BAB 75 : MEMAAFKAN DAN BERPALING DARI ORANG-ORANG BODOH
📣Oleh Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin soekojo Al Indonesiy Al Jawiy Al Qudsiy حفظه الله
HADITS 5
وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ليس الشديد بالسرعة، إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب. متفق عليه.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, "Orang yang kuat itu bukan orang yang kuat bergulat (bergusti), tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah." (Muttafaq Alaih)
Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu dia berkata, "Aku seakan-akan masih melihat Rasulullah ﷺ menceritakan seorang Nabi dari para nabi yang dilukai oleh kaumnya, lalu beliau mengusap darah dari mukanya sambil mengatakan, "Wahai Rabb-ku, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui." (Muttafaq Alaih)
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, "Aku pernah berjalan bersama Nabi ﷺ yang ketika itu beliau mengenakan selendang yang tebal dan kasar buatan Najran. Kemudian seorang Arab Badui datang lalu menarik beliau dengan tarikan yang keras hingga aku melihat permukaan pundak Nabi ﷺ berbekas akibat tarikan yang keras itu. Lalu dia berkata, "Perintahkanlah, agar aku diberikan harta Allah yang ada padamu". Kemudian beliau memandang kepada orang Arab Badui itu dan tertawa Lalu beliau memerintahkan agar memberinya". (Muttafaq Alaih)
BAB 75 : MEMAAFKAN DAN BERPALING DARI ORANG-ORANG BODOH
📣Oleh Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin soekojo Al Indonesiy Al Jawiy Al Qudsiy حفظه الله
HADITS 2
وعنها قالت: ما ضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم شيئا قط بيده، ولا امرأة ولا خادما، إلا أن يجاهد في سبيل الله، وما نيل منه شيء قط فينتقم من صاحبه إلا أن ينتهك شيء من محارم الله تعالى: فينتقم لله تعالی. رواه مسلم.
Darinya (Aisyah Radhiyallahu Anha), dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah memukul siapa pun dengan tangannya, baik istri atau pun pembantunya, kecuali dalam berjihad di jalan Allah, dan beliau belum pernah diganggu orang lain, lalu beliau marah, kecuali jika hal-hal yang Allah haramkan dilanggar barulah ia melakukannya karena Allah.” (HR. Muslim)
Dari Aisyah Radhiallahu Anha, bahawasanya dia pernah bertanya kepada Nabi ﷺ, "Apakah baginda pernah mengalami peristiwa yang lebih berat dari kejadian perang Uhud?". Beliau menjawab, "Sungguh aku sering mengalami peristiwa dari kaummu. Dan peristiwa yang paling berat yang pernah aku alami dalam menghadapi mereka adalah ketika peristiwa al-'Aqabah, saat aku menawarkan diriku kepada Ibnu 'Abdi Yalil bin 'Abdu Kulal agar membantuku namun dia tidak mau memenuhi keinginanku hingga akhirnya aku pergi dengan wajah gelisah dan aku tidak menjadi tenang kecuali ketika berada di Qarnu ats-Tsa'aalib (Qarnu al-Manazil). Aku mendongakkan kepalaku ternyata aku berada di bawah awan yang memayungiku lalu aku melihat ke arah sana dan ternyata ada malaikat Jibril yang kemudian memanggilku seraya berkata, "Sesungguhnya Allah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan apa yang mereka timpakan kepadamu. Dan Allah telah mengirim kepadamu malaikat gunung yang siap diperintah apa saja sesuai kehendak mu." Maka malaikat gunung berseru dan memberi salam kepadaku kemudian berkata, "Wahai Muhammad". Maka dia berkata, "Apa yang kamu inginkan katakanlah. Jika kamu kehendaki, aku timpakan kepada mereka dua gunung ini." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Tidak. Bahkan aku berharap Allah akan memunculkan dari anak keturunan mereka orang yang menyembah Allah satu-satu nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun." (Muttafaq Alaih)