Dan termasuk dari kebatilan Abdullah Al Jarbu’ adalah: dia menukilkan di dalam catatan kaki kitab dia “Atsarul Iman Fi Tahshinil Ummatil Islamiyyah” (1/102) kalimat yang panjang milik Yusuf Al Qardhawiy, seorang Ikhwaniy mubtadi’ dan munafik, di dalam mengkritik Sayyid Quthb, sambil menyanjung Sayyid Quthub, dan meminta sikap adil untuk haknya Sayyid Quthb.
Padahal umat ini tidak memerlukan ucapan-ucapan Yusuf Al Qardhawiy, bahkan umat ini berada dalam bahaya besar disebabkan karena terpedaya fatwa-fatwa Al Qardhawiy.
Damikian pula Abdullah Al Jarbu’ menukilkan bantahan Yusuf Al Qardhawiy terhadap Sayyid Quthb secara nash, namun dia tidak mau menukilkan nash-nash bantahan para imam dan ulama Salafiyyin terhadap Sayyid Quthb. Dia hanya menyebutkan beberapa judul kitab mereka yang membantah Sayyid Quthb. Dia berpaling dari menampilkan ucapan-ucapan Salafiyyin yang bersih dan jernih, namun dia justru mendatangkan ucapan mubtadi’ munafik lalu menyebarkannya secara nash!
Begitu pula Abdullah Al Jarbu’ menukilkan di dalam kitab dia “Atsarul Iman Fi Tahshinil Ummatil Islamiyyah” (1/433) fatwa Yusuf Al Qardhawiy demi melengkapi kitab dia, tanpa membantahnya.
Bahkan dia menjadikan fatwa Al Qardhawiy tentang pentingnya zakat sebagai penjelasan untuk umat bahwasanya zakat itu memiliki pengaruh yang besar di dalam tersebarnya rasa cinta di antara umat Islam. (Lihat “Atsarul Iman”/1/hal. 435).
Begitu pula Abdullah Al Jarbu’ menukilkan di dalam kitab dia “Atsarul Iman Fi Tahshinil Ummatil Islamiyyah” (1/473) fatwa Yusuf Al Qardhawiy demi melengkapi kitab dia, tanpa membantahnya. Bahkan dia menjadikan fatwa Al Qardhawiy tentang fithrah yang selamat sebagai nasihat untuk umat.
Begitu pula Abdullah Al Jarbu’ menukilkan di dalam kitab dia “Atsarul Iman Fi Tahshinil Ummatil Islamiyyah” (1/485) fatwa Yusuf Al Qardhawiy demi melengkapi kitab dia, tanpa membantahnya. Bahkan dia menjadikan fatwa Al Qardhawiy tentang kesesuaian yang besar antara fithrah dan akal sebagai penjelasan untuk umat.
Itu semua membuka fitnah besar bagi umat ini untuk mereka terpedaya dengan ucapan-ucapan Yusuf Al Qardhawiy yang beracun.
Begitu pula Abdullah Al Jarbu’ menukilkan dari sejumlah tokoh mubtadi’ah, dan mereka itu adalah: Abul Hasan An Nadawiy, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, dan Yusuf Al Qardhawiy di dalam kitab dia “Al Amtsalul Qur’aniyyatil Qiyasiyyatil Madhrubah Lil Iman Billah” (2/632), dan dia berkata: “Medan ini sangat luas, dan medan ini hanyalah dikenal sebagai wawasan Islamiyyah, yang mana sebagian penulis dan pemikir berijtihad di dalam menjelaskan sebagian dari sisi-sisinya.”
Kemudian Abdullah Al Jarbu’ berkata di bagian catatan kakinya: “Semisal kitab “Madza Khasiral Alam Bi Inhithathil Muslimin” karya Abul Hasan An Nadawiy, “Al Mustaqbal Li Hadzad Din” dan “Al Islam Wa Musykilatul Hadharah” karya Sayyid Quthb, “Jahiliyyatul Qarnil ‘Isyrin” karya Muhammad Quthb, dan “Al Iman Wal Hayah” karya Yusuf Al Qardhawiy.” -sampai pada ucapannya:-
“Sambil diperhatikan bahwasanya tidaklah semua yang ada di dalam kitab-kitab tadi selamat untuk pengarangnya, selamat tadi kekeliruan. Hanya saja yang diinginkan adalah: mengambil faidah dari pembahasan-pembahasan yang bagus di dalamnya di dalam medan ini.”
(Selesai yang diinginkan dari penukilan).
Demikianlah Abdullah Al Jarbu’ menyebutkan di dalam kitab-kitab para mubtadi’ah tadi ada pembahasan-pembahasan yang bagus untuk diambil faidahnya, sambil dia mengakui bahwasanya kitab-kitab tadi tidak selamat dari kekeliruan.
