalah: kalian dicintai.” (“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim"/1/hal. 494-495/cet. Darus Shiddiq).

Allah ta’ala berfirman:
﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ الله أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو الله وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ الله كَثِيرًا﴾ [الأحزاب: 21].

“Sungguh telah ada untuk kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang bagus bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir dan banyak mengingat Allah.”

Dan dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ ».

“Barangsiapa membuat dalam urusan agama kami perkara yang tidak ada dalam agama kami, maka dia itu tertolak.” (HR. Al Bukhariy (2697) dan Muslim (1718)).

Dan Al ‘Irbadh bin Sariyah رضي الله عنه berkata:
صَلَّى بِنَا رسولُ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيْغَةً، ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، فقال قَائِلٌ: يَا رسولَ اللهِ، كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ فقال: «أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْداً حَبَشِيّاً، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافاً كَثِيْراً فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ اْلخُلَفَاءِ المَهْدِيِّيْنَ الرَاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ».

Rasulullah ﷺ pernah mengimami kami shalat pada suatu hari, kemudian beliau menghadapkan wajah pada kami, lalu menasihati kami dengan nasihat yang tajam, yang dengannya air mata berlinang, dan hati merasa takut. Maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasihat orang yang hendak berpisah, maka apakah perjanjian yang Anda ambil dari kami?” Maka beliau bersabda: “Kuwasiatkan kalian untuk bertaqwa pada Allah, dan mendengar dan taat kepada pemerintah, sekalipun dia itu adalah hamba sahaya Habasyah, karena orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk memegang sunnahku dan sunnah Al Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pegang teguhlah dia dan gigitlah dia dengan geraham kalian. Dan hindarilah setiap perkara yang muhdats karena yang muhdats itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu kesesatan.” (HR. Abu Dawud (4594), At Tirmidziy (2676), HR. Ahmad (17182) dan Al Hakim (2676), semuanya dari jalur Abdurrahman bin Amr As Sulamiy, hasan dengan penguatnya. Dan dihasankan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami’ush Shahih” no. (3158)).

Maka mencukupkan diri dengan syari’at yang telah dikenal pada zaman Nabi ﷺ dan para Shahabat رضي الله عنهم adalah perkara yang sangat penting, agar para hamba selamat dari fitnah-fitnah (kekacauan dan kesesatan) dan perselisihan yang banyak.

Dari Abu Waqid Al Laitsiy رضي الله عنه yang berkata:
إِنَّ رسولَ اللهِ ﷺ قَالَ وَنَحْنُ جُلُوْسٌ عَلَى بِسَاطٍ: «إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ». قَالُوا: وَكَيْفَ نَفْعَلُ يَا رسولَ اللهِ؟ فَرَدَّ إِلَى الْبِسَاطِ فَأَمْسَكَ بِهِ فَقَالَ: «تَفْعَلُوْنَ هَكَذَا». وَقَالَ لهُمْ رسولُ اللهِ ﷺ يَوْماً: «إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ»، فَلَمْ يَسْمَعْهُ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ: أَلَا تَسْمَعُوْنَ مَا يَقُوْلُ رسولُ اللهِ ﷺ؟ فَقَالُوا: مَا قَالَ؟ قَالَ: «إِنَّهَا سَتَكُوْنُ فِتْنَةٌ». فَقَالُوا: فَكَيْفَ لَنَا يَا رسولَ اللهِ؟ وَكَيْفَ نَصْنَعُ؟ قَالَ: «تَرْجِعُوْنَ إِلَى أَمْرِكُمُ الْأَوَّلِ».

“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda dalam keadaan kami sedang duduk-duduk di atas tikar: “Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Mereka bertanya: “Dan bagaimana kami harus berbuat wahai Rasulullah?” Maka beliau menggenggam tikar seraya bersabda: “Kalian melakukan seperti ini.” Dan pada suatu hari Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya akan terjadi fitnah,” Akan kebanyakan orang tidak mendengar sabda beliau tadi. Maka Mu’adz bin Jabal berkata: “Apakah kalian tidak mendengar apa yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ ?” maka bereka bertanya: “Apakah yang beliau sabdakan?” Nabi bersabda: “Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Mereka bertanya: “Dan bagaimana dengan kami wahai Rasulullah? Bagaimana kami harus berbuat?” Maka beliau menggenggam tikar seraya bersabda: “Kalian (umat ini) kembali kepada urusan agama kalian yang pertama”. (HR. Ath Thabraniy dalam “Al Kabir” (3307) dan Ath Thahawiy dalam “Musykilul Atsar” (996)/sanadnya shahih).

Dan urusan agama yang pertama untuk umat ini adalah agama Islam yang dikenal pada masa generasi yang pertama dari umat ini, yaitu Nabi ﷺ dan para Shahabat رضي الله عنهم.
  
Dan dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه yang berkata:
إِنَّكُمُ الْيَوْمَ عَلَى الْفِطْرَةِ، وَإِنَّكُمْ سَتُحْدِثُوْنَ وَيُحْدَثُ لَكُمْ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مُحْدَثَةً فَعَلَيْكُمْ بِاْلهَدْيِ الْأَوَّلِ.

“Sesungguhnya kalian (umat ini) pada hari ini ada di atas fithrah, dan sungguh kalian nanti akan membuat perkara baru, dan akan dibuatkan perkara baru untuk kalian. Jika kalian sudah melihat perkara yang baru (dalam agama), maka kalian harus berpegang pada jalan yang pertama (jalan generasi pertama dari umat ini).” (Diriwayatkan oleh Al Marwaziy dalam “As Sunnah” no. (80) dan Ibnu Baththah dalam “Al Ibanatul Kubra” no. (181), dan dishahihkan oleh Syaikhuna Yahya حفظه الله).

Dan Al Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata –dan boleh jadi beliau menukilkan dari Ibnul Jauziy رحمه الله-: “Maka sesungguhnya tidaklah diragukan bahwasanya Rasulullah ﷺ itu ada di atas jalan yang lurus. Dan barangsiapa meragukan ini, maka dia itu bukanlah seorang Muslim. Dan siapakah yang mengajari dirinya? Kemanakah dia akan berpaling dari sunnah beliau? Dan jalan apakah yang layak dicari oleh seorang hamba selain jalan beliau? Hendaknya sang hamba bertanya pada dirinya sendiri: “Bukankah engkau mengetahui bahwasanya jalan Rasulullah ﷺ itu adalah Ash Shiratul Mustaqim?” jika jiwanya menjawab: “Tentu,” hendaknya dia berkata: “Apakah Nabi dulu berbuat ini –yaitu: mengikuti bisikan waswas-?” Niscaya jiwanya akan menjawab: “Tidak.” Maka katakanlah pada jiwamu: “Maka tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan.

 Dan tidak ada setelah jalan ke Surga kecuali jalan ke Neraka. Dan tidak ada setelah jalan Allah dan jalan Rasul-Nya kecuali jalan setan. Jika engkau mengikuti jalan setan, maka engkau adalah rekan seiring dia, dan engkau nanti akan berkata pada setan itu:
﴿يَالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ﴾ [الزخرف: 38].
 ”Wahai engkau, andaikata antara diriku dan dirimu ada jarak sejauh jarak antara barat dan timur, maka sungguh engkau adalah teman seiring yang paling buruk.”

Dan hendaknya dia memperhatikan keadaan para Salaf (pendahulu umat ini) di dalam mereka mengikuti Rasulullah ﷺ , lalu hendaknya dia meneladani mereka dan memilih jalan mereka.”
(selesai dari “Ighatsatul Lahfan”/hal. 142/cet. Dar Ibni Zaidun).

Maka mengikuti sunnah Nabi ﷺ adalah sebab datangnya petunjuk dan diraihnya keselamatan. Dan menyelisihinya adalah sebab kesesatan dan kebinasaan.

