Header Ads

MENEKANKAN KEMBALI MAKNA ULAMA YANG HAKIKI

MENEKANKAN KEMBALI MAKNA ULAMA YANG HAKIKI

باسم الله.
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Syaikh bagaimna cara yg benar memahami kalam syaikh muqbil ini syaikh.. Apkh stiap orang yg membatah yg dia katanya seorang ulama pdahal bukan ulama hakiki krn menebar syubhat lalu yg membantah itu maftun?
----------------------------
Jawaban dengan memohon pertolongan pada Allah ta'ala :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

Telah kita lewati pembahasan kriteria ulama yang hakiki.

Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata: “Dan ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwasanya ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat dan kitab-kitab. Orang alim itu hanyalah orang yang mengikuti ilmu dan sunnah-sunnah, sekalipun dirinya itu sedikit ilmu dan kitab-kitabnya. Dan barangsiapa menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah، maka dia adalah ahli bid’ah, sekalipun dia itu banyak ilmu dan kitab-kitabnya.” (“Syarhus Sunnah”/Al Barbahariy/hal. 99).

Al Imam Abul Qasim Al Ashbahaniy رحمه الله berkata: “Dan bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat. Ilmu itu hanyalah ittiba’ (mengikuti Nabi ﷺ -pen) dan isti’mal (menggunakan dan mengamalkan ilmu -pen)، dia meneladani para Sahabat dan Tabi’in، sekalipun dirinya sedikit ilmunya. Dan barangsiapa menyelisihi Sahabat dan Tabi’in maka dia itu tersesat، sekalipun dia itu banyak ilmunya.” (“Al Hujjah Fi Bayanil Mahajjah”/Al Ashfahaniy/2/hal. 469).

Al Imam Abu Nashr As Sijziy رحمه الله berkata: “Maka para imam pembawa kebenaran adalah orang-orang yang mengikuti Kitab dari Rabb mereka سبحانه, orang-orang yang mengikuti Sunnah Nabi mereka ﷺ, orang-orang yang berpegang teguh dengan atsar-atsar Salaf mereka, yang mana mereka diperintahkan untuk meneladani mereka.” (“Risalatun Ila Ahli Zabid”/As Sijziy/hal. 206/ cet. Al Majlisul Ilmi Fil Jami’atil Islamiyyah Bil Madinah).

Maka barangsiapa sengaja menyelisihi hujjah demi memberikan perlindungan (secara total atau parsial) terhadap mubtadi'ah, dan justeru menghina dan mencerca Ahlussunnah yang menegakkan hujjah, maka derajat ilmunya melemah dan goyah.

Makanya diriwayatkan dengan sanad yang shahih oleh Al Imam Ad Darimiy dalam "Sunan" (330) dari Sufyan Bin Uyainah رحمه الله yang berkata: "Orang yang paling jahil adalah orang yang meninggalkan apa yang dia ketahui. Dan orang yang paling berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang dia ketahui. Dan orang yang paling utama adalah orang yang paling khusyu' kepada Allah."

maka jangan salahkan Ahlussunnah yang balas mencercanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: "... Dan bahwasanya barangsiapa duduk atau berdiri di hadapan tombak Ahlul Iman, maka dialah yang menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kehinaan." ("Majmu'ul Fatawa" /11/hal. 455).

Al Imam Al Hafidh Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

من سبَ بالبُرهان ليس بظالمٍ والظلمُ سبُ العبدِ بالبهتان

“Barangsiapa mencela dengan disertai bukti maka dia itu bukanlah termasuk orang yang dzalim. Dan kedzaliman itu adalah celaan seseorang dengan kedustaan.” (“An Nuniyyah”)

Syaikh Muhammad Khalil Harrash رحمه الله berkata:
“Sesungguhnya barangsiapa yang mencela lawan bicaranya dengan dalil maka dia itu bukanlah termasuk orang yang zhalim. Dan bukan termasuk orang yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Akan tetapi kezhaliman itu adalah celaan seseorang dengan kepalsuan dan kebohongan.” (“Syarhun Nuuniyyah”/ 2/ hal. 340).

والله أعلم الصواب.
والحمد لله رب العالمين.
--------------------------
(Dijawab Oleh : Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy Hafidzahullah)

Kamis 5 Jumadil Awwal 1446 / 7-11-2024
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Diberdayakan oleh Blogger.