BAGAIMANA CARA AGAR SAKIT YANG MENIMPA KITA BISA BENAR² MENJADI PENGGUGUR DOSA?
Pertanyaan :
Assalamualaikum Syaikh
Bismillah
Syaikh, bagaimana cara agar sakit yang menimpa kita bisa benar-benar menjadi : *Penggugur dosa-dosa, tanpa terkecuali* (selain kesyirikan)
Jazakallah khairan Syaikh
------------------
Jawaban dengan memohon pertolongan pada Allah ta'ala :
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.
Hendaknya kita berbaik sangka pada Allah, dan meyakini musibah-musibah itu menimpa karena banyaknya dosa-dosa kita, dan bahwasanya Allah telah memilihkan untuk kita yang terbaik dengan musibah-musibah ini.
Jika kita berkeluh kesah, maka musibah akan merugikan kita. Jika kita bersabar dan ridha, maka dosa kita akan diampuni, dan kita akan diridhai serta mendapatkan pahala.
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
»مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ«.
"Barangsiapa Allah menginginkan baginya kebaikan dikenakan padanya cobaan." (HR. Al Bukhariy (5645)).
Dari Al Aswad رحمه الله yang berkata:
دَخَلَ شَبَابٌ مِنْ قُرَيْشٍ عَلَى عَائِشَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهَا- وَهِيَ بِمِنًى وَهُمْ يَضْحَكُوْنَ، فَقَالَتْ: مَا يُضْحِكُكُمْ؟ قَالُوا: فُلَانٌ خَرَّ عَلَى طَنَبِ فُسْطَاطٍ فَكَادَتْ عُنُقُهُ أَوْ عَيْنُهُ أَنْ تَذْهَبَ. فَقَالَتْ: لَا تَضْحَكُوْا، فَإِنِّي سَمِعْتُ رسولَ اللهِ ﷺ قَالَ: «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةً وَمُحِيَتْ عَنْهُ خَطِيْئَةً».
“Beberapa pemuda dari Quraisy masuk mengunjungi ‘Aisyah رضي الله عنها ketika beliau ada di Mina, dalam keadaan mereka tertawa. Maka ‘Aisyah bertanya: “Apa yang membuat kalian tertawa?” Mereka menjawab: “Si Fulan jatuh tertelungkup di atas tali kemah, hampir-hampir lehernya atau matanya hilang.” Maka beliau berkata: “Janganlah kalian tertawa. Karena sesungguhnya aku mendengar Rosululloh ﷺ berkata: “Tiada seorang muslim pun yang tertusuk duri atau yang lebih besar daripada itu, kecuali ditulis untuknya satu derajat, dan dihapus darinya satu kesalahan.” (HR. Muslim (2572)).
Al Imam An Nawawiy رحمه الله berkata: “Di dalam hadits-hadits ini ada kabar gembira yang amat besar bagi kaum muslimin, bahwasanya jarang sekali seseorang itu terlepas dari musibah-musibah ini sesaat saja. Dan di dalamnya ada penghapusan kesalahan-kesalahan, dengan sebab penyakit-penyakit, musibah-musibah duniawi dan kesedihannya, sekalipun kesulitan tadi hanya sedikit saja. Dan di dalamnya ada peningkatan derajat-derajat dengan sebab perkara-perkara tadi, dan tambahan kebaikan-kebaikan. Dan inilah pendapat yang benar dari mayoritas ulama.” (“Al Minhaj”/16/hal. 364).
Dari Anas bin Malik رضي الله عنه : dari Rasulullah ﷺ bahwasanya bersabda:
«إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ».
“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum; Dia akan menguji mereka. Barangsiapa meridhai; maka dia akan mendapatkan keridhaan, dan barangsiapa marah-marah; maka dia akan mendapatkan kemarahan.” (HR. At Tirmidziy (2396) dan Ibnu Majah (4031)/hadits hasan).
Syaikhul Islam رحمه الله berkata: “Jika seorang Mukmin mengetahui bahwasanya takdir itu lebih baik baginya jika dia itu banyak sabar dan banyak bersyukur, atau dia telah istikharah pada Allah dan mengetahui bahwasanya keberuntungan anak Adam itu ada pada istikharah pada Allah dan rasa ridhanya pada pembagian dari Allah untuknya; dia telah ridha pada sesuatu yang lebih baik untuknya.
Dan di dalam hadits shahih dari Ali رضي الله عنه :
«إِنَّ اللهَ يَقْضِي بِالْقَضَاءِ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ».
“Sesungguhnya Allah menetapkan takdir. Barangsiapa meridhai; maka dia akan mendapatkan keridhaan, dan barangsiapa marah-marah; maka dia akan mendapatkan kemarahan.”
Maka di dalam hadits ini ada keridhaan dan istikharah. Keridhaan itu setelah datangnya takdir, sementara istikharah itu sebelum datangnya takdir. Dan ini lebih sempurna daripada kesabaran di dalam kesulitan. Oleh karena itulah maka beliau menyebutkan keridhaan pada takdir, dan menyebutkan kesabaran pada kesulitan. Jika sabar terhadap takdir itu lebih baik baik bagi hamba, bagaimana dengan keridhaan terhadap takdir?”
(Selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/10/hal. 46).
والله أعلم الصواب
---------------------------
(Dijawab Oleh : Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy Hafidzahullah)
Kamis 3 Rabi'ul Akhir 1447 / 25-9-2025
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Tags
tanya jawab