 Allah عزّ وجلّ berfirman:
﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾ ]النور: 63[

“Maka hendaknya orang-orang yang menyelisihi urusan agama beliau (Nabi) itu merasa takut akan tertimpa fitnah (kesesatan dan penyimpangan) atau tertimpa siksaan yang pedih.”

Dan dari Al ‘Irbadh Bin Sariyah رضي الله عنه yang berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

«قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ. لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَلَكَ».

“Sungguh aku telah meninggalkan kalian di atas syari’at yang putih, malamnya jelas bagaikan siangnya, tidaklah menyimpang darinya sepeninggalku kecuali dia akan binasa.” (HR. Ibnu Majah (42)/shahih).

Dan dari Abdullah bin Amr ibnil ‘Ash رضي الله عنهما, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:

«إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً. فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدْ أَفْلَحَ. وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ».

"Sesungguhnya setiap amalan itu punya masa semangat, dan setiap masa semangat itu punya masa malas. Maka barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan) kepada sunnahku, maka sungguh dia telah beruntung. Dan barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan) kepada selain itu, maka sungguh dia akan binasa." (HR. Ahmad (6764), dan dishahihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami'ush Shahih” (3250)).

Dan dari seorang Anshar dari sahabat Nabi ﷺ, bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:

«فَمَنِ اقِتَدَى بِي فَهُوَ مِنِّي. وَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي. إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، ثُمَّ فَتْرَةً. فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى بِدْعَةٍ فَقَدْ ضَلَّ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّةٍ فَقَدِ اهْتَدَى».

"Maka barangsiapa meneladani diriku, maka dia termasuk dari golonganku. Dan barangsiapa membenci sunnahku, maka bukanlah dia itu dari golonganku. Sesungguhnya setiap amalan itu punya masa semangat, kemudian masa malas. Maka barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan) kepada bid'ah, maka sungguh dia telah tersesat. Dan barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan) kepada yang sunnah, maka sungguh dia telah mengikuti petunjuk." (HR. Ahmad (23521), dan dishahihkan oleh Al Imam Al Wadi’iy رحمه الله dalam “Al Jami'ush Shahih” (3251)).

Syaikhul Islam رحمه الله berkata tentang makna hadits: “Maka barangsiapa membenci sunnahku maka dia itu bukanlah termasuk dari golonganku,”: “Yaitu: orang itu menempuh selain sunnahku dalam keadaan dia menyangka bahwasanya jalan yang lain itu lebih baik daripada sunnahku. Maka barangsiapa kondisinya seperti itu, maka dia telah berlepas diri dari Allah dan Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman:

﴿وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ﴾ [البقرة : 130].

“Dan tidak ada yang membenci jalan agama Ibrahim kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri.”

Bahkan wajib bagi setiap Muslim untuk meyakini bahwasanya sebaik-baik ucapan adalah Kalamullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ sebagaimana telah pasti dari beliau di dalam hadits shahih bahwasanya beliau berkhuthbah dengan mengucapkan itu setiap hari Jum’at.”
(selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/11/hal. 201).

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Az Zuhriy berkata: “Dulu para ulama kami berkata: “Berpegang teguh dengan As Sunnah adalah keselamatan.” Dan Malik berkata: “As Sunnah adalah bagaikan kapal Nabi Nuh, barangsiapa menaikinya maka dia akan selamat. Dan barangsiapa tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.” Yang demikian itu dikarenakan As Sunnah, syari’at dan manhaj ini adalah jalan yang lurus, yang menyampaikan para hamba kepada Allah. Dan Rasul adalah penunjuk jalan dan pembimbing serta pemandu yang handal di atas jalan ini, sebagaimana firman Allah ta’ala:

﴿يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا * وَدَاعِيًا إِلَى الله بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا * وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ الله فَضْلًا كَبِيرًا﴾ [الأحزاب: 45-46].

“Sesungguhnya kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan sebagai penyeru ke jalan Allah dengan seidzin-Nya, dan sebagai pelita yang menerangi. Dan berilah kabar gembira pada kaum Mukminin bahwasanya mereka mendapatkan keutamaan yang besar dari Allah.”
(dan seterusnya dari “Majmu’ul Fatawa”/4/hal. 57).

Al Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata bahwa syari’at para Nabi adalah kapal penyelamat, lalu beliau berkata: “Dan orang-orang yang tertinggal dari kapal itu bagaikan kaum Nuh yang tenggelam lalu mereka dibakar dan diserukan pada mereka di hadapan alam semesta:

﴿وَقِيْلَ بُعْداً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ﴾

“Dan dikatakan: kaum yang zhalim itu dijauhkan dari rahmat.”

﴿وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوْا هُمُ الظَّالِمِيْنَ﴾

“Dan tidaklah Kami yang menzhalimi mereka, akan tetapi mereka itulah yang zhalim.”

Lalu diserukanlah dengan lisan syari’at dan lisan taqdir sebagai realisasi tauhid Allah dan penetapan hujjah Dia, dan Dia adalah Dzat Yang Maha Adil:

﴿قُلْ فَلِلَّهِ اْلحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعْيِنَ﴾.

“Katakanlah: maka hanya milik Allah sajalah hujjah (argumentasi) yang mendalam, maka andaikata Allah menghendaki niscaya Dia akan memberikan taufiq pada kalian semua.”
(selesai dari “Madarijus Salikin”/1/hal. 199).

Al Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: “Karena sesungguhnya As Sunnah adalah benteng Allah yang amat kuat, barangsiapa masuk ke dalamnya, dia akan termasuk dari golongan orang-orang yang aman. Dan As Sunnah adalah pintu Allah yang paling besar, barangsiapa memasukinya dia akan termasuk dari golongan orang-orang yang sampai kepada Allah.” (“Ijtima’ul Juyusyil Islamiyyah”/hal. 6).
-------------

(“DAKWAH JANGAN MEMAKAI MUSIK IKUTILAH GENERASI TERBAIK” | Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman Bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy حفظه الله )

PENJELASAN TENTANG SEMPURNANYA ISLAM DAN MENYELURUHNYA SYARI'AT ISLAM

Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAddailamiy

PENJELASAN TENTANG SEMPURNANYA ISLAM DAN MENYELURUHNYA SYARI'AT ISLAM

Sesungguhnya Allah ta’ala mengutus Nabi Muhammad ﷺ untuk menyempurnakan agama-Nya. Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala:


﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾[المائدة:3]،

"Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku telah menyempurnakan untuk kalian kenikmatan-Ku dan Aku telah meridhai Islam sebagai agama bagi kalian."

Dan ini adalah dalil tentang sempurnanya agama Islam, maka dia ini tidak memerlukan tambahan ataupun pengurangan. Kemudian: barangsiapa mendatangkan suatu syari’at yang tidak ada di dalam Kitab Allah, dan tidak ada dalam sunnah Rasul-Nya ﷺ dan tidak pula mengikuti pemahaman As Salafush Sholih, maka sungguh dia telah membuat perkara baru di dalam Islam, dan dirinya telah menuduh bahwa agama Islam itu kurang, tidak sempurna, dan bahwasanya Muhammad ﷺ telah mengkhianati risalah.

Al Imam Abdul ‘Aziz Ibnul Majisyun رحمه الله berkata: "Aku mendengar Malik berkata: "Barangsiapa membuat bid'ah dalam Islam dan memandangnya baik, maka dia telah menyangka bahwasanya Muhammad ﷺ itu mengkhianati risalah, karena Allah berfirman:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾. [المائدة: 3].

"Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian"

Maka perkara yang pada hari itu tidak menjadi agama, maka pada hari ini juga tidak menjadi agama." (dinukilkan oleh Asy Syathibiy dalam "Al I'tisham"/hal. 33).

