"Kita ini selalu saja menyalahkan sesuatu yg dirasa bermamfaat adalah dg hujatan bid'ah karena tidak ada dilakukan pd masa Rasulullah. Jika begitu salah lah kita bepergian dg kereta api,dg mobil, dg motor karena tidak pernah dilakukan pd zaman nabi bahkan mesin2 itu dibuat oleh orang2 Eropa yg nota bene beragama Kristiani.
Jangan lah yg sudah baik kita hujjad, cobalah menghujad koruptor, premanisme, judol, pinjol dan lainnya.
Saya katakan banyak sekali keberhasilan jamaah tablig dari sisi dakwah. Saya punya teman beragama kristiani dan pembunuh ( dipenjara ) lalu 15 thn kemudian saya ketemu ternyata sdh muslim dan menjadi komunitas jamaah tablig ( dia tobat dan masuk Islam karena pendekatan yg dilakukan jamaah tablig). Banyak lagi yg saya tau, antara lain pd mulanya tdk suka solat berjamaah ke masjid tp dg pendekatan jamaah tablig jadi berubah 180 derjat. Contoh lain spt Gito Rolis, Deyri Sulaiman dan banyak lagi yg lain. Udahlah berhenti ya sdr2ku yg hebat ilmu2nya utk menghujat sesuatu yg tak begitu urgen diantara sesama kita orang Islam."
Afwan Syeikh mohon ditanggapi dan referensi nya lengkap, Syukron jazakallah Khairan*
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
(Dijawab Oleh : Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy Hafidzahullah)
Ada pertanyaan dari Orangtua, coba Tuan yg dekat dengan Asy-Syaikh Abua Fairuz, tolong sampaikan kepada Asy-Syaikh Abu Fairuz Hafizahullahu Ta'Ala. Sekiranya beliau berkenan untuk menjawabnya. Terimakasih, Jazakumullah Khairan wa barakallahu fikkum.
Ana ingin titip pertanyaan kpd Sheikh Abi Fairuz hafidzahullah.
Kenapakah imam madzhab hanya dinisbatkan kpd 4 imam sahaja yaitu *Hanafi, Maliki, Syafi'e dan Hanbali* sdgkan di zaman mereka banyak imam2 besar seperti *Ibnul Mubarak, al Auza'ie, ats Tsauri, Ibnu Uyainah, Ma'mar bin Rasyid, Fudhail bin Iyad* dan lain lain. Apakah madzhab zohiriah itu?
جزاك الله خيرا
Jawapan
*_Di jawab oleh Sheikh Abi Fairuz Abdurrahman bin Soekojo al Jawi al Indonesia._*
Sebenarnya ttg *masaalah madzhabiyah ini*, kita tidak akan menjumpai satu dalil pun dari alquran dan sunnah, dan juga ucapan para salaf, bahkan ucapan 4 imam madzhab itu yang *MENGHARUSKAN* ada terbentuknya madzhab2 yg seperti ini.
Ikutilah apa yg diturunkan kpd kalian dari Robb kalian dan jgn kalian mengikuti *wali-wali* yg lain tapi sedikit sekali kalian mengambil pelajaran.
*Wali* yg dimaksud disini bukan wali yg disebutkan dlm ayat yg lain yaitu bahawasanya wali kita adalah Allah dan rosulNya dan kaum mukminin yang menegakkan solat, *bukan itu*, tetapi wali yg dimaksudkan disini adalah yaitu kembali kpd firman Allah taala yaitu doa kaum mukminin,
Yaitu sebagai *pelindung, penolong dan pengatur segala urusan.*
Jadi kita disuruh oleh Allah taala adalah untuk hanya *mentauhidkan* Allah di dalam pengaturan dan pengurusan segala syariat. Maka *tidak boleh ada satupun makhluk yg menampilkan diri sebagai pembuat syariat.*
Makanya dalil ini termasuk *dalil terbesar, yang digunakan oleh para ulama bagi menentang madzhabiyah itu*
Termasuk dalil yg lain, yaitu firman Allah taala sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Abdil Barr di dlm kitab beliau Jami' Bayanil ilmi wa Fadlih. Firman Allah taala,
Mereka mengambil ulama2 mereka yaitu ulama mereka dan rahib2 mereka, ahli ibadah mereka, sebagai robb robb selain Allah, yg memberikan perintah, larangan, yg memghalalkan apa yg mereka inginkan dan mengharamkan apa yg mereka mahui dan seterusnya, selain Allah.
وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ
Demikian juga Isa ibnu Maryam, mereka menjadikan sebagai robb2 selain Allah padahal
Mereka tidak diperintahkan kecuali menyembah sesembahan yg satu.
Dan diantara bentuk penyembahan adalah yaitu kita tunduk patuh kpd syariat Allah bukan kpd syariat yg lain, dgn apa yg Allah inginkan dan rosulNya kehendaki. Bukan dgn apa yg diinginkan oleh makhluk2 yg tidak maksum itu. Thoyyib.
Dan dalil2 yg lain disebutkan oleh para ulama seperti juga Imam Syaukani di dalam kitab beliau alQoulul Mufid fi Ahkamil Taqlid dan juga disebutkan sebelumnya, yaitu Imam As Son'ani ketika membantah kelompok2 yg mewajibkan taqlid dan yg sebelum mereka berdua yaitu Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu taala di dlm kitab Ilamul Muwaqqiin. Pembahasan berpuluh puluh mukasurat, membahas masaalah salahnya metode tadi.
Makanya para ulama tadi mengatakan bahawasanya ini adalah bid'ah. Adanya taqlid kpd madzhab dari seluruh fiqh dari awal sampai akhir hanya ikut madzhab ini, maka ini adalah bid'ah kerana Allah dan rosulNya tidak menyuruh yang seperti itu. Tetapi semuanya kalau ada perselisihan, disuruh kembali kpd Allah dan rosulNya. Cuma Allah taala memfirmankan,
Bertanyalah kpd para ahli ilmu, kalau kalian tidak tahu.
Jadi disuruh utk bertanya, bukan disuruh untuk mengekor, membebek dan seterusnya tapi bertanya.
Setelah bertanya, apakah kita wajib langsung ikut semua walaupun masing2 jawapannya lain2. Kalau jawapannya lain2, bagaimana kita mahu ikut semua. Jelas tidak mungkin. Pasti ada satu yang betul. Bererti tidak semua wajib diikuti. Tapi yg wajib diikuti adalah yg mmg sesuai dgn zohir dalil, sesuai dgn hujjah yg kuat. Makanya Allah taala mengatakan ttg orang2 yg akalnya kuat dan akalnya bagus,
Mereka itu adalah org2 yg mendengar ucapan2 lalu mereka mengikuti mana yg terbaik.
Yg terbaik bukan ikut hawa nafsu, tapi yg terbaik adalah yg mengikuti khairul kalam yaitu kalamullah dan khairul hadith yaitu khairul huda yaitu huda Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
Thoyyib ini *dasar pertama* yg kita bahas.
Bahkan para ulama salaf telah kita nukilkan ucapan Imam Syafi'e yg mana beliau melarang mentaqlid kpd beliau, juga ucapan Imam Malik, ucapan Imam Ahmad dan Abu Hanifah melarang utk taqlid, dan kalam2 mereka banyak tapi munculnya taqlid, ini adalah dari orang2 setelah mereka.
Sampai2 seperti ucapan Busyanji, aku adalah Syafi'e hidup dan mati. Kalau aku mati maka wasiatku adalah agar orang2 ikut Syafi'e.
Demikian pula ucapan alHarowi, "aku adalah Hanbali hidup dan mati. Kalau aku mati wasiyatku adalah hendaknya orang2 itu ikut Ahmad bin Hanbal. Demikian pula dari sikap ghuluwnya orang2 Malikiyah sampai mereka mendoakan di dalam sujudnya, "Ya Allah matikan lah Syafi'e, Ya Allah matikan lah Syafi'e. Jgn sampai merosak madzhab Malik di Wilayah Mesir ini. Ini berlebihan sampai mendzolimi para ulama yg lain, yg punya ijtihad dan seterusnya. Demikian pula sampai berani utk dusta atas nama Rasulullah seperti yg dilakukan oleh orang2 Hanafiyah sampai membuat hadith palsu yg mengatakan, "Abu Hanifah siroju ummati. Bagaimana Rasulullah mengatakan itu Abu Hanifah, nanti datangnya belakangan. Ini melampaui batas. Rasulullah mengatakan, nanti di akhir umatku ada seseorang yang lebih bahaya bagi mereka daripada Iblis, yaitu Muhammad bin Idris, padahal beliau adalah nasirussunnah, Imam Syafi'e itu.
