Header Ads

MENANGGAPI PENGHINAAN DAN CACIAN YUSUF DAN ABDUL ALIM

MENANGGAPI PENGHINAAN DAN CACIAN YUSUF DAN ABDUL ALIM

Caci maki

Pertanyaan :

Bismillah..
sngat miris si miskin hujjah abdul alim dng yusuf jazair membuat laqob yg tdk pantas di sematkan untuk Ahlussunah dan mreka2 ini mnempuh yg dulu di lakukan abu hazim dan semisal pembela nya menjuluki laqob jelek kpda ust shiddiq dan jg syaikh abu fairuz.. Allahul Musta'an. Si miskin.. Tdk ilmiah. Ana blum dapati ucapan yg keluar dr syaikh abu fairuz maupun ustadz shiddiq ktika membantah mengluarkan laqob2 yg jelek. Kcuali mreka membantah dng bantahan ilmiah dan tdk mengorek2 masalah pribadi.. Terlihat lah siapa yg ilmiah. Abu Hatim kepanasan krna nasehat dia yg bukan pada tempat nya di tolak. Shingga yg dulu dia akui keilmuan syaikh abu fairuz dan ustadz shiddiq. Nmun ini hari dia berkata jahil.. Jahil.. Terlihat tdk ilmiah. Sgni yg katanya ulama?.
لا حول ولا قوة الا بالله
--------------------------

Jawaban dengan memohon pertolongan pada Allah ta'ala :

Jika memang penukilan tadi benar seperti yang disebarkan itu, maka komentar ana adalah:

Kalau sekedar caci makian dan penghinaan; maka in sya Allah hampir semua orang sampai bahkan anak kecil juga bisa, tidak perlu susah payah belajar ke para masyayikh.

Jika cara itulah yang ditempuh oleh Yusuf dan Abdul Alim, maka In sya Allah akan semakin nampak siapakah yang merasa besar dan tinggi sehingga memandang lawan debatnya jahil atau menganggap lawan debatnya bagaikan kotoran hewan.

Biarlah mereka berdua terkena Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم :

الكبر بطر الحق وغمط الناس.

"Kesombongan adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain." (HR. Muslim dari Ibnu Mas'ud رضي الله عنه).

In sya Allah caci makian atau penghinaan mereka tidak merugikan Ustadz Shiddiq ataupun ana ataupun ikhwah lainnya.

Jika mereka melontarkan cacian dan penghinaan, kita lanjutkan menyampaikan dalil dan atsar in sya Allah.

Al Imam Abu Bakr Muhammad Ath Thurthusyiy رحمه الله berkata: “Orang yang mendengkimu karena ilmumu; dia tidak akan mau menyimak ucapanmu. Orang yang dengki akan bergembira dengan ketergelinciranmu, dan memburuk-burukkan ketepatanmu.” (“Sirajul MuIuk” /Ath Thurthusiy/hal. 164).

**Al Imam Abu Bakr Muhammad Ath Thurthusyiy رحمه الله  berkata:** “Orang yang mana hawa nafsunya mengalahkan akalnya; dia akan terbongkar (kebusukannya -pen).”  (“Sirajul MuIuk” /Ath Thurthusiy/hal. 163).

Al Imam Ath Thurthusyiy رحمه الله berkata: "Orang yang tidak bersikap wara’ (berhati-hati, meninggalkan perkara yang dikhawatirkan membahayakan Akhiratnya -pen), di dalam ucapannya, maka akan nampaklah kejahatannya.” (“Sirajul MuIuk” /Ath Thurthusiy /hal. 163).

Adapun seorang Sunniy Salafiy pencari kebenaran, yang akalnya kokoh dan tidak terlumuri oleh bid'ah taqlid, dan tidak terpana oleh gemerlapnya jubah tokoh yang dianggap besar atau merasa dirinya besar; maka dia in sya Allah akan MENGGENGGAM KEBENARAN setelah jelas dalil dan hujjahnya, sekalipun datangnya bukan dari tokoh besar dan terkenal.

Ibrahim رحمه الله berkata: Al Fudhail ditanya: “Apakah tawadhu’ itu?” beliau menjawab: “Engkau tunduk pada kebenaran dan menaatinya. Sekalipun engkau mendengarnya dari anak kecil, engkau menerimanya darinya. Sekalipun engkau mendengarnya dari orang yang paling bodoh, engkau menerimanya darinya.” (“Hilyatul Auliya”/3/hal. 392/cet. Dar Ummil Qura/atsar hasan).

Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata di dalam bantahan beliau terhadap orang yang mengekor pada sebagian tokoh besar: “Pendapat itu tidak menjadi benar disebabkan oleh keutamaan orang yang mengucapkannya. Tapi pendapat itu menjadi benar hanya disebabkan oleh penunjukan dalilnya.” (“Jami’ Bayanil Ilm”/2/hal. 174/cet. Dar Ibnil Jauziy).

Lisanuddin Ibnul Khathib Al Andalusiy (w 776 H) رحمه الله berkata: “Maka sesungguhnya kebenaran adalah cahaya, tidak merugikannya jika dia muncul dari dari orang yang khamil (tersembunyi, tidak terkenal -pen).” (“Jamharatu Khuthabil Arab”/Ahmad Zaki/3/hal. 202).

Adapun si muqallid Abu Qatadah yang sering menyebarkan Kalimat² buruk macam tadi dari tokoh yang dikaguminya, maka tidak perlu digubris. Biar dia yang memikul dosa atas penyebaran tadi bersama kelompoknya.

Al Imam Abdul Azhim Al Mundziriy (w 656 H) رحمه الله berkata: “Orang yang menukilkan ilmu yang tidak bermanfaat yang menyebabkan dosa akan mendapatkan dosanya dan dosa orang yang membacanya, atau menukilkannya, atau mengamalkannya setelahnya; selama tulisannya itu masih ada dan selama masih diamalkan. (“At Targhib Wat Tarhib”/1/hal. 62).

والله أعلم الصواب.
سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك.
والحمد لله رب العالمين.

---------------------------------
(Dijawab Oleh : Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy Hafidzahullah)

Rabu 25 Syawal 1446 / 23-4-2025
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Diberdayakan oleh Blogger.