Al Imam Al Hafizh Ibnul Qaththan Al Fasiy رحمه الله berkata: “Para ulama telah sepakat bahwasanya sejak Nabi ﷺ meninggal, wahyu itu telah terputus, dan agama ini telah sempurna dan menetap, dan bahwasanya tidak halal bagi seorangpun untuk menambahkan di dalam agama ini sesuatu dari pemikirannya tanpa memakai dalil, dan tidak pula boleh untuk mengurangi dari agama ini sedikitpun, dan tidak boleh untuk menggantikan suatu ajaran dalam agama ini dengan ajaran yang lain, dan tidak boleh membuat suatu syari’at.“ (selesai yang diinginkan dari “Al Iqna’ Fi Masailil Ijma’”/1/3/hal. (2/16)/cet. Darul Kutubil ‘Ilmiyyah).

Al Imam Abu Syamah Asy Syafi’iy رحمه الله berkata: “Dan Allah Yang Maha Suci telah menyempurnakan agama ini untuk para hamba-Nya, dan menyempurnakan untuk mereka kenikmatan-Nya dengan pengutusan Rasulullah, dan dengan syari’at sempurna yang Allah wahyukan kepada beliau, dan Allah tidak mewafatkan Rasul-Nya kecuali setelah menyempurnakan dan menerangkan agama ini.” -Lalu beliau menyebutkan ayat kesempurnaan Islam-. (“Al Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ Wal Hawadits”/hal. 116).

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Maka tidak ada sesuatu apapun yang Allah perintahkan, atau Allah larang, atau Allah halalkan, atau Allah haramkan, kecuali Allah telah menjelaskan hal itu.” –lalu beliau menyebutkan ayat kesempurnaan Islam tadi. (“Majmu’ul Fatawa”/19/hal. 173).

Dan Al Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: “Maka sungguh Allah Yang Maha Suci telah menjelaskan melalui lidah Rasul-Nya dengan firman-Nya dan sabda Rasul-Nya seluruh apa yang Dia perintahkan, seluruh apa yang Dia larang, seluruh apa yang Dia halalkan, seluruh apa yang Dia haramkan, dan seluruh apa yang Dia maafkan. Dan dengan inilah agamanya itu menjadi sempurna, sebagaimana dalam firman-Nya:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي﴾ [المائدة:3]،

"Pada hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku telah menyempurnakan untuk kalian kenikmatan-Ku."

Akan tetapi terkadang pemahaman dari kebanyakan manusia itu kurang di dalam memahami apa yang ditunjukkan oleh nash-nash yang ada, kurang di dalam memahami sisi dan tempat penunjukannya. Dan perbedaan tingkatan-tingkatan pemahaman umat ini terhadap firman Allah dan sunnah Rasul-Nya itu tidak terhitung kecuali oleh Allah sendiri.” (selesai dari “I’lamul Muwaqqi’in”/1/hal. 332).

Oleh karena itulah maka sangat keras pengingkaran Allah ta’ala terhadap pembuat kebid’ahan dan para pengikutnya, dan sangat keras ancaman-Nya pada mereka dengan siksaan yang pedih, karena  mereka mendatangkan suatu syari’at tanpa idzin dari Allah, seakan-akan mereka adalah Rabb-Rabb selain Allah, atau menyembah Rabb selain Allah. Allah ta’ala berfirman:

﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ الله وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾ [الشورى: 21].

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang mensyariatkan untuk mereka dari agama ini yang tidak diidzinkan oleh Allah? Andaikata bukan kalimat keputusan (untuk menyelesaikan urusan mereka di Hari Kiamat) niscaya telah diselesaikan di antara mereka (di dunia), dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan mendapatkan siksaan yang pedih.”

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan ini adalah ketentuan yang telah ditunjukkan oleh As Sunnah dan ijma’, disertai dengan penunjukan yang ada di dalam Kitabullah juga. Allah ta’ala berfirman:

﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ الله﴾ [الشورى: 21].

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang mensyariatkan untuk mereka dari agama ini yang tidak diidzinkan oleh Allah?”

Maka barangsiapa menyerukan kepada suatu amalan untuk mendekatkan diri pada Allah, atau mewajibkannya dengan ucapannya atau perbuatannya tanpa Allah mensyari’atkannya maka sungguh dia itu telah mensyari’atkan sesuatu yang tidak diidzinkan oleh Allah dari agama. Dan barangsiapa mengikuti hal itu, sungguh dia telah menjadikan orang tadi sebagai sekutu untuk Allah yang mensyari’atkan dari agama untuk dia sesuatu yang tidak diidzinkan oleh Allah.”
(“Iqtidhoush Shirathil Mustaqim”/2/hal. 84).

Iya, kebid’ahan adalah sebab datangnya siksaan. 

Dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنهما yang berkata:
كان رسول الله ﷺ يقول في خطبته يحمد الله ويثني عليه بما هو له أهل ثم يقول: «من يهد الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له إن أصدق الحديث كتاب الله وأحسن الهدي هدي محمد ﷺ وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار».

Rasulullah ﷺ berkata di dalam khothbah beliau dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya dengan sanjungan yang menjadi milik Allah, lalu beliau bersabda: “Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan oleh-Nya maka tidak ada yang mampu untuk memberinya petunjuk. Dan sesungguhnya sejujur-jujur ucapan adalah Kalamullah, dan sebaik-baik jalan adalah jalan Muhammad ﷺ, sejelek-jelek perkara adalah perkara yang dibuat-buat, dan setiap perkara yang dibuat-buat adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan adalah di Neraka.” (HR. An Nasaiy dalam “Al Kubra” (1786) dan Ibnu Khuzaimah dalam “Ash Shahih” (1785) dengan lafazh ini/shahih).
-------------

( “DAKWAH JANGAN MEMAKAI MUSIK IKUTILAH GENERASI TERBAIK” | Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman Bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy حفظه الله )
---------------

BERMAIN MUSIK ADALAH DOSA BESAR

Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAddailamiy

KEMUDIAN, BERMAIN MUSIK ADALAH DOSA BESAR

Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ الله بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ﴾ [لقمان: 6] .


“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan mendapatkan azab yang menghinakan”.

Al Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: “Cukuplah tafsir dan para Sahabat dan Tabi’in bahwasanya yang dimaksudkan dengan perkataan tidak berguna yang disebutkan di dalam ayat tadi adalah: nyanyian. Tafsir tadi telah shahih dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud.

Abush Shahba berkata: aku bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang firman Allah ta’ala (yang artinya): “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna“, maka beliau menjawab: “Demi Allah Yang mana tiada sesembahan yang benar kecuali Dia, itu adalah nyanyian”. Beliau mengulanginya tiga kali.

Dan telah shahih dari Ibnu Umar رضي الله عنهما juga bahwasanya itu adalah nyanyian”.
(Selesai dari “Ighatsatul Lahfan”/1/hal. 240).

Allah سبحانه وتعالى berfirman terhadap Iblis:

﴿وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا ﴾ [الإسراء: 64] .

“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka”.

Al Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: “... dan dengan sanad ini kepada Jarir: dari Manshur: dari Mujahid yang berkata: “Suara setan adalah seruling”.

Dan beliau –Ibnu Abi Hatim- meriwayatkan dengan sanadnya kepada Al Hasan Al Bashriy yang berkata: “Suara setan adalah gendang”.

Penisbatan suara tadi kepada setan adalah penisbatan pengkhususan, sebagaimana penisbatan pasukan berkuda dan pasukan jalan kaki kepada setan seperti itu.

