BREAK
  • Memuat berita terbaru...

Iman secara bahasa adalah: pembenaran beserta pengakuan

Iman secara bahasa adalah: pembenaran beserta pengakuan. (Rujuk “Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah”/7/hal. 529-531).

Jahil

Dan iman secara syari’at adalah ucapan dan amalan yang ada di dalam jantung, lidah dan anggota badan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Al Imam Sufyan Ats Tsauriy (w 161 H) رحمه الله berkata: “Dan keimanan adalah ucapan, amalan dan niat, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Ucapan itu tidak boleh kecuali dengan amalan. Ucapan dan amalan itu tidak boleh kecuali dengan niat. Ucapan, amalan dan niat itu tidak boleh kecuali jika sesuai dengan sunnah.” (“Syarhus Sunnah”/Ats Tsauriy/hal. 1).

Al Imam Abdullah Ibnuz Zubair Al Humaidiy (w 219 H) رحمه الله berkata: “… Dan bahwasanya keimanan adalah ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang. Dan ucapan itu tidak bermanfaat kecuali dengan amalan. Ucapan dan amalan itu tidak bermanfaat kecuali dengan niat. Ucapan, amalan dan niat itu tidak bermanfaat kecuali dengan sunnah.” (“Ushulus Sunnah”/Mulhaq Musnadil Humaidiy/2/hal. 359/cet. Darus Saqqa).

Al Imam Ibnu Abi Zaid Al Qairawaniy (w 386 H) رحمه الله berkata: “Sesungguhnya keimanan adalah ucapan dengan lidah, keikhlasan dengan jantung, dan amalan dengan anggota badan, itu bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan, kurang dari hakikat-hakikat kesempurnaan, bukannya menggugurkan keimanan. Dan ucapan itu tidak berguna kecuali dengan amalan. Ucapan dan amalan itu tidak berguna kecuali dengan niat. Ucapan, amalan dan niat itu tidak berguna kecuali jika sesuai dengan sunnah.” (“Muqaddimatul Jami’”/Al Qairawaniy/ hal. 19-20).

Al Imam Al Hafizh Ibnu Abi Zamanin (w 399 H) رحمه الله berkata: “Dan termasuk dari pendapat Ahlussunnah adalah: bahwasanya keimanan itu adalah keikhlasan dengan hati untuk Allah, persaksian dengan lidah, dan amalan dengan anggota badan, berdasarkan niat yang baik, dan menepati Sunnah, … dan bahwasanya keimanan itu berlainan tingkat dan posisinya, sempurna, bertambah, dan berkurang. Dan seandainya tidak demikian niscaya semua orang sama di dalamnya, dan niscaya orang yang terdahulu tidak punya kelebihan di atas orang yang belakangan.” (“Ushulus Sunnah”/Ibnu Abi Zamanin/hal. 207/cet. Maktabatul Ghurabail Atsariyyah).

Al Imam Husain Al Baghawiy (w 516 H) رحمه الله berkata: “Para Sahabat dan Tabi’in, kemudian para ulama Sunnah yang setelah mereka bersepakat bahwasanya amalan itu bagian dari iman. Dan mereka berkata: Sesungguhnya iman itu ucapan, amalan dan keyakinan.” (“Syarhus Sunnah”/Al Baghawiy/1/hal. 38).

Syaikhul Islam Ahmad Bin Abdil Halim Bin Abdis Salam Bin Taimiyyah Al Harraniy (w 728 H) رحمه الله berkata: “Para Salaf bersepakat bahwasanya iman itu ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang. Dan maknanya adalah: iman itu ucapan hati dan amalan hati, lalu ucapan lidah, dan amalan anggota badan.” (“Majmu’ul Fatawa”/7/hal. 672/cet. Maktabatu Ibni Taimiyyah).

Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah (w 728 H) رحمه الله juga berkata: “Dan dasar dari pendapat Ahlussunnah yang mana dengan itu mereka memisahkan diri dari Khawarij, Jahmiyyah, Mu’tazilah dan Murjiah adalah: bahwasanya iman itu bertingkat-tingkat dan terbagi-bagi, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi صلى الله عليه وعلى آله وسلم:
«يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيْمَانٍ»،
“Akan keluar dari Neraka orang yang di dalam jantungnya ada keimanan seukuran dzarrah.”
Dan ketika itulah maka perwalian Allah menjadi bertingkat-tingkat dan terbagi-bagi, sesuai dengan kadar keimanan pelakunya.”
(Selesai dari “Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 355/cet. Darul Wafa/ihalah).

(Bersambung In Syaa Allah)
___
(“Ikramul Kahl Bi Ibrazit Tafashil Fi Masalatil ‘Udzr Bil Jahl” | Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy حفظه الله)
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Lebih baru Lebih lama