MEMBANTAH SYUBHAT MUHAMMAD ABDUH TUASIKAL, YANG MENUKIL KALAM SYAIKH IBNU UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
MEMBANTAH SYUBHAT MUHAMMAD ABDUH TUASIKAL, YANG MENUKIL KALAM SYAIKH IBNU UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
--------------------
KETIKA SALAFIYAH DICORENG OLEH FANATISME
Fatwa dari Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah
✏️ Pertanyaan:
“Kami ingin mengetahui apa itu Salafiyah sebagai manhaj, apakah kami boleh mengakuinya atau menyandarkan diri kepadanya? Apakah kami boleh mengingkari orang yang tidak menyandarkan diri kepadanya atau yang mengingkari istilah ‘Salafi’ atau sejenisnya?”
✏️ Jawaban:
Segala puji bagi Allah.
“Salafiyah adalah mengikuti manhaj Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabatnya, karena merekalah yang telah mendahului kita dan memiliki keutamaan di atas kita. Maka mengikuti mereka adalah hakikat dari Salafiyah.
Adapun menjadikan Salafiyah sebagai manhaj khusus yang hanya diikuti oleh seseorang dan mencela siapa pun yang menyelisihi manhaj tersebut dari kalangan kaum Muslimin, meskipun mereka berada di atas kebenaran, atau menjadikan Salafiyah sebagai manhaj kelompok tertentu, maka hal ini jelas bertentangan dengan prinsip Salafiyah. Para salaf seluruhnya menyeru kepada persatuan dan kebersamaan dalam mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, dan mereka tidak mencela orang yang menyelisihi mereka dalam perkara ijtihad, kecuali dalam masalah akidah. Dalam masalah akidah, mereka memandang bahwa orang yang menyelisihi mereka adalah sesat. Namun dalam perkara amal praktis, mereka sangat memberikan kelonggaran.
Sayangnya, sebagian orang yang mengaku mengikuti Salafiyah di zaman ini mencela siapa pun yang menyelisihi mereka, meskipun yang benar ada pada pihak lain. Bahkan sebagian dari mereka menjadikan Salafiyah sebagai manhaj kelompok tertentu, seperti manhaj kelompok-kelompok lain yang juga mengatasnamakan Islam. Hal ini yang diingkari dan tidak dapat dibenarkan. Maka, hendaknya kita berkata: ‘Lihatlah kepada manhaj Salafus Salih, bagaimana mereka bersikap? Perhatikan metode mereka dalam menerima perbedaan pendapat dalam perkara ijtihad yang masih diperbolehkan.’ Bahkan mereka (Salafus Salih) berbeda pendapat dalam perkara-perkara besar, baik dalam akidah maupun amal, namun mereka tidak saling mencela.
Sebagai contoh, sebagian mereka berpendapat bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam melihat Rabb-Nya, sementara yang lain mengatakan tidak. Sebagian berpendapat bahwa yang ditimbang pada hari kiamat adalah amal, sedangkan yang lain berpendapat bahwa yang ditimbang adalah lembaran catatan amal. Dalam masalah fikih pun, mereka sering berbeda pendapat, seperti dalam pernikahan, warisan, jual beli, dan lainnya. Namun demikian, mereka tidak saling mencela satu sama lain.
Jadi, jika Salafiyah dijadikan sebagai kelompok khusus dengan ciri-ciri tertentu yang mencela siapa saja yang berada di luar kelompoknya, maka hal ini bukan bagian dari Salafiyah.
Adapun Salafiyah yang sebenarnya adalah mengikuti manhaj Salaf dalam akidah, ucapan, amal, persatuan, perbedaan, kesepakatan, kasih sayang, dan saling mencintai, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam: ‘Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan, kasih sayang, dan kelembutan mereka seperti satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.’ Inilah Salafiyah yang benar.”
(Disampaikan oleh Fadhilah Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam “Liqa’at al-Bab al-Maftuh” (3/246).)
Pernyataan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah sejalan dengan apa yang diajarkan oleh para ulama yang berusaha mengikuti manhaj salafush shalih. Namun, menjadikan label “Salafi” sebagai identitas kelompok dengan otoritas tertentu untuk menentukan siapa yang masuk atau keluar dari Salafiyah adalah bentuk fanatisme yang bertentangan dengan prinsip Salafiyah.
Sayangnya, keributan di dunia maya sering dipicu oleh akun-akun anonim atau sebagian individu yang tidak mempraktikkan nasihat ulama Salafi, seperti Syaikh Ibnu Utsaimin. Sementara itu, mereka yang konsisten mengikuti manhaj ini lebih sibuk dengan ilmu, amal, dan dakwah sehingga jarang terlihat di media sosial.
Ironisnya, yang mencuat justru perilaku individu-individu yang merusak kemuliaan Salafiyah.
Wallahu a’lam.
📚 Al-Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal
@ Playen - Panggang, 14 Rajab 1446 H
[25/1 09.40] Syaikhuna Abu Fairuz: Pertanyaan :
---------------------
Bismillaah,..mohon pencerahan nya y Syaikh perasaan ana ini banyak kontradiksinya dan masih membingungkan,..BAAROKALLOOHUFIIK,...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
lanjutan
(Dijawab Oleh : Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy Hafidzahullah)
Sabtu 24 Rajab 1446 / 24-1-2025
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy






