Maka setiap orang yang berbicara dengan yang bukan berupa ketaatan kepada Allah, dan orang yang bersuara dengan pipa, atau seruling, atau gendang yang haram, atau genderang, maka yang demikian itu adalah suara setan.
Dan semua orang yang berusaha di atas kedua kakinya dalam kemaksiatan kepada Allah; maka dia itu termasuk dari pasukan jalan kaki dari setan. Dan setiap pengendara di dalam kemaksiatan kepada Allah; maka dia itu termasuk dari pasukan berkuda dari setan”.
(Selesai dari “Ighatsatul Lahfan”/1/hal. 256).

Dan dari Abu Amir –atau Abu Malik- Al Asy’ariy رضي الله عنه bahwasanya: dia mendengar Nabi ﷺ bersabda:

«لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ اْلِحرَ وَاْلحَرِيْرَ وَاْلخَمْرَ وَاْلمَعَازِفَ، وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوْحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهمْ يَأْتِيْهِمْ -يَعْنِي الْفَقِيْرُ- لِحَاجَةٍ فَيَقُوْلُوْنَ: اِرْجِعْ إِلَيْنَا غَداً فَيُبَيِّتُهُمُ اللهُ، وَيَضَعُ الْعَلَمَ، وَيَمْسَخُ آخَرِيْنَ قِرَدَةً وَخَنَازِيْرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ».

“Pastilah akan ada dari umatku beberapa kaum yang meminta dihalalkannya perzinaan, sutra, khamr dan alat musik. Dan pastilah beberapa kaum akan singgah di suatu sisi gunung, binatang-binatang ternak mereka pulang kepada mereka, dan ada orang faqir yang mendatangi mereka karena suatu hajat, maka mereka menjawab: “Kembalilah engkau pada kami besok.” Maka Allah menyiksa mereka di malam hari, menimpakan gunung pada mereka, dan merubah sebahagian dari mereka menjadi monyet dan babi sampai Hari Kiamat”. (HR. diriwayatkan oleh Al Bukhariy dalam “Shahih” beliau (5590)).

Juga dari Sahl Bin Sa’d As Sa’idiy رضي الله عنهما yang berkata:
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : «سيكون في آخر الزمان خسف وقذف ومسخ» قيل : ومتى ذلك يا رسول الله ؟ قال : «إذا ظهرت المعازف والقينات واستحلت الخمر». ("المعجم الكبير" /(5810)/مطبعة الزهراء).

Rasulullah ﷺ bersabda: “Akan terjadi di akhir zaman: pembenaman (ke dalam tanah), pelemparan dengan bebatuan, dan perubahan wajah”. Ditanyakan: “Dan bilakah itu terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apabila telah bermunculan alat-alat musik dan para penyanyi perempuan”. (HR. Diriwayatkan Ath Thabraniy dalam “Al Kabir” (5819)/ cet. Mathba’atuz Zahra/shahih lighairih).

Al Allamah Al Munawiy رحمه الله : “Rasulullah mengisyaratkan bahwasanya sikap-sikap yang melampaui batas itu jika telah menguat di suatu kaum, dan mereka menampilkan amalan-amalan yang buruk yang paling keji, mereka akan dibalasi dengan hukuman-hukuman yang paling buruk. Juga mengisyaratkan bahwasanya pahala dan hukuman itu sesuai dengan jenis keburukan dan kebaikan yang ada”. (“Faidhul Qadir”/4/hal. 128).

Juga dari Abu Malik- Al Asy’ariy: dia mendengar Nabi ﷺ bersabda:

«ليشربن أناس من أمتي الخمر يسمونها بغير اسمها ويضرب على رؤوسهم بالمعازف والقينات يخسف الله بهم الأرض ويجعل منهم القردة والخنازير».

“Pastilah sekelompok orang dari umatku akan meminum khamr dalam keadaan mereka menamakannya bukan dengan namanya. Dan akan dimainkan alat-alat musik di hadapan mereka, dan para penyanyi bernyanyi di hadapan mereka, lalu Allah membenamkan mereka ke dalam tanah, dan Allah menjadikan sebagian dari mereka menjadi monyet dan babi-babi”. (HR. Ath Thabraniy dalam “Al Kabir” (3419)/cet. Mathba’atuz Zahra/shahih lighairih).

Dan dari Anas Bin Malik رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
«صَوْتَانِ مَلْعُوْنَانِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ: مِزْمَارٌ عِنْدَ نِعْمَةٍ، وَرَنَّةٌ عِنْدَ مُصِيْبَةٍ».

“Ada dua suara yang terlaknat di dunia dan Akhirat: seruling ketika ada kenikmatan, dan ratapan ketika ada musibah”. (Diriwayatkan oleh Al Bazzar sebagaimana dalam “Kasyful Astar” no. (795), dan dia adalah hadits hasan).

Al Imam Muhammad Bin Ismail Al Amir Ash Shan’aniy رحمه الله berkata: “Dilaknatnya suara tadi adalah ungkapan dari dilaknatnya pelakunya. Atau maksudnya adalah: menjauhkan suara tadi dari rahmat, maka lebih-lebih lagi penuip suara itu”. (“At Tanwir Syarhul Jami’ish Shaghir”/Ash Shan’aniy/7/hal. 8).
-------------

( “DAKWAH JANGAN MEMAKAI MUSIK IKUTILAH GENERASI TERBAIK” | Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman Bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy حفظه الله )
---------------

HUKUM BERMAIN GENDANG DAN KEUMUMAN ALAT MUSIK

Sumber Channel Telegram: @MaktabahFairuzAddailamiy

HUKUM BERMAIN GENDANG DAN KEUMUMAN ALAT MUSIK

Thabl (Gendang) adalah benda yang telah dikenal, alat musik untuk dipukul, punya satu atau dua sisi. (“Lisanul Arab”/11/hal. 398).


Dan bermain thabl (gendang) itu tidak diperbolehkan.

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما: Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيَّ أَوْ حَرَّمَ اْلخَمْرَ وَاْلمَيْسِرَ وَالْكُوْبَةَ».

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan melalui lidahku, atau mengharamkan khamr (minuman yang memabukkan), maisir (perjudian), dan kubah (gendang).”

Sufyan berkata: maka aku bertanya pada Ali bin Budzaimah –salah seorang rawi- tentang kubah, maka beliau berkata: “Thabl (gendang).”
(HR. Ahmad (2476), Abu Dawud (3696) dan Ath Thabraniy dalam “Al Kabir” (12598)/shahih).

Dan dari Abdullah Bin Amr Ibnil Ash رضي الله عنهما yang berkata:
«أَنَّ نَبِيَّ اللهِ ﷺ نَهَى عَنِ اْلخَمْرِ وَاْلَميْسِرِ وَالْكُوْبَةِ».

“Bahwasanya Nabiyullah ﷺ melarang dari khamr, perjudian dan gendang”. (Diriwayatkan oleh Ahmad (6478), Abu Dawud (3697), dan dia adalah hadits shahih).

Abu Sulaiman Al Khaththabiy رحمه الله berkata: dikatakan bahwa Kubah adalah nard (dadu), dan masuk di dalamnya semua watar (dawai), muzhir (semacam rebana tapi punya kerincingan) dan alat-alat permainan yang lainnya.” (sebagaimana dalam “Ma’rifatus Sunan Wal Atsar” /Al Baihaqiy/16/hal. 30).

Al Al Qariy رحمه الله berkata tentang syarh hadits tadi: “Yaitu: dan Allah mengharamkan kubah melalui lidah Rasulullah, yaitu: memukul kubah. Dan kubah adalah gendang kecil.” (“Mirqatul Mafatih”/13/hal. 246).

Al Munawiy رحمه الله berkata: “Dan menjualnya juga batil menurut Asy Syafi’iy. Dan mengambil harganya (uang hasil penjualannya) itu termasuk memakan dengan batil. Dan beliau mengingatkan dengan pengharaman gendang tadi, akan haramnya menjual seluruh alat-alat musik, seperti tambur dan seruling.” (“Faidhul Qadir”/3/hal. 338).