Padahal dia dan orang lain telah mengetahui bahwasanya manusia itu -siapapun dia- tidak selamat dari kekeliruan, kecuali orang yang dipelihara oleh Allah. Akan tetapi disebutkannya kitab-kitab para mubtadi’ah yang terkenal tadi diambil faidahnya karena dikatakan di dalamnya ada pembahasan-pembahasan yang bagus; itu mengelabuhi manusia dan membuka tersebarnya racun-racun mereka di masyarakat Islami lebih banyak lagi.
Seakan-akan kaum Muslimin itu agama mereka tidak sempurna, ilmu mereka tidak lengkap, dan kitab-kitab Ahlussunnah Wal Jama’ah tidak mencukupi mereka; sehinggalah mereka berhajat pada kitab-kitab para mubtadi’ah.
Dan di dalam ucapan Abdullah Al Jarbu’ juga memakai metode muwazanah antara kebaikan dan keburukan terhadap kitab-kitab mubtadi’ah, dan yang demikian tadi menyelisihi manhaj Salaf, dan mempedaya manusia.
Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata: “Orang yang menampakkan kemungkaran atau kebid’ahan itu, manusia wajib diperingatkan darinya, dan tidak perlu kita melihat kepada kebaikan-kebaikannya. Kebaikan-kebaikannya itu antara dia dengan Rabbnya. Orang yang menampakkan kemungkaran atau kebid’ahan itu, manusia wajib diperingatkan darinya, dan dia diberi nasihat sampai mengikuti hidayah. Demikianlah sunnah itu datang.” (Selesai penukilan dari rekaman “Manhajul Muwazanah ‘Inda Ibni Baz Wa Ibni Utsaimin”).
Fadhilatusy Syaikh Shalih Al Fauzan حفظه الله berkata: “Jika engkau menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, maka maknanya: engkau mengajak orang untuk mengikuti kebaikan-kebaikan mereka. Jangan, janganlah engkau menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Sebutkan saja kesalahan yang mereka ada di atasnya, karena rekomendasi keadaan mereka bukanlah diserahkan kepadamu. Engkau diserahi untuk menerangkan kesalahan yang mereka miliki, agar mereka bertaubat darinya, dan agar orang lain menghindarinya. Boleh jadi kesalahan yang mereka miliki akan menghilangkan kebaikan-kebaikan mereka semuanya, jika berupa kekufuran atau kesyirikan, dan boleh jadi juga lebih berat daripada kebaikan-kebaikan mereka. Dan mungkin saja itu adalah kebaikan-kebaikan di dalam pandanganmu, namun sebenarnya bukan kebaikan-kebaikan di sisi Allah.” (“Kutubul Manahij Wal Firaq”/Al Ajwibatul Mufidah/Al Fauzan/1/hal. 18-19).
Beberapa daftar sumber penukilan biografi Abdullah Al Jarbu’:
Situs Midad,
Situs Al Alukah,
Situs Jami’ul Kutubil Islamiyyah,
Situs Al Atsariy,
Perlu diingat: saya menyebutkan biografi tadi dan sumber-sumber pengambilannya adalah karena terpaksa, demi melengkapi pengenalan tentang identitas tokoh tadi, yang membawa bendera cercaan terhadap para Salafiyyin dan sebagian imam Salafiyyin, karena mereka membantah dia yang membolehkan mengkafirkan orang tertentu tanpa memperhatikan udzur kejahilan, dan karena mereka mengingkari sikap dia yang bermudah-mudah menuduh orang yang menyelisihinya sebagai Murjiah.
Dan saya tidak menyebutkan biografi dan sumber pengambilannya tadi demi mengajak orang kepada kebatilan dan ahli batil. Saya menyebutkannya demi menerangkan pada orang-orang bahwasanya seseorang itu sekalipun buku dan pengetahuannya banyak, dan memiliki kedudukan-kedudukan yang tinggi, serta tinggal di salah satu dari Tanah Suci; maka sungguh dia tidak selamat dari kekeliruan dan ketergelinciran -kecuali orang yang dipelihara oleh Allah ta’ala-, terutamanya lagi jika dia telah dinasihati berulang-ulang agar meninggalkan kebatilan-kebatilannya, namun dia tidak mau menerima nasihat yang benar yang dihiasi dengan dalil-dalil dan pemahaman Salaf, dan tidak merendahkan diri kepada kebenaran, maka sungguh kedudukannya yang tidak tidak bermanfaat untuknya, sanjungan orang yang menyanjungnya tidak berguna untuknya, dan kesucian negeri yang ditinggalinya tidak menyucikannya. Bahkan dia akan menjadi pelajaran untuk orang yang mau mengambil pelajaran.
Hanya Allah sajalah Yang dimintai pelajaran dan menjadi sandaran. Dan Dia sajalah Yang memberikan taufik kepada jalan yang paling lurus.
___
(“Ikramul Kahl Bi Ibrazit Tafashil Fi Masalatil ‘Udzr Bil Jahl” | Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy حفظه الله)
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Tags
tanya jawab
