ORANG YANG TIDAK MA'SHUM TIDAK LAYAK DAN TIDAK HALAL UNTUK DI TAQLIDI
ORANG YANG TIDAK MA'SHUM TIDAK LAYAK DAN TIDAK HALAL UNTUK DI TAQLIDI
Pernyataan:
Pondok Fulaniy dan markiz Fulaniy juga ikut masyaikh.
Karena ketika ana bicara dg si Fulan soal abu hazim maka dia kembalikan ke ulama negara Fulaniy, jadi ana teringat ucapan si Allan sama dg ucapan si Fulan.
Dan di status si Fulan selalu menyebutkan ulama2 negara fulaniy, tdk pernah ana melihat dia menyebutkan Antum di status2nya...
semoga Alloh memberikan hidayahnya.
--------------------
Jawaban dengan memohon pertolongan pada Allah ta'ala:
Tidak masalah sama sekali jika nama ana tidak disebut, karena itu bukanlah patokan kebenaran sama sekali.
Yang penting Kalamullah تعالى atau kalam Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم disebut-sebut, atau kalam Salaf رضي الله عنهم.
Bagus sekali menyebutkan fatwa ulama Salafiyyin yang sesuai dengan dalil.
Ana sendiri memang tidak layak diikuti. Dan ana berwasiat untuk tidak ditaqlidi. Ana terlalu kecil. Dan orang yang tidak ma'shum memang tidak layak dan tidak halal untuk ditaqlidi.
Tapi kebenaran wajib diterima sekalipun datang dari anak kecil.
Dan kebenaran itu diketahui dengan kekuatan pendalilannya, bukan kebesaran namanya atau kehebatan orasinya.
- In sya Allah- ana dan kita semua berusaha setia dengan atsar Salaf sekalipun diejek oleh manusia.
Maka selama orang-orang itu kokoh di atas atsar; maka mereka berada di atas jalan yang lurus.
Yang merasa sudah hebat dan besar, bicara mengandalkan rasional dan akal semata tanpa mampu mendatangkan dalil dan atsar yang menguatkannya, maka dialah menjauh dari jalan kebenaran.
Dari Abu Waqid Al Laitsiy رضي الله عنه yang berkata :
إن رسول الله ﷺ قال ونحن جلوس على بساط: «إنها ستكون فتنة» قالوا: وكيف نفعل يا رسول الله؟ فرد إلى البساط فأمسك به فقال: «تفعلون هكذا». وقال لهم رسول الله ﷺ يوما: «أنها ستكون فتنة»، فلم يسمعه كثير من الناس، فقال معاذ بن جبل: ألا تسمعون ما يقول رسول الله ﷺ؟ فقالوا: ما قال؟ قال: «إنها ستكون فتنة». فقالوا: فكيف لنا يا رسول الله؟ وكيف نصنع؟ قال: «ترجعون إلى أمركم الأول».
"Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda dalam keadaan kami sedang duduk-duduk di atas tikar:
“Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Mereka bertanya: “Dan bagaimana kami harus berbuat wahai Rasulullah?” Maka
beliau menggenggam tikar seraya bersabda: “Kalian melakukan seperti ini.” Dan pada suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sesungguhnya akan terjadi fitnah,”
Akan kebanyakan orang tidak mendengar sabda beliau tadi.
Maka Mu’adz bin Jabal berkata: “Apakah kalian tidak mendengar apa yang disabdakan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم?" Maka mereka bertanya: “Apakah yang beliau sabdakan?” Nabi bersabda: “Sesungguhnya akan terjadi fitnah.” Mereka bertanya: “Dan bagaimana dengan kami wahai Rasulullah? Bagaimana kami harus berbuat?” Maka beliau menggenggam tikar seraya bersabda: “Kalian (umat ini) kembali kepada urusan agama kalian yang pertama.” (HR. Ath Thabraniy dalam “Al Kabir” (3307) dan Ath Thahawiy dalam “Musykilul Atsar” (996)/sanadnya shahih).
Al Imam Muhammad bin Sirin رحمه الله berkata: “Mereka (para ulama Shahabat dan Tabi’in) berpandangan bahwasanya mereka itu ada di atas jalan yang benar selama mereka itu ada di atas atsar.” (Diriwayatkan oleh Ad Darimiy no. (140-141), Ibnu Baththah no. (251), dan Ibnu Abdil Barr dalam “Jami’ Bayanil ‘Ilm” (1/hal. 783), sanadnya shahih).
والله أعلم الصواب.
وحسبنا الله ونعم الوكيل.
والحمد لله رب العالمين.
---------------------------
(Dijawab Oleh : Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy Hafidzahullah)
Senin 13 Dzulhijjah 1446 / 9-6-2025






























