Al Fatawa Al Hamawiyah (method salaf dalam menetapkan ketinggian Allah)
Al Fatawa Al Hamawiyah
Dibahaskan oleh Asy Syeikh Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Qudsiy Al Indonesiy Al Jawiy.
D024: 12/09/2018
Bismillah. Dengan memohon pertolongan Nya.
Ringkasan:
Kembali kepada matan pg 58: berkata imam ibnu taimiyah rahimahullah taala:
sebagaimana Allah telah menfitrahkan seluruh umat di atas keyakinin ini semuanya baik yang Arab atau yang ajam semuanya di fitrahkannya seperti ini di masa jahiliyah dan di masa islam kecuali orang yang telah di sambar oleh syaitan.
Catatan kaki:
dari Iyaz ibnu himar al majasyaie rodhiallahuanhu bahawasanya Rasulullah salallah alaihi wasalam pada suatu hari bersabda di dalam khutbah beliau: ketahuilah sesungguhnya Rabb ku memerintahkan diri ku untuk mengajari kalian perkara yang kalian tidak tahu dari apa yang Allah ajarkan kepada ku iaitu pada hari ini aku diperintahkan untuk mengajarkan berbagai perkara; seluruh harta yang aku berikan kepada seorang hamba maka itu adalah halal dan sungguh Aku menciptakan para hamba Ku dalam keadaan mereka itu lurus iaitu mereka semua dan sesungguhnya mereka itu akan di datangi oleh para syaitan. syaitan mengharamkan kepada mereka apa yang Aku halalkan untuk mereka dan para syaitan memerintahkan mereka untuk berbuat syirik kepada Ku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan argumentasi tentang nya dan sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi, lalu Allah murka kepada mereka semua baik yang Arab atau yang ajam kecuali sisa2 dari ahli kitab dan Allah taala berfirman kepada ku: sesungguhnya Aku mengutus mu wahai Rasulullah untuk aku menguji mu dan menguji para hamba Ku dengan diri mu dan aku turunkan kepada mu sebuah kitab yang tidak akan di cuci oleh air, engkau mampu membacanya dalam keadaan tidur ataupun terjaga. riwayat muslim.
Kembali kepada matan:
Tajuk: method salaf dalam menetapkan ketinggian Allah dan penyebutan kerancuan2 yang di tebarkan oleh mubtadi'ah.
Berkata sheikhul islam rahimahullah taala: kemudian datang pendapat2 dari para salaf tentang masalah ketinggian Allah yang seandainya atsar2 dan ucapan2 salaf tadi dikumpulkan nescaya akan mencapai ratusan atau ribuan baik itu secara nas atau secara zohir dan sama sekali tidak ada seorang pun dari mereka yang berkata bahawasanya Allah itu tidak di langit atau mengatakan sesungguhnya Allah tidak di atas Arash tidak pula mengatakan Allah dengan zat Nya di seluruh tempat, tidak pula mengatakan bahawasanya seluruh tempat bagi Allah taala itu sama saja dan tidak ada seorang dari salaf mengatakan Allah tidak di dalam alam tidak pula Allah di luar alam, tidak ada yang mengatakan Allah taala itu tidak bersambung dengan alam dan tidak terpisah dari alam. tidak ada seorang pun salaf yang mengatakan tidak boleh mengisyaratkan dengan jari kepada Allah taala.
Catatan kaki: (52)
Ini semua adalah pendapat2 ahli kalam. Berkata sheikhul islam rahimahullah : ada pun orang2 yang tidak mensifati Allah kecuali dengan peniadaan pada hakikatnya mereka tidak menetapkan adanya sesembahan yang terpuji bahkan hakikatnya mereka tidak menetapkan Allah itu punya sifat wujud. demikian pula orang yang berkongsi dengan mereka di sebahagian aqidah seperti ini seperti orang yang mengatakan Allah tidak berbicara dan Allah taala tidak di lihat, atau Allah taala bukanlah di atas alam atau Allah taala itu tidak istiwa di atas Arash, mereka mengatakan Allah tidak di dalam alam, tidak pula di luar alam, Allah taala tidak terpisah dari alam dan tidak pula Allah taala itu di sisi alam. Kerana sifat2 yang semacam ini mungkin sesuatu yang makdum di sifati dengan semacam itu dan bukanlah sifat2 yang semacam tadi hakikatnya ia bukan sifat yang mengharuskan ketetapan.
Oleh sebab itulah Mahmud sababtaqim rahimahullah, beliau berkata kepada orang yang mengclaimed seperti itu pada sang pencipta, bezakan untuk kami antara Rabb yang engkau sebutkan macam ini yang engkau tetapkan itu dengan sesuatu yang tidak ada. demikian pula kondisi Allah yang tidak berbicara atau Dia tidak turun, tidak ada di situ sifat pujian sementara ayat2 yang menyebutkan tentang firman Allah dan tidak pula sebagai kesempurnaan bahkan sifat2 yang mereka datangkan tadi bahkan menyerupakan Allah dengan sesuatu yang tidak ada kerana sifat2 yang mereka datangkan tadi itu sebahagiannya tidak di miliki kecuali oleh sesuatu yang makdum dan di antara sifat2 tadi tidak dimiliki kecuali oleh benda2 mati atau benda yang punya kekurangan kekurangan (dan Allah tersucikan dari itu semua). maka barangsiapa mengatakan Allah tidaklah terpisah dari alam, tidak pula Allah taala itu masuk ke alam bererti dia seperti orang yang mengatakan Allah tidak mandiri dan Allah tidak pula tergantung kepada yang lain. apakah Allah itu sesuatu yang lama, apakah Allah itu sesuatu yang baru. Allah tidak pula lebih dulu dari alam semesta, Allah tidak pula bersamaan dengan alam semesta dan orang tang mengatakan ; Allah tidak hidup tapi juga tidak mati. Allah taala tidak melihat tidak pula mendengar, Allah tidak pula berbicara. Selesai dari majmu fatawa.
Sumber Channel Telegram: Al Fatawa Al Hamawiyah






























