Bab Tiga: Penjelasan Singkat Tentang Firqah Murjiah, Serta Bantahan Terhadapnya
Lafazh Murjiah (المرجئة) diambil dari irja (الإرجاء), yang bermakna: pengakhiran. (rujuk “Ash Shihah Fil Lughah” (Al Jauhariy/1/hal. 242), “Mu’jam Maqayisil Lughah” (Ibnu Faris/2/hal. 495), “Lisanul Arab” (Ibnu Manzhur/1/hal. 83)).
Maka irja adalah: mengakhirkan amalan dari istilah keimanan. Maka Murjiah adalah orang-orang mengakhirkan amalan dari istilah keimanan, karena mereka tidak memasukkan amalan ke dalam istilah iman. Keimanan itu bagi mereka tidak bertambah dengan ketaatan, dan tidak pula berkurang dengan sebab kemaksiatan.
Maka Murjiah adalah sekelompok orang yang berpendapat: Kemaksiatan tidak akan membahayakan jika disertai keimanan, sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat jika disertai oleh kekufuran. (Rujuk “An Nihayah Fi Gharibil Atsar” (Ibnul Atsir/2/hal. 497), dan "At Ta’arif" (Al Munawiy/hal. 649)).
Dan juga dikatakan: Murjiah adalah isim fa’il dari irja, yaitu: pengakhiran, karena mereka tidak menetapkan terhadap siapapun hukum apapun di dunia, bahkan mereka mengakhirkan hukum itu sampai pada Hari Kiamat. (Rujuk “Al Mishbahul Munir” (Al Fuyumiy/1/hal. 221)).
Kapankah terjadinya bid’ah irja?
Al Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: Bid’ah qadar() terjadi pada akhir masa Sahabat. Bid’ah tadi diingkari oleh para Sahabat yang masih hidup, seperti Abdullah Bin Umar, Abdullah Bin Abbas, dan yang semisal dengan mereka رضي الله عنهم.
Kemudian terjadilah bid’ah Irja, setelah habisnya zaman Sahabat, maka para pembesar Tabi’in yang mendapati bid’ah tadi mengkritiknya.
Lalu terjadilah bid’ah Tajahhum() setelah habisnya zaman Tabi’in. Urusan mereka terus berkembang dan keburukannya semakin bertebaran di zaman para imam seperti Al Imam Ahmad dan orang-orang yang seperti beliau.
Selanjutnya setelah itu terjadilah bid’ah Hulul(), dan urusannya membesar di zaman Al Husain Bin Manshur Al Hallaj().
Dan setiap kali setan menampakkan salah satu dari kebid’ahan-kebid’ahan tadi dan yang lainnya; Allah membangkitkan untuknya dari golongan dan tentara-Nya yang membantahnya, serta memperingatkan Muslimin darinya, sebagai nasihat untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan ahli Islam.”
(Sebagaimana di dalam “Al Hasyiyah ‘Ala Sunani Abi Dawud”/Ibnul Qayyim/12/hal. 298).
Maka keyakinan Murjiah adalah batil, karena Allah ta’ala telah menamakan amalan sebagai keimanan. Allah ta’ala berfirman:
﴿وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ ﴾ [البقرة: 143].
“Dan Allah sama sekali tidak menyia-nyiakan keimanan kalian. Sesungguhnya Allah sangat berbelas kasihan dan menyayangi manusia.”
Ayat ini turun dalam peristiwa pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ke’bah, dan pertanyaan para Sahabat رضي الله عنهم tentang orang yang mengerjakan shalat ke arah Baitul Maqdis, lalu meninggal dunia sebelum mengerjakan shalat ke arah Ka’bah, maka Allah ta’ala menurunkan ayat ini. Tatkala shalat mereka ke arah Baitul Maqdis dibina di atas ketaatan pada Allah ta’ala, dan di atas pengakuan dan pembenaran untuk Rasul ﷺ, Allah ta’ala menamakan shalat tadi sebagai keimanan.
Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabariy رحمه الله berkata: “Dan sama sekali Allah tidak akan menyia-nyiakan pembenaran pada Rasul-Nya عليه السلام, dengan shalat kalian yang kalian kerjakan ke arah Baitul Maqdis berdasarkan perintah-Nya, karena yang demikian tadi adalah pembenaran dari kalian kepada Rasul-Ku, mengikuti perintah-Ku, dan ketaatan kalian kepada-Ku.” (“Tafsiruth Thabariy”/3/hal. 169).
Kedua imam yaitu Abu Zur’ah Ar Raziy (w 264 H) dan Abu Hatim Ar Raziy (w 277 H) رحمهما الله telah berkata: “Murjiah adalah mubtadi’ah yang tersesat.” (“Ashlus Sunnah Wa I’tiqadud Din”/Ibnu Abi Zur’ah/hal. 7).
Ya, mereka itu adalah sekte yang tersesat, karena mereka menyelisihi para Salaf, dan membuat-buat pendapat yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah, serta pemahaman Salaf.
Al Imam Abu Nashr As Sijziy (w 444 H) رحمه الله berkata: “Dan setiap orang yang menyatakan bahwasanya keimanan adalah ucapan semata, atau ucapan dan pengetahuan, atau ucapan dan pembenaran, atau pengetahuan semata, atau pembenaran semata, atau bahwasanya keimanan itu tidak bertambah dan tidak berkurang, maka dia itu adalah Murji, dan sebagian dari mereka adalah Jahmiy.” (“Risalatun Ila Ahli Zabid”/As Sijziy/hal. 334).
Dan pendapat yang menyatakan bahwasanya amalan itu tidak termasuk dari keimanan akan memiliki konsekuensi-konsekuensi yang batil. Dan batilnya konsekuensi itu menunjukkan pada batilnya penyebabnya, yaitu: batilnya pendapat tadi.
Al Imam Yahya Bin Abil Khair Al Amraniy (w 556 H) رحمه الله berkata: “Dan konsekuensi dari ucapan Murjiah yang mengatakan bahwasanya keimanan merupakan ucapan tanpa amalan itu adalah: bahwasanya setan itu Mukmin. Itu karena Allah telah mengabarkan bahwasanya:
﴿قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي﴾ [الحجر: 39]
“Dia (Iblis) berkata: (Wahai) Rabbku, disebabkan karena Engkau telah menyesatkan aku.”
Dan juga:
﴿قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي﴾ [الحجر: 36].
“Dia (Iblis) berkata: (Wahai) Rabbku, maka berilah aku penundaan.”
Allah mengabarkan bahwasanya Iblis berkata dengan lidahnya bahwasanya dia punya Rabb.
Dan konsekuensi dari Jahmiyyah yang mengatakan: “Sesungguhnya iman itu pengetahuan tanpa ucapan ataupun amalan” adalah: bahwasanya Yahudi itu adalah orang-orang yang beriman, karena Allah ta’ala mengabarkan tentang mereka dengan firman-Nya ta’ala:
﴿يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ﴾ [البقرة: 146] ،
“Mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenali anak-anak mereka sendiri.”
Dan kita telah mengetahui bahwasanya orang-orang kafir mengenal dengan akal-akal mereka bahwasanya Allah menciptakan mereka, dan bahwasanya Dia menciptakan langit dan bumi. Allah ta’ala berfirman:
﴿وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ﴾ ]لقمان: 25[،
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: "Allah".”
Dan mereka juga mengetahui bahwasanya tidak ada yang menyelamatkan mereka dari kegelapan daratan dan lautan kecuali Allah, dan mereka berdoa kepada Allah agar Dia menyelamatkan mereka dari yang demikian tadi. Allah mengabarkan tentang mereka yang demikian tadi.”
(Selesai dari “Al Intishar Fir Raddi ‘Alal Mu’tazilatil Qadariyyatil Asyrar”/Al ‘Amraniy/3/hal. 795).
(Bersambung, in syaa Allah)
___
(“Ikramul Kahl Bi Ibrazit Tafashil Fi Masalatil ‘Udzr Bil Jahl” | Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy حفظه الله)
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Tags
tanya jawab