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh رحمه الله setelah menyebutkan hadits tadi dalam rangkaian penyebutan dalil-dalil diharamkannya nyanyian, beliau berkata: “Dan kubah adalah gendang kecil. Ada yang mengatakan: kubah adalah barith (sejenis gitar/rebab), dan dia adalah alat untuk bernyanyi. Adapun para imam yang empat, maka mereka –semoga Allah meridhai mereka semua- tidak diam dari menjelaskan hukum perkara yang munkar tadi.” (“Fatawa Wa Rasail Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh”/10/hal. 173-174).

Al Imam Ibnu Baz رحمه الله setelah menyebutkan hadits tadi, beliau berkata: “Dan hadits-hadits dan atsar-atsar yang banyak telah diriwayatkan tentang tercelanya nyanyian dan alat-alat permainan, yang ucapanku ini tidak cukup untuk menyebutkannya. Dan dalil yang kami sebutkan itu sudah cukup dan memuaskan bagi seorang pencari kebenaran. Dan tidak ada keraguan bahwasanya orang-orang yang menyerukan ditambahkannya nyanyian-nyanyian dan alat-alat permainan dalam siaran berita itu, mereka tertimpa bencana dalam pikiran mereka hingga mereka menganggap bagus perkara yang buruk, dan menganggap buruk perkara yang baik. Dan mereka mengajak pada perkara yang membahayakan mereka dan membahayakan orang lain. Dan mereka tidak menyadari bahaya-bahaya, kerusakan-kerusakan dan kejelekan-kejelekan yang dihasilkan dari perkara tadi. Dan alangkah baiknya firman Allah ta’ala Yang berfirman:

﴿أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ الله عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُون﴾.

“Maka apakah orang yang dihiaskan untuk dirinya amalan buruknya lalu dia memandangnya bagus (sama dengan orang yang terbimbing di jalan yang benar)? Karena sesungguhnya Allah menyesatkan orang yang Dia kehendaki dan membimbing orang yang Dia kehendaki. Maka janganlah jiwamu binasa karena terlalu berduka menyesali keadaan mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.
(selesai dari “Fatawa Ibni Baz”/3/hal. 417).

Sedangkan duff (rebana) adalah sejenis gendang juga, tapi agak kecil.

Ibnu Hajar رحمه الله berkata: “Dan duff adalah yang tidak memiliki  kerincing. Jika dia punya kerincing, maka dia adalah muzhir.” (“Fathul Bari”/2/hal. 441).

Dan wanita boleh memainkannya di hari raya, hari pernikahan dan hari kegembiraan tertentu yang diidzinkan oleh syariat.

عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ قَالَتْ: جَاءَ النَّبِيُّ ﷺ فَدَخَلَ حِيْنَ بُنِيَ عَلَيَّ، فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي فَجَعَلَتْ جُوَيْرِيَّاتٌ لَنَا يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ، وَيَنْدَبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِي يَوْمَ بَدْرٍ إِذْ قَالَتْ إِحْدَاهُنَّ: وَفِيْنَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ. فَقَالَ: «دَعِيْ هَذِهِ وَقُوْلِي بِالَّذِي كُنْتِ تَقُوْلِيْنَ».

Dari ar-Rubayyi' binti Mu'awwidz berkata: Nabi ﷺ datang menemuiku ketika aku dinikahi (seseorang). Lalu beliau duduk di atas tikarku seperti posisi dudukmu di hadapanku ini. Saat itu, ada gadis-gadis kecil sedang menabuh duff (gendang kecil/rebana) sambil bersenandung menyebut-nyebut orang-orang yang terbunuh dari kalangan orangtua kami pada perang Badar. Hingga berkata salah seorang dari gadis kecil itu: "Bersama kami ada Nabi yang mengetahui apa yang bakal terjadi besok". Maka Nabi ﷺ segera berkata: "Janganlah kamu mengatakan begitu. Tapi cukup katakan apa yang kamu katakan sebelumnya". (HR. Al Bukhariy (5147)).

Al ‘Allamah Muhammad Abdirrahman Al Mubarakfuriy رحمه الله berkata: “Juwairiyyatain” dengan pola kecil (dua gadis kecil). Ada yang mengatakan: yang dimaksudkan adalah: anak-anak kecil Anshar, bukan hamba sahaya. “Mereka memukul duff mereka”. Dikatakan bahwasanya para anak-anak tadi belum mencapai batasan syahwat, dan duff mereka itu tidak disertai dengan kerincing.” (“Tuhfatul Ahwadziy”/4/hal. 179).

عَنْ عَائِشَةَ -رضي الله عنها-: أَنَّ أَبَا بَكْرٍ -رضي الله عنه- دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا جَارِيَتَانِ فِي أَيَّامِ مِنَى تُدَفِّفَانِ وَتَضْرِبَانِ، وَالنَّبِيُّ ﷺ مُتَغَشٍّ بِثَوْبِهِ، فَانْتَهَرَهُمَا أَبُوْ بَكْرٍ، فَكَشَفَ النَّبِيُّ ﷺ عَنْ وَجْهِهِ فَقَالَ: «دَعْهُمَا يَا أَبَا بَكْرٍ، فَإِنَّهَا أَيَّامُ عِيْدٍ». وَتِلْكَ الْأَيَّامُ أَيَّامُ مِنَى.

Dari 'Aisyah رضي الله عنها, bahwa Abu Bakr رضي الله عنه pernah masuk menemuinya pada hari-hari saat di Mina (Tasyriq). Saat itu ada dua anak wanita yang sedang bermain duff (rebana), sementara Nabi ﷺ menutupi wajahnya dengan kain. Kemudian Abu Bakr melarang dan menghardik kedua anak gadis itu, maka Nabi ﷺ menyingkap kain yang menutupi wajah beliau seraya bersabda: "Biarkanlah keduanya wahai Abu Bakar. Karena ini adalah Hari 'Ied." Hari-hari itu adalah hari-hari Mina (Tasyriq)." (HR. Al Bukhariy (987) dan Muslim (892)).

Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata dalam membantah orang yang membolehkan rebana secara umum: “Dan telah datang dalil yang lebih pasti dari sisi sanad tentang dikhususkannya pembolehan rebana itu pada hari-hari raya dan hari pernikahan saja”. (“At Tamhid”/22/hal. 199).

Juga di hari kegembiraan yang besar, dan dilakukan oleh wanita yang diperkirakan kita itu aman dari fitnah mereka.

Dari Buraidah رضي الله عنه berkata:
خَرَجَ رسولُ الله ﷺ فِي بَعْضِ مَغَازِيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ جَاءَتْ جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ فَقَالَتْ: يَا رسولَ اللهِ، إِنِّي كُنْتُ نَذَرْتُ إِنْ رَدَّكَ اللهُ صَالِحاً أَنْ أَضْرِبَ بَيْنَ يَدَيْكَ بِالدُّفِّ وَأَتَغَنَّى. فَقَالَ لَهاَ رسولُ اللهِ ﷺ: «إِنْ كُنْتِ نَذَرْتِ فَاضْرِبِي، وَإِلَّا فَلَا». فَجَعَلَتْ تَضْرِبُ. فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَهِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عَلِيٌّ وَهِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ وَهِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَأَلْقَتِ الدُّفَّ تَحْتَ اسْتِهَا، ثُمَّ قَعَدَتْ عَلَيْهِ، فَقَالَ رسولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَخَافُ مِنْكَ، يَا عُمَرُ إِنِّي كُنْتُ جَالِساً، وَهِيَ تَضْرِبُ فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَهِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عَلِيٌّ وَهِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ وَهِيَ تَضْرِبُ، فَلَمَّا دَخَلْتَ أَنْتَ يَا عُمَرُ أَلْقَتِ الدُّفَّ».

