Header Ads

MENJELASKAN KEBENARAN DAN MENEGAKKAN PERSAKSIAN TANPA TAKUT CELAAN PARA PENCELA

MENJELASKAN KEBENARAN DAN MENEGAKKAN PERSAKSIAN TANPA TAKUT CELAAN PARA PENCELA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ahsanallahu ilaikum yaa Syaikhona, Apakah Membicarakan Kesalahan Para Masyayikh dalam menyikapi fitnah Abu Hazim termasuk ghibah terhadap Masyaikh sebagaimana perkataan Abu Adam Al Maliziy bahwa Masyayikh yg disebut2 dlm Fitnah Abu Hazim bukan hizbi mubtadi', maka tidak layak dighibahi kerana ghibah adalah dosa besar. Juga menjauhkan guru2 yakni masyayikh dari murid2 yakni tullab adalah dosa besar. Mohon Penjelasannya yaa Syaikhona akan permasalahan ini
-----------------------------
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

Abu Adam sudah sangat berubah.
Dulu saat Abu Adam masih nampak kokoh, dia banyak mengkritik masyayikh atas sikap² mereka yang tidak adil dan berat sebelah serta berubah² dalam menegakkan dalil dan Kaidah.

Namun sekarang dia banyak mengiklankan keilmuan masyayikh Yaman, dalam situasi fitnah Abu Hazim.

Ana sekedar menampilkan persaksian ana dan persaksian para asatidzah tsabitin حفظهم الله tentang sikap masyayikh dalam fitnah Abu Hazim, tahu² Abu Adam tidak rela dengan alasan para masyayikh tadi bukan hizbiy mubtadi'.

Dia mengghibahi ana banyak sekali dan tidak peduli, padahal ana bukan hizbiy mubtadi'.

Keridhoan manusia atau ketidakridhoan mereka dalam masalah manhaj tidak perlu dipedulikan.

Abu Fairuz adalah yang memberikan keterangan, dan Abu Fairuz ridho itu disebarkan.

Ini adalah pelaksanaan firman Allah ta'ala :

وأقيموا الشهادة لله.

"Dan tegakkanlah persaksian untuk Allah."

Juga firman Allah ta'ala :

ولا تكتموا الشهادة ومن يكتمها فإنه آثم قلبه.

"Dan janganlah kalian menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa menyembunyikannya maka sesungguhnya jantungnya berdosa."

Menjelaskan kebenaran dan menampilkan persaksian tatkala kebenaran nyaris terkubur dan ahli sangat terasing di tengah lautan manusia itu adalah nasihat untuk umat dan bukan ghibah yang diharamkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Maka dari itu boleh, bahkan wajib untuk kita menerangkan kebenaran yang wajib untuk diikuti, sekalipun di dalamnya ada penjelasan tentang kesalahan orang yang salah dari kalangan ulama dan umara.” (“Majmu’ul Fatawa”/19/hal. 123).

والله أعلم الصواب.
وحسبنا الله ونعم الوكيل.
والحمد لله رب العالمين
-----------------------------

(Dijawab Oleh : Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy Hafidzahullah)

Jum'at, 16 Dzul Qa'dah 1445 / 24-5-2024
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Diberdayakan oleh Blogger.