Al Fatawa Al Hamawiyah (sifat ketinggian bagi Allah azzawajal)
Al Fatawa Al Hamawiyah
Dibahaskan oleh Asy Syeikh Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Qudsiy Al Indonesiy Al Jawiy.
D018: 05/09/2018
Bismillah. Dengan memohon pertolongan Nya.
Ringkasan:
Bab: sifat ketinggian bagi Allah azzawajal
Berkata sheikhul islam rahimahullah: dan jika demikian maka kitabullah dari awal hingga akhirnya dan sunnah rasulullah salallah alaihi wasallam sejak awalnya hingga akhirnya kemudian ucapan keumuman para sahabat dan tabien kemudian ucapan seluruh umat ini penuh dengan sesuatu yang nas bahawasanya Allah subhana huwa taala di atas segalanya dan Dia di atas segala sesuatu. Dia tidak pernah menempel dengan makhluk. Sebagaimana yang dirojihkan oleh ahlu sunnah wal jamaah. Tidak pernah dalam ertian Allah taala istiwa di atas Arash dan Dia tetap terpisah dari makhluk.
Contohnya seperti firman Allah taala: hanya kepada Nya lah naik kata2 yang baik dan amal soleh itu yang mengangkatnya.iaitu ucapan yang baik itu akan terangkat kepada Allah kalau disertai dengan amal soleh. Kalau tidak disertai amal soleh maka ucapan tadi sia2. Intinya adalah menunjukkan Allah taala tidak di sini bersama kita tapi dia tinggi di atas arash Nya di sana. sampai2 kalam yang baik perlu diangkat oleh amal soleh, mengadap Allah. Bererti Allah taala di atas sana.
Contoh yang lain, Allah berfirman: sesungguhnya Aku akan mengambil mu dan mengangkat mu kepada ku (iaitu nabi Isa di ambil oleh Allah dan di angkat kepada Nya) Menunjukkan Allah taala tidak di sini , tapi Dia di atas sana. maka ayat tadi menunjukkan tentang pastinya ketinggian Allah.
Allah berfirman: apakah kalian merasa aman dengan Dzat yang ada di langit untuk Dia itu menengelamkan kalian ke dalam bumi atau apakah kalian berasa aman dengan Dzat yang ada di langit untuk dia mengirimkan kepada kalian angin kencang yang menerbangkan kerikil
Catatan kaki: (33)
Berkata Baihaqi rahimahullah: fi di sini memiliki makna ala (fi sendiri memiliki makna banyak sekali, jadi di sini tidak menyelisihi kebiasaan. Memang fi maknanya banyak sekali. Sementara ayat2 yang lain menunjukan fi itu bermakna ala yang diinginkan di sini. FirmanNya: dan pasti aku akan menyalib kalian di pokok2 kurma (yakni di atasnya, kerana tidak mungkin di dalam pokok kurma, tetapi di atasnya)
(Kembali kepada matan)
Allah berfirman: orang2 yahudi tidak membunuh nabi Isa, bahkan Allah mengangkat nabi isa menuju kepada diri Nya (menunjukan bahawa Allah taala di atas, nabi isa di bawa ke atas mengadap Allah taala)
Allah berfirman: para malaikat itu naik menuju kepada Allah
Catatan kaki (34):
Maka ayat ini menunjukkan bahawasanya malaikat itu naik menuju kepada Allah maka menunjukkan Allah itu di ketinggian di sana berbeza dengan pendapat jahmiyah yang mengatakan Allah itu di seluruh tempat. Seandainya Allah itu di seluruh tempat nescaya Allah sudah bersama mereka, maka untuk apa para malaikat perlu naik menuju kepada Allah sementara Allah bersama mereka
Berkata sheikhul islam ibnu taimiyah rahimahullah: dan bagaimana para malaikat dan ruh itu naik pada hari kiamat? dan ayat yang lain menyebut Allah memiliki tempat2 untuk naik. Iaitu malaikat untuk naik kepada Allah sudah ada jalannya. Maka untuk apa ini jalan2 untuk naik? dan kepada siapa para malaikat itu menyampaikan amalan? Kalau Allah itu di mana2, sudah bererti Allah itu bersama malaikat, apa perlu untuk malaikat jauh2 nailk ke atas sampai perlu naik tangga lagi, sementara Allah sudah bersama mereka, ini menujukkan bahawa ayat tadi itu sudah membantah orang yang mengatakan Allah di mana2. Bahkah ayat tadi jelas menunjukan manakala Allah tidak bersama mereka maka mereka perlu menuju kepada Allah melaporkan amalan dan ternyata arah yang di tuju adalah naik ke atas, bererti memang Allah taala di atas.
Sumber Channel Telegram: Al Fatawa Al Hamawiyah






