“Rasulullah ﷺ pernah keluar di sebagian peperangan beliau. Manakala beliau pulang, datanglah seorang hamba sahaya berkulit hitam seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya telah bernadzar jika Allah mengembalikan Anda dengan selamat, saya akan memukul rebana di hadapan Anda dan saya bernyanyi”.

Maka Rasulullah ﷺ berkata padanya: “Jika engkau telah bernadzar, maka silakan memukul rebana itu, tapi jika tidak, maka jangan.” Maka mulailah dia memukul rebana. Lalu Abu Bakr masuk, dalam keadaan di wanita tadi memukul rebana. Lalu masuklah Ali, dalam keadaan di wanita tadi memukul rebana. Lalu masuklah Utsman, dalam keadaan di wanita tadi memukul rebana. Lalu masuklah Umar, maka wanita itu melemparkan rebananya ke bawah pantatnya, lalu dia duduk di atas rebananya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Setan itu benar-benar takut kepadamu wahai Umar. Sungguh aku tadi duduk, dalam keadaan di wanita tadi memukul rebana. Lalu masuklah Abu Bakr, dalam keadaan di wanita tadi memukul rebana. Lalu masuklah Ali , dalam keadaan di wanita tadi memukul rebana. Lalu masuklah Utsman, dalam keadaan di wanita tadi memukul rebana. Lalu masuklah engkau wahai Umar, maka dia melemparkan rebana tadi.” (HR. Ahmad (23039), At Tirmidziy (3690)/shahih).

Al Khaththabiy رحمه الله berkata: “Memukul rebana bukanlah termasuk perkara yang terhitung di dalam bab ketaatan pada Allah yang terkait dengan nadzar. Kondisi terbaiknya adalah bahwasanya dia itu masuk dalam bab mubah. Hanya saja manakala dia berhubungan dengan ditampakkannya kegembiraan dengan kepulangan Rasulullah ﷺ ketika beliau tiba dari sebagian peperangan beliau, dan amalan tadi membuat orang-orang kafir kecewa, dan kaum munafiqin jengkel, jadilah penabuhan rebana tadi seperti sebagian pendekatan diri pada Allah. Oleh karena itulah maka disukai penabuhan rebana dalam acara pernikahan karena di dalamnya ada penampakan kegembiraan dan keluar dari makna perzinaan yang tidak jelas. Dan termasuk yang menyerupai kasus ini adalah sabda Nabi ﷺ tentang menghujat orang kafir:

«اُهْجُوا قُرَيْشاً فَإِنَّهُ أَشَدُّ عَلَيْهِمْ مِنْ رِشْقِ النَّبْلِ».

“Hujatlah Quraisy, karena hujatan (yaitu hantaman dengan syair) itu lebih keras bagi mereka daripada tembakan panah.”
(Selesai dari “Aunul Ma’bud”/Abuth Thayyib Abadiy/9/hal. 100).

Dan tidak ada keraguan bahwasanya menabuh rebana itu khusus bagi wanita: anak kecil atau wanita yang dirasa tidak menimbulkan fitnah.

Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Dan telah diketahui dengan pasti dari agama Islam bahwasanya Nabi ﷺ tidak mensyariatkan untuk orang-orang shalih dari umat beliau, para ahli ibadah mereka dan para ahli zuhud mereka untuk berkumpul demi mendengarkan dan menyimak bait-bait yang dilagukan, disertai dengan tepuk tangan atau pukulan stik, atau duff (rebana), sebagaimana beliau tidak membolehkan seseorang untuk tidak mengikuti beliau dan tidak mengikuti apa yang datang dari Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah), baik dalam perkara batin ataupun perkara lahiriyyah, baik untuk orang awam ataupun juga untuk orang khusus. Akan tetapi Nabi ﷺ memberikan keringanan para beberapa jenis permainan dalam pernikahan dan semisalnya, sebagaimana beliau memberikan keringanan pada para wanita untuk menabuh rebana dalam pernikahan dan kegembiraan-kegembiraan. Adapun para pria pada zaman Nabi, maka tidak ada seorangpun dari mereka yang menabuh rebana, ataupun bertepuk tangan, dan bahkan telah pasti dalam hadits shahih bahwasanya Nabi bersabda:

«التَصْفِيْقُ لِلنِّسَاءِ، وَالتَّسْبِيْحُ لِلرِّجَالِ»،

“Bertepuk tangan adalah untuk para wanita, dan bertasbih adalah untuk para pria.”
Dan:

«لَعَنَ اْلمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ، وَاْلمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ».

“Rasulullah ﷺ melaknat para lelaki yang menyerupakan diri dengan perempuan, dan para perempuan yang menyerupakan diri dengan lelaki.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhariy (5885) dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما).

Dan manakala nyanyian dan menabuh rebana dan telapak tangan adalah termasuk dari amalan para wanita, dulu para Salaf menamakan para lelaki yang melakukan itu sebagai MUKHANNATS (bencong/pondan), dan mereka menamakan para lelaki yang bernyanyi sebagai MAKHANITS (para bencong). Dan ini terkenal di dalam ucapan para Salaf. Dan masuk di dalam bab ini adalah hadits Aisyah رضي الله عنها: bahwa Abu Bakr رضي الله عنه pernah masuk menemuinya pada hari-hari ‘Id dalam keadaan di samping Aisyah ada dua anak wanita Anshar yang sedang bernyanyi dengan ucapan-ucapan orang Anshar saat perang Bu’ats. Kemudian Abu Bakr berkata: “Apakah seruling setan ada di rumah Rasulullah ﷺ?” sementara itu Nabi ﷺ tadinya memalingkan wajah beliau dari kedua gadis tadi, dan menghadapkan wajah beliau yang mulia ke dinding, lalu beliau  bersabda: "Biarkanlah keduanya wahai Abu Bakar. Karena setiap kaum itu punya hari ‘Id, dan ini adalah Hari 'Ied kita kaum Muslimin."

Maka di dalam hadits ini ada penjelasan bahwasanya bukanlah termasuk adat Nabi ﷺ dan para Shahabat beliau untuk berkumpul mendengarkan permainan tadi. Oleh karena itulah maka Ash Shiddiq menamakan hal itu sebagai SERULING SETAN. Dan Nabi ﷺ membiarkan kedua gadis kecil tadi berbuat itu dengan alasan bahwasanya saat itu adalah hari ‘Id. Dan anak-anak kecil diberi keringanan untuk bermain di hari-hari Id, sebagaimana di dalam hadits:

«لِيَعْلَمَ اْلمُشْرِكُوْنَ أَنَّ فِي دِيْنِنَا فُسْحَةً»،

“Agar kaum musyrikin mengetahui bahwasanya di dalam agama kita itu ada kelapangan.”

Dan dulu ‘Aisyah punya mainan yang dengannya dia bermain, dan teman-temannya dari kalangan perempuan yang masih kecil datang dan bermain bersamanya. Dan tidak ada di dalam hadits dua gadis kecil tadi berita bahwasanya Nabi ﷺ menyimak permainan mereka, sementara perintah dan larangan itu hanyalah terkait dengan penyimakan, bukan sekedar pendengaran.”
(selesai dari “Majmu’ Fatawa”/11/hal. 565-566).

Al Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: “Maka Rasulullah ﷺ itu tidaklah mengingkari Abu Bakr yang menamai nyanyian itu sebagai seruling setan. Dan Nabi membiarkan kedua gadis kecil tadi karena keduanya adalah dua anak kecil yang belum terbebani syariat, menyanyi dengan nyanyian badui yang diucapkan pada hari perang Bu’ats, yang menceritakan keberanian dan peperangan. Dan pada hari itu adalah hari ‘Id. Lalu tentara setan memperluas area amalan tadi sampai pada menggunakan suara wanita cantik yang bukan mahram, atau suara anak lelaki yang belum tumbuh jenggotnya, suaranya adalah fitnah, dan wajahnya adalah fitnah, dia bernyanyi mengajak pada perzinaan, kemaksiatan dan pada minuman khamr, disertai dengan alat-alat musik yang diharamkan oleh Rasulullah ﷺ di sekian banyak hadits, sebagaimana akan datang penyebutannya, disertai dengan bertepuk tangan dan menari. Maka itu adalah bentuk kemungkaran yang tidak dihalalkan oleh satu orangpun dari pemeluk agama, lebih-lebih lagi pemilik ilmu dan keimanan.

