APABILA KEBENARAN (YANG TERBUKTI DIDUKUNG DENGAN DALIL DAN MANHAJ SALAFUS SHALIH) DALAM SUATU MASALAH DIKHAWATIRKAN TERKUBUR ATAU TERSAMARKAN KARENA KEKELIRUAN SIKAP TOKOH YANG TIDAK MA'SHUM, MAKA BOLEH ORANG YANG MENGETAHUINYA UNTUK BERBICARA, SESUAI AJARAN SALAF
APABILA KEBENARAN (YANG TERBUKTI DIDUKUNG DENGAN DALIL DAN MANHAJ SALAFUS SHALIH) DALAM SUATU MASALAH DIKHAWATIRKAN TERKUBUR ATAU TERSAMARKAN KARENA KEKELIRUAN SIKAP TOKOH YANG TIDAK MA'SHUM, MAKA BOLEH ORANG YANG MENGETAHUINYA UNTUK BERBICARA, SESUAI AJARAN SALAF
Pertanyaan :
Assalamualaikum Ahsanallahu ilaikum ya syeikh abu Fairuz,,mohon faedah nya dengan ucapan seorang ust "' ana Anti TNTM di Ma'had ana tidak ada TNTM,ana ngga setuju dgn tntm,, dan kalau ada yg bilang ana mauqief ana ngga jelas dan mumayyi' dan ana bersikap ta'anni, Krn ana punya ulama فَسْـَٔلُوْٓ اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ , kalo anti abu hazim iya ,tapi ana selalu menunggu Kalam ulama Krn ulama adalah pewaris para Nabi,,mohon faedahnya jazakallahu khairan Barakallahu fiik.
--------------------------
Jawaban dengan memohon pertolongan pada Allah ta'ala :
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.
Hujjah telah ditegakkan dengan berbagai dalil dan Kaidah. Itu semua hanya boleh dibatalkan dengan hujjah yang lebih kuat, bukannya dengan alasan taanniy dan menunggu ulama, padahal ucapan ulama yang ditunggu ternyata tidak berisi hujjah yang kuat untuk meruntuhkan hujjah pihak pertama.
Allah ta'ala mengatakan:
اتبعوا ما أنزل إليكم من ربكم ولا تتبعوا من دونه أولياء.
"Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian, dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selain itu."
**Ayat ini dijadikan oleh ulama sebagai salah satu dalil tentang haramnya Taqlid.
Yang terpandang adalah pendalilan, bukan pendapat orang yang tidak ma'shum.**
Memang betul:
Secara adab adalah mendahulukan yang lebih berilmu dan lebih tua untuk berbicara.
Namun apabila kebenaran (yang terbukti didukung dengan dalil dan manhaj Salafush Shalih) dalam suatu masalah dikhawatirkan terkubur atau tersamarkan karena kekeliruan sikap tokoh yang tidak ma'shum, maka boleh orang yang mengetahuinya untuk berbicara, sesuai dengan ajaran Salaf.
Sekarang orang tua telah berbicara namun hujjahnya tidak sekuat hujjah yang disampaikan orang muda.
Dan orang muda berbicara dengan hujjah yang sangat kuat.
Kami tetap menghormati orang tua. Namun para pewaris para Nabi di zaman Salaf dan yang Setelahnya رضي الله عنهم telah berwasiat pada kami untuk menilai berdasarkan hujjah, bukannya kebesaran tokoh.
Dan kami taat pada wasiat para pewaris Nabi tersebut.
Sampai kapankah si fulan membungkus sikap taqlidnya dengan istilah taaniy dan rujuk pada orang besar?
Sampai kapankah dia meremehkan orang muda dan silau dengan kebesaran orang tua, sambil membutakan mata dari hujjah yang disampaikan?
Dan sampai kapankah dia menyembunyikan kesombongan di dalam jiwanya itu dengan ungkapan² yang indah dan menipu?
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم menyebutkan:
الكبر بطر الحق وغمط الناس.
"Kesombongan adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain." (HR. Muslim dari Ibnu Mas'ud رضي الله عنه).
Ibrahim رحمه الله berkata: Al Fudhail ditanya: “Apakah tawadhu’ itu?” beliau menjawab: “Engkau tunduk pada kebenaran dan menaatinya. Sekalipun engkau mendengarnya dari anak kecil, engkau menerimanya darinya. Sekalipun engkau mendengarnya dari orang yang paling bodoh, engkau menerimanya darinya.” (“Hilyatul Auliya”/3/hal. 392/cet. Dar Ummil Qura/atsar hasan).
Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata di dalam bantahan beliau terhadap orang yang mengekor pada sebagian tokoh besar: “Pendapat itu tidak menjadi benar disebabkan oleh keutamaan orang yang mengucapkannya. Tapi pendapat itu menjadi benar hanya disebabkan oleh penunjukan dalilnya.” (“Jami’ Bayanil Ilm”/2/hal. 174/cet. Dar Ibnil Jauziy).
Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata tentang ahli taqlid: “Dan mereka menggugurkan pemeriksaan dan pencarian terhadap ucapan-ucapan ulama Mutaqaddimin sama sekali di dalam masalah tadi, karena berbaik sangka kepada para tokoh (Mutaakhkhirin), dan mencurigai ilmu (yang benar), sehingga sikap tadi menjadi bid’ah yang terus berjalan.” (“Al I’tisham”/ hal. 539).
Al Imam Al Mujaddid Muqbil Bin Hadi Al Wadi’iy رحمه الله: “Hindarkan olehmu keterpedayaan dengan banyaknya para pendukung kebatilan, ataupun dengan gelar-gelar yang besar. Jadilah dirimu bersama kebenaran di manapun kebenaran itu berada." ("Al Makhraj Minal Fitnah"/Al Wadi’iy/hal. 70/ cet. Darul Atsar).
والله أعلم الصواب.
-----------------------------
(Dijawab Oleh : Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy Hafidzahullah)
Ahad, 18 Dzul Qa'dah 1445 / 26-5-2024
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy






