Didalam masaalah aqidah dan manhaj, semuanya sama, para imam imam besar kecuali kesalahan2 Abu Hanifah itu. Tapi di dalam masaalah perkara ijtihadiyah. Wajar perkara2 yg mungkin dalilnya belum jelas bagi mereka, ijtihad itu ada. Thoyyib.
Itu sudut pandang bahawasanya para ulama yg 4, mereka tidak menyuruh utk *taqlid*. Kemudian utk sudut pandang yg lain memang kenyataannya adalah yaitu ijtihad itu ada maka murid2 itu ada, maka sebenarnya madzhab itu banyak. Makanya disebutkan bahawasanya di Mesir ada *madzhab Laitsiyah* pada zaman dulu, pengikut Laits bin Saad alMisri dan fiqih beliau itu lebih kuat daripada fiqih Imam Malik sebagaimana disebutkan di dalam biografinya. Dalam biografi2 para ulama tersebut. Demikian pula di Syam, ada madzhab yaitu *Auzaiyah*, pengikut Imam Abu Amr al Auzaie, kerana beliau adalah bintang ahlu Syam dan juga di wilayah Khurasan, ada kelompok yg namanya *Ishaqiyah*, mengikuti Imam Ishaq bin Ruhawiyah Ishaq bin Ibrahim, sahabat Imam Ahmad dan beliau mmg beliau adalah ahli fiqih yg sangat besar, sering fiqih beliau sama Imam Ahmad. Dan demikian pula yg di wilayah Kufah sendiri ada kelompok Tsauriyah, pengikut Imam Sufyan at Tsauri. Thoyyib.
Tetapi kenapa kemudian yg tersisa hanya *empat ini*?
Disebutkan di dalam biografinya, kerana sebahagian para murid murid mereka itu meninggal duluan atau murid murid mereka itu tidak memelihara baik baik fiqih dari gurunya. Tidak ditulis dalam buku kemudian disyarah seperti dalam madzhab2 yang lain, disebarkan. Akibatnya banyak yg madzhab2 tadi meninggal. Walaupun إن شاءالله pahala mereka sempurna, tetapi tidaklah menjadi, tidaklah sebanyak empat madzhab yang terkenal sampai sekarang itu kerana utk empat ini memang semuanya betul2 bersemangat utk menebarkan fatwa fatwa ulama' mereka, imam mereka kemudian di syarah, kemudian di tahqiq, kemudian di tapis dan seterusnya, tetapi para ulama' ulama' yang hakiki dari masing2 madzhab, mereka tidak *taqlid*. Seperti Imam Nawawi, sering di dalam syarah , dalam kitab beliau alMinhaj, syarah sahih Muslim bin Hajjaj, beliau justeru memenangkan madzhab Imam Ahmad. Adapun Imam Syafi'e, beliau kalahkan pd beberapa faktor tetapi beliau mengatakan *Syafi'e telah mengatakan, 'Kalau hadith itu sohih, maka itu adalah madzhab ku'* dan juga beliau sering mengucapkan kalam Imam Syafi'e ketika mengatakan, 'Ini Syafi'e salah ini dan yg betul madzhab yang lain maka beliau ikut madzhab yg lain. Beliau mengatakan dan ini hakikatnya madzhab Syafi'e juga. Kenapa? *Syafi'e telah mengatakan, 'Kalau aku menetapkan suatu pendapat, ternyata Rasulullah mensabdakan sabda yg menyelisihi pendapat ku, maka saksikan lah bahawanya aku rujuk kpd sabda Rasulullah hidup dan mati ku*. Maka kata beliau sebenarnya, madzhab Syafi'iyyah adalah ini, walaupun beliau tidak mengetahuinya. Menunjukkan para ulama tadi tidak *TAQLID*.