Dan mereka berdalilkan dengan nyanyian dua gadis kecil yang belum terbebani syariat yang mengumandangkan nasyid-nasyid badui dan semisalnya yang berisi keberanian dan semisalnya, pada hari ‘Id tanpa ada rayuan/godaan ataupun rebana ataupun tarian ataupun tepuk tangan di dalamnya.

Mereka meninggalkan dalil yang jelas dan terang untuk mendapatkan dalil yang masih samar-samar ini. Dan itulah sifat setiap ahli batil.

Iya, kami tidak mengharamkan dan tidak memakruhkan amalan semisal yang dikerjakan di rumah Rasulullah ﷺ dalam bentuk tadi. Dan kami dengan seluruh pemilik ilmu dan keimanan hanyalah mengharamkan nyanyian yang menyelisihi isi hadits tadi. Dan hanya dengan pertolongan Allah sajalah kita mendapatkan taufiq.”
(selesai dari “Ighatsatil Lahfan”/1/hal. 257).

Ucapan Al Imam Ibnul Qayyim sangat benar dan bagus, hanya saja untuk ucapan beliau: “Tanpa ada rebana”, maka yang benar dalam hadits tadi adalah: para gadis kecil tadi memainkan rebana.

Dan Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله dalam bantahan beliau pada orang yang berkata tentang bolehnya lelaki memainkan rebana, beliau berkata: “... hadits-hadits yang kuat di dalamnya ada idzin untuk wanita memainkan rebana. Dan para lelaki tidaklah dimasukkan ke dalam urusan para wanita karena adanya dalil umum yang melarang lelaki menyerupai wanita.” (“Fathul Bari”/9/hal. 226).
------------------------

( “DAKWAH JANGAN MEMAKAI MUSIK IKUTILAH GENERASI TERBAIK” | Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman Bin Soekojo Al Indonesiy Al Jawiy حفظه الله )
---------------

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin (Bab 50: Takut Kepada Allah) #Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin

Mukaddimah Bab 50: Takut kepada Allooh

Audio 1:


Audio 2:


Audio 3:


Audio 4:


Audio 5:


Audio 6:


Audio 7:


Audio 8:


Audio 9:


📣Oleh Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin soekojo Al Indonesiy Al Jawiy Al Qudsiy حفظه الله

Allooh Ta'ala berfirman,

Al-Baqarah (البقرة) / 2:40,

ْوَإِيَّٰىَ فَٱرْهَبُونِ

"Dan takutlah kepada-Ku saja."

Al-Buruj (البروج) / 85:12,

إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

"Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras."

Surah Hud : 102-106,

وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ (102) إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّمَنْ خَافَ عَذَابَ الْآخِرَةِ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوعٌ لَّهُ النَّاسُ وَذَٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُودٌ (103) وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلَّا لِأَجَلٍ مَّعْدُودٍ (104) يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ (105) فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ (106) [هود : 102-106]

Dan demikianlah azab Tuhanmu, apabila ia menimpa (penduduk) negeri-negeri yang berlaku zalim. Sesungguhnya azabNya itu tidak terperi sakitnya, lagi amat keras serangannya. Sesungguhnya pada kejadian yang demikian, ada tanda (yang mendatangkan iktibar) bagi orang yang takut kepada azab akhirat, iaitu hari yang dihimpunkan manusia padanya. Dan hari yang demikian ialah hari yang dihadiri oleh sekalian makhluk. Dan tiadalah Kami lambatkan hari kiamat itu melainkan untuk suatu tempoh yang tertentu.(Pada) masa datangnya (hari kiamat itu), tiadalah seorangpun dapat berkata-kata (untuk membela dirinya atau memohon pertolongan) melainkan dengan izin Allah. Maka di antara mereka ada yang celaka, dan ada pula yang berbahagia.  Adapun orang-orang yang celaka (disebabkan keingkaran dan maksiatnya), maka di dalam nerakalah tempatnya. Bagi mereka di situ, hanyalah suara memekik-mekik dan mendayu-dayu (seperti suara keldai).

Ali 'Imran (آل عمران) / 3:28,

 وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفْسَهُۥ 

"Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya."

Surah Abasa : 34 - 37,

{يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37)} [عبس : 34-37]

"Pada hari seseorang itu lari dari saudaranya, dan ibunya serta bapanya, dan isterinya serta anak-anaknya. Kerana tiap-tiap seorang dari mereka pada hari itu, ada perkara-perkara yang cukup untuk menjadikannya sibuk dengan hal dirinya sahaja."

Surah Al-Hajj : 1- 2,

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ (1) يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَىٰ وَمَا هُم بِسُكَارَىٰ وَلَٰكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ (2)} [الحج : 1-2]

"Wahai umat manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kamu! Sesungguhnya gempa hari kiamat itu suatu perkara yang amat besar. Pada hari kamu melihat (peristiwa-peristiwa yang mengerikan) itu, tiap-tiap ibu penyusu akan melupakan anak yang disusukannya, dan tiap-tiap perempuan yang mengandung akan gugurkan anak yang dikandungnya; dan engkau akan melihat manusia mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, tetapi azab Allah amatlah berat, mengerikan."

Surah Ath-Thur : 25 - 28,

{وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ (25) قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ (26) فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ (27) إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلُ نَدْعُوهُ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ (28)} [الطور : 25-28]

"Dan (dengan berada dalam nikmat itu) mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bertanya-tanya. Mereka berkata: "Sesungguhnya kami dahulu, semasa berada dalam kalangan keluarga kami - selalu merasa cemas takut (daripada berlaku derhaka kepada Allah), Maka Allah mengurniakan kami (rahmat dan taufiqNya), serta memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu tetap menyembahNya (dan memohon pertolonganNya). Kerana sesungguhnya Dia lah sahaja yang sentiasa melimpahkan ihsanNya, lagi Yang Maha Mengasihani."

Audio didapatkan dari Al Akh Wan Perwira Wan Adam Al Malizy حفظه الله

Semoga mendapat faedah-faedah dan manfaatnya

إن شاء الله

بارك الله فيكم
Sumber Channel Telegram: رياض الصالحين

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin (Bab 49 : Memvonis hukum kepada seseorang berdasarkan zhahirnya (fakta dan bukti) adapun hal-hal yang tersembunyi diserahkan kepada Allooh) #5

بسم الله الرحمن الرحيم

Kajian Kitab Riyadhus Shalihin

Bab 49: Memvonis hukum kepada seseorang berdasarkan zhahirnya (fakta dan bukti) adapun hal-hal yang tersembunyi diserahkan kepada Allooh


📣Oleh Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin soekojo Al Indonesiy Al Jawiy Al Qudsiy حفظه الله

Hadits 5

وَعَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُتْبَةَ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنَّ أُنَاسًا كَانُوا يُؤْخَذُونَ بِالْوَحْيِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّ الْوَحْيَ قَدْ انْقَطَعَ وَإِنَّمَا نَأْخُذُكُمْ الْآنَ بِمَا ظَهَرَ لَنَا مِنْ أَعْمَالِكُمْ فَمَنْ أَظْهَرَ لَنَا خَيْرًا أَمِنَّاهُ وَقَرَّبْنَاهُ وَلَيْسَ إِلَيْنَا مِنْ سَرِيرَتِهِ شَيْءٌ اللَّهُ يُحَاسِبُهُ فِي سَرِيرَتِهِ وَمَنْ أَظْهَرَ لَنَا سُوءًا لَمْ نَأْمَنْهُ وَلَمْ نُصَدِّقْهُ وَإِنْ قَالَ إِنَّ سَرِيرَتَهُ حَسَنَةٌ

