SESEORANG YANG BERILMU ATAU MAMPU MENCARI KEBENARAN NAMUN DIA JATUH PADA PERKARA KEKUFURAN, APAKAH LANGSUNG KAFIR ATAU PERLU DI TELITI ?
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Syaikh
Bismillah
Saya sedang mendengarkan dan mempelajari Audio 32 Nawaqidul Islam untuk mematangkan pengetahuan saya. Dari catatan kecil yang saya buat, saya merangkum sebagai berikut:
- Golongan kafir murni: Ateis, Hindu, Budha, Nasrani, Yahudi, Shinto, Khonghucu.
- Muslim tetapi musyrik: yaitu orang yang beragama Islam namun melakukan peribadatan atau memberikan sesembahan kepada selain Allah, seperti laut, gunung, dan sejenisnya, atau mempercayai jimat dan hal-hal serupa.
- Kekufuran memiliki cakupan lebih luas, seperti: sengaja menginjak Al-Qur’an, menghina Allah dan Rasul, menghina para sahabat, dan hal-hal serupa yang bisa menyebabkan kekufuran.
Dari pemahaman saya:
Setiap musyrik pasti kufur, tetapi setiap kufur belum tentu musyrik.
Secara garis besar demikian yang saya pahami.
Namun saya ingin meminta penjelasan Syaikh untuk kasus berikut:
Jika ada seorang Muslim yang ditokohkan di lingkungannya sebagai ustadz atau guru ngaji, lalu dengan sadar (karena arogansi, emosi, atau dorongan semangat yang keliru) di depan banyak jamaah mengatakan kalimat seperti: “Santen... ayo jika perlu”.
Apakah kasus seperti ini harus diteliti terlebih dahulu (agar dinasihati, ditanya niat, dan keadaannya), ataukah hal itu langsung menyebabkan jatuh kepada kekufuran?
Mohon bimbingan dan penjelasan dari Syaikh mengenai catatan kecil saya ini.
Jazakallahu khairan, Syaikh.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
(Dijawab Oleh: Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy Hafidzahullah)
Sabtu 12 Rabi'ul Akhir 1447 / 4-10-2025
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Tags
tanya jawab