Demikian pula seperti termasuk ulama terbesar dari kalangan Malikiyyah yaitu Ibnu Abdil Barr, sering di dalam tamhid, beliau malah merojihkan kalam Syafi'e, kerana memang melihat, ini hujjah Syafie dalam kes ini betul, maka bererti di tinggalkan kalam Imam Malek di dalam kes tersebut.
Demikian pula di dalam alMughni, punya Ibnu Qudamah, sering beliau merojihkan bukan kalam Imam Ahmad tapi kalam Imam Syafi'e, kadang juga kalam Imam Malik dan seperti itu. Itulah para ulama ulama yang sebenar. Mereka tidak *taqlid* mengekor habis habisan terhadap madzhab itu tetapi *lihat mana yang hujjahnya lebih kuat*, cuma fungsi para ulama tadi adalah utk membimbing kita, sebagaimana di jelaskan oleh Sheikh Ibnu Uthaymin, kalau seseorang itu punya ingin menjadi faqih yg betul, jgn dia sejak awal belajar kesemua madzhab, dia akan pening. Ambil satu dulu pelajari baik-baik dasar-dasarnya, kemudian betul betul engkau pelajari agar engkau memiliki gambaran agamamu seperti apa dalam kehidupan sehari-hari. Setelah dasarnya kuat, baru engkau melakukan dirosah muqoronah. Cuba bandingkan dgn yg ini, bandingkan dgn yg ini, sedikit demi sedikit. Baru kita akan tahu yg betul ini, yg rojih ini dan seterusnya. Jangan sejak awal kita bercabang-cabang, kita akan pening.
Kerana apa? Kerana kalau sejak awal kita belajar, kita langsung membuka Nailul Authar, kita akan pening, Nailul Authar punya Asy Syaukani, Madzhab ini bilang ini, ini bilang ini, ini bilang ini, akhirnya kita bingung, yang betul mana. Kenapa? *Kita tidak punya dasar*. Tapi ambil satu dulu, pelajari baik-baik, secara bertahap. Bagus, ini seperti Umdatul Ahkam ini, dasar yang sangat bagus. Walau pun beliau melakukan muqorronah tapi dgn sangat sederhana. Ini sangat membantu. Thoyyib.
Jadi jawapannya adalah itu. Kenapa madzhab yang tersisa hanya empat? Kerana sebahagian murid utamanya meninggal atau dikeranakan sebahagian murid itu tidak melakukan penyebaran terhadap madzhab dari Sheikh mereka sebagaimana yang dilakukan oleh yang lain. Sehingga lama2 memang madzhab mereka itu mati. Dan sebab yang ketiga adalah bantuan penguasa. Terkadang bantuan penguasa ini menyebabkan matinya suatu madzhab dan menguatnya madzhab yang lain. Seperti di masa kekuasaan Ibnu Yunus, betul2 madzhab yang paling berkuasa adalah madzhab Hanbali. Sampai sampai orang Syafi'e tidak boleh mereka itu solat dgn madzhab mereka, sampai di perangi. Ketika Ibnu Yunus meninggal, digantikan oleh yang berikutnya (ana lupa itu), betul2 madzhab Hanbali di perangi habis habisan sampai banyak yg dipenjara. *Ini semuanya adalah kedzoliman satu sama lain*. Tidak boleh sampai begitu. Ini masaalah fiqih, saling menghormati, ingatkan, ini yang betul begini, hujjahnya begini. Tidak, yg saya fahami ini. Tak apa apa, ini masih perkara ijtihadiyah, itu tidak masaalah. Yang penting, bukan perkara yang dalilnya terlampau jelas. Akibatnya seperti itu. Jadi bantuan penguasa ini sangat berpengaruh terhadap hidup dan matinya sebuah madzhab. Yang betul adalah penguasa hendaknya, untuk dalil yg jelas harus dibantu habis habisan. Kerana harus membantu syariat Allah dan RosulNya, tapi yg dalilnya tidak jelas, yg masih ada kemungkinannya utk ijtihad maka semua dihormati dgn tetap mengingatkan untuk saya yg betul begini dgn hujjah begini.