Dari 'Abdullah bin 'Utbah berkata, aku mendengar 'Umar bin Al Khaththob radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya orang-orang telah mengambil wahyu (sebagai pedoman) pada masa hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan hari ini wahyu sudah terputus. Dan hari ini kita menilai kalian berdasarkan amal amal yang nampak (zhahir). Maka siapa yang secara zhahir menampakkan perbuatan baik kepada kita, kita percaya kepadanya dan kita dekat dengannya dan bukan urusan kita apa yang tersembunyi darinya karena hal itu sesuatu yang menjadi urusan Allah dan Dia yang akan menghitungnya. Dan siapa yang menampakkan perbuatan yang jelek kepada kita, maka kita tidak percaya kepadanya dan tidak membenarkannya sekalipun dibalik itu ada yang mengatakan baik".

Shahih Al-Bukhari (2641)

Audio didapatkan dari Al Akh Wan Perwira Wan Adam Al Malizy حفظه الله

Semoga mendapat faedah-faedah dan manfaatnya

إن شاء الله

بارك الله فيكم
Sumber Channel Telegram: رياض الصالحين

Kitab "Jawaban Yang Disyariatkan tentang Hadits dan Pemahaman"

بسم الله الرحمن الرحيم.
الحمد لله رب العالمين.

Telah tercetak buku berjudul "Jawaban Yang Disyariatkan tentang Hadits dan Pemahaman" Yang berisi jawaban-jawaban terhadap sebagian pertanyaan para ikhwah yang terkait dengan status hadits-hadits dan pemahamannya. 


Pembukaan berisi dorongan para imam Ahlussunnah Wal Jama'ah untuk mempelajari hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم, dengan penyebutan kitab-kitab rujukan utama.

Selanjutnya:
Bab Satu: Kondisi Hadits Ali رضي الله عنه Tentang Dibolehkannya Shalat Setelah Shalat Asar.

Bab Dua: Status Kisah Dhabb Si Badui Bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم
Pasal Satu: Status Hadits Dhabb .
Pasal Dua: Dalil-dalil Yang Pasti Tentang Ucapan Dan Perbuatan Para Hewan Yang Di Dalamnya Ada Dalil Kenabian Muhammad صلى الله عليه وسلم .

Bab Tiga: Sebagian Kerumitan Seputar Hadits Palsu.

Bab Empat: Status Hadits: *“Jika datang orang yang kalian ridhai agamanya dan akhlaqnya, maka nikahkanlah dia.”*

Bab Lima: Dalil-dalil Yang Membahas Tentang Memakai Cincin Dari Emas, Atau Perak, Atau Besi Atau Yang Lainnya.
Pasal Satu: Hukum Memakai Cincin Emas.
Pasal Dua: Memakai cincin dari perak
Pasal Tiga: Posisi cincin di tangan kanan ataukah tangan kiri.
Pasal Empat: Posisi Cincin di jari yang mana?
Pasal Lima: Pahatan Pada Cincin
Pasal Enam: Posisi Batu Cincin.
Pasal Tujuh: Hukum Memakai Cincin Dari Besi.
Pasal Delapan: Hukum Memakai Cincin Akik, Mutiara Atau Batu Mulia.
Pasal Sembilan: Ukuran satu mitsqal.
Pasal Sepuluh: Hadits Tentang Keutamaan Memakai Cincin Akik.
Pasal Sebelas: Memakai Cincin Untuk Kekuatan Gaib.

Bab Enam: Hadits Tentang Keutamaan Surat Al Hasyr.

Bab Tujuh: Hadits Tentang Keutamaan Memberikan Minum.

Bab Delapan: Adakah Dalil Tentang Keutamaan Bulan Rajab?

Bab Sembilan: Dalil Untuk Menjauhi Memakan Makanan Hingga Berkurang Panasnya.

Bab Sepuluh: Menghidupkan Malam Raya.

Bab Sebelas: Nama Allah “Ad Dayyan”.

Bab Dua Belas: Shalawat Pagi Dan Petang.

Bab Tiga Belas: Usia Empat Puluh Ataukah Enam Puluh Tahun?

Bab Empat Belas: Adakah Dalil Shahih Bahwa Yasin Dan Thaha Itu Termasuk Dari Nama Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم?

Bab Lima Belas: Atsar Ibnu Abbas Tentang Shalatnya Wanita Yang Suci Dari Haid Setelah Masuk Waktu Asar.

والله تعالى أعلم بالصواب.
والحمد لله رب العالمين.
-----------------------

Spec :
Hardcover 161 halaman
Jilid Jahit

Pesan Sekarang
⇓⇓⇓
Untuk pemesanan klik gambar


Rodja, Dzulkarnaen, Lukman Baabduh BUKAN AHLUSSUNNAH

Sumber Channel Telegram: @MaktabahFairuzAdDailamiy

Rodja, Dzulkarnaen, Lukman Baabduh BUKAN AHLUSSUNNAH 

Dauroh Pare²

( Dijawab Oleh: Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy حفظه الله )

Menyikapi Perselisihan Antar Ulama

Sumber Channel Telegram: @MaktabahFairuzAdDailamiy

Menyikapi Perselisihan Antar Ulama

Dauroh Pare²


( Dijawab Oleh: Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy حفظه الله )

Maksiat Kala Sendiri

Sumber Channel Telegram: @MaktabahFairuzAdDailamiy

Maksiat Kala Sendiri

Dauroh Pare²


( Dijawab Oleh: Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy حفظه الله )

Syubuhat; Video Seperti Cermin

Sumber Channel Telegram: @MaktabahFairuzAdDailamiy

Syubuhat; Video seperti Cermin

Dauroh jogja



( Dijawab Oleh: Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy حفظه الله )

Ngaji Disana dan Disini

Sumber Channel Telegram: @MaktabahFairuzAdDailamiy

Ngaji Disana dan Disini

Dauroh jogja



( Dijawab Oleh: Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy حفظه الله )

Kitab "Dakwah Jangan Memakai Musik, Ikuti Gerenasi Terbaik”

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين

Dengan pertolongan Alloh semata telah tercetak buku “Dakwah Jangan Memakai Musik, Ikuti Gerenasi Terbaik”, yang berisi:


Bab Satu: Hukum Bermain Gendang Dan Keumuman Alat Musik.

Bab Dua: Penjelasan Tentang Sempurnanya Islam dan Menyeluruhnya Syari’at Islam.

Bab Tiga: Perintah Untuk Mengikuti Rasul ﷺ dan Larangan Dari Membuat Kebid’ahan Di Dalam Agama Ini.

Bab Empat: Wajibnya Ikuti Pemahaman Dan Cara Beragama Generasi Terbaik.

Pasal Satu: Keutamaan Sahabat Dan Wajibnya Mengikuti Mereka.
Pasal Dua: Definisi Bid’ah.
Pasal Tiga: Tidak Boleh Berdakwah Dengan Memakai Musik.

Bab Lima: Setiap Perkara Agama Harus Ada Salafnya.

Bab Enam: Langkah Yang Tepat Dalam Menentukan Pendapat Yang Benar.

Bab Tujuh: Celakanya Orang Yang Mencari-cari Pendapat Paling Ringan Karena Sesuai Hawa Nafsu.

والحمد لله رب العالمين.

Spec :
Hardcover 83 halaman
Jilid Jahit

Pesan Sekarang
⇓⇓⇓
Untuk pemesanan klik gambar