Sheikh Abu Fairuz, *diantara ucapan Ali al Jufri, dia kata, *boleh* bagi ruh wali untuk kembali ke dalam jasad orang mati itu untuk mengabulkan permintaan orang yang memohon kepadanya.*
Dan penyokong-penyokong dia, ada yang berdalilkan dengan kisah yang seperti ini mengatakan dalil itu tidak mustahil berlaku, kembalinya roh kepada jasad untuk memperkenankan hajat kepada yang memohon.
Jawapan: Thoyyib, Ali al Jufri ini, dia, sebahagian ulama' Saudi sudah mengatakan dia adalah من الشياطين.
Kerana apa, kerana dia betul-betul ingin apa, di jadikan sebagai Thoghut, dan kisah tentang dia banyak sekali dan dia banyak sekali apa, menentang al Qur'an.
Thoyyib. Masaalah tidak mustahil bagi perbuatan Allah تعالى, memang tidak mustahil, untuk mengembalikan ruh orang yang mati, bilamana Allah تعالى kehendaki. Sebagaimana di dalam kisah ini. Kisah ini terkait dengan ketidakmustahilan di sisi Allah تعالى.
Adapun praktiknya untuk umat Muhammad صلى الله عليه وسلم, *kalau tidak ada dalil yang menunjukkan itu, maka tidak boleh, kita kemudian apa, mengklaim seperti itu,* bahawasanya wali akan kembali terutama di malam Jumaat atau apa, kata sebahagian orang itu.
Memang Allah تعالى meletakkan itu dengan apa, mukjizat untuk Nabi Musa. *Ha sekarang, mana Allah tetapkan untuk para wali Allah dari kalangan umat ini ataupun yang lain dan sebagainya.* Mana dalilnya? Tidak ada.
Kalau dalil khusus tidak ada, maka kembalinya kepada dalil yang umum yang mana Allah تعالى telah berfirman,
وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ Dan di belakang mereka ada dinding pembatasan sampai hari mereka dibangkitkan.
Yaitu apa, mereka tidak akan dikabulkan ucapan mereka,
رب ارجعون لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ Wahai Robbku, kembalikan lah saya agar saya mengerjakan amal soleh yang dulu saya tinggalkan.
Jadi Allah تعالى membantah ucapan tadi, bahawasanya mereka tidak akan pernah kembali, sampai apa, sampai hari kiamat.
Ha kalau kiamat memang kembali tapi bukan kembali kedunia, tapi kembali menghadap Allah di hari kiamat. Thoyyib.
Dan dalil-dalil mutawatir tentang masaalah itu. Tentang masaalah bahawasanya orang yang mati tidak akan kembali lagi. Thoyyib. Dan seterusnya seterusnya. Kisah, banyak sekali.
Adapun kalau ucapan dia, untuk wali tadi mengabulkan doa dan seterusnya, memang ini, mereka ingin jadi *Thoghut*. Ingin jadi apa, di cintai. Ingin jadi رب العلمين. Ingin jadi اله الاولين والاخرين dan seterusnya. Thoyyib.
Tapi yang betul adalah hanya Allah تعالى, yang mengabulkan doa,
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ Atau siapakah yang mengabulkan doa, orang-orang yang sedang tertimpa mala petaka atau ditimpa kecemasan, apabila dia berdoa kepadaNya. Dan Dia menghilangkan malapetaka tadi dan Dia menjadikan kalian sebagai pengganti-pengganti di bumi? Jawapannya apa? Tidak ada kecuali Allah.
Maka konsekuensinya أ إلهم مع الله Apakah ada sesembahan bersama Allah? Jawapannya tidak ada. Maka konsekuensinya kenapa kalian justeru menyembah yang lain.
Ha ini yang, orang-orang Sufi lebih parah lagi. Kenapa kalian ingin dijadikan sebagai sesembahan. نعوذ بالله. Thoyyib.
Maka Allah تعالى berfirman di akhir ayat tadi, قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ Sedikit sekali kalian menyadari masaalah ini.
Kenapa tidak sedar? Kerana mereka memang dipalingkan dari nas-nas al Qur'an kepada nas-nas para yang di anggap sebagai wali tadi, orang-orang yang dianggap sebagai wali. Maka mereka tidak faham alQur'an, padahal ayatnya jelas. والله اعل
Live
Comments