Header Ads

PENGERTIAN ULAMA YANG HAKIKI

 PENGERTIAN ULAMA YANG HAKIKI

Bismillah..

'Afwan syaikh.. Bagaimana mksd perkataan syaikh sholeh al Fauzan ini. Apkh yg di mksd adalah ulama yg berjalan di atas aqidah yg shahihah atau stiap orang yg bergelar ulama namun sombong dan mrendahkan yg katanya bukan ulama?
-------------------------
Jawaban dengan memohon pertolongan pada Allah ta'ala :

Mayoritas manusia mempercayai ulama sesuai dengan kriteria ulama yang mereka tahu.
Makanya kita lihat sendiri pada kenyataannya:

Orang² Bani Israil mempercayai ulama Bani Israil, dan tidak mempercayai ulama Muslimin.

Demikian pula para penganut agama lain.

Dan mereka adalah orang-orang yang ditipu oleh para pemuka agama mereka.

Mayoritas Muslimin sekarang lebih percaya pada ulama Shufiyyah Asya'irah. Dan mereka terpedaya.

Padahal Allah ta'ala berfirman :

إنما يخشى الله من عباده العلماء.

"Hanyalah yang takut kepada Allah dari kalangan para hamba-Nya adalah para ulama".

Ini menunjukkan bahwasanya ulama yang hakiki adalah orang yang mengenal Allah, lalu menaati-Nya, bukannya lancang berbuat kesyirikan dan kekufuran atau membela pelakunya, bukan pula berbuat bid'ah ataupun membela pelakunya, bukan pula berbuat kefasikan atau membela pelakunya.
Mereka takut pada Allah sehingga mereka tidak berani lancang melakukan perbuatan² tadi.

Makanya diriwayatkan dengan sanad yang shahih oleh Al Imam Ad Darimiy dalam "Sunan" (330) dari Sufyan Bin Uyainah رحمه الله yang berkata: "Orang yang paling jahil adalah orang yang meninggalkan apa yang dia ketahui. Dan orang yang paling berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang dia ketahui. Dan orang yang paling utama adalah orang yang paling khusyu' kepada Allah."

Makanya para aimmah Salafiyyin telah menyebutkan kriteria dan hakikat aimmah dan ulama.

Al Imam Al Barbahariy رحمه الله berkata: “Dan ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwasanya ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat dan kitab-kitab. Orang alim itu hanyalah orang yang mengikuti ilmu dan sunnah-sunnah, sekalipun dirinya itu sedikit ilmu dan kitab-kitabnya. Dan barangsiapa menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah، maka dia adalah ahli bid’ah, sekalipun dia itu banyak ilmu dan kitab-kitabnya.” (“Syarhus Sunnah”/Al Barbahariy/hal. 99).

Al Imam Abul Qasim Al Ashbahaniy رحمه الله berkata: “Dan bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat. Ilmu itu hanyalah ittiba’ (mengikuti Nabi ﷺ -pen) dan isti’mal (menggunakan dan mengamalkan ilmu -pen)، dia meneladani para Sahabat dan Tabi’in، sekalipun dirinya sedikit ilmunya. Dan barangsiapa menyelisihi Sahabat dan Tabi’in maka dia itu tersesat، sekalipun dia itu banyak ilmunya.” (“Al Hujjah Fi Bayanil Mahajjah”/Al Ashfahaniy/2/hal. 469).

Al Imam Abu Nashr As Sijziy رحمه الله berkata: “Maka para imam pembawa kebenaran adalah orang-orang yang mengikuti Kitab dari Rabb mereka سبحانه, orang-orang yang mengikuti Sunnah Nabi mereka ﷺ, orang-orang yang berpegang teguh dengan atsar-atsar Salaf mereka, yang mana mereka diperintahkan untuk meneladani mereka.” (“Risalatun Ila Ahli Zabid”/As Sijziy/hal. 206/ cet. Al Majlisul Ilmi Fil Jami’atil Islamiyyah Bil Madinah).

Dan kriteria dari mereka dan dari para imam semacam merekalah yang terpandang, sama saja apakah mayoritas orang percaya pada mereka ataukah tidak, dan sama saja apakah jumlah mereka itu banyak ataukah sedikit.

Al Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: “Maka jika engkau berhasil mendapatkan satu orang dari ahli ilmu yang mencari dalil, berhukum kepada dalil, dan mengikuti kebenaran dari arah manapun kebenaran tadi datang, di manapun kebenaran itu berada, dan bersama siapapun kebenaran itu; sirnalah kesepian, dan dihasilkanlah keakraban.” ("I'lamul Muwaqqi'in"/3/hal. 396).

Dalil dan kebenaran tidak keluar dari Jamaah Salafush Shalih, bahkan merekalah jamaah yang sejati, sekalipun pengikut mereka hanya tinggal satu alim saja di suatu masa.

Al Imam Abu Syamah Ad Dimasyqiy رحمه الله berkata: "Di mana saja datang perintah untuk berpegang pada Al Jama'ah, maka yang dimaksudkan dengannya adalah berpegang pada al haq dan mengikutinya, sekalipun orang yang berpegang teguh dengannya itu sedikit, dan yang menyelisihinya itu banyak, karena al haq itu adalah sesuatu yang di atasnya itulah Al Jamaah yang pertama dari zaman Rasulullah ﷺ dan para Shahabatnya. Dan tidak perlu melihat pada banyaknya ahlul bathil sepeninggal mereka. ("Al Ba'its 'Ala Inkaril Bida' wal Hawadits"/Abu Syamah/ 1/hal. 22).

والله أعلم الصواب.
والحمد لله رب العالمين.
--------------------------
(Dijawab Oleh : Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy Hafidzahullah)

Senin 18 Rabi'ul Akhir 1446 / 21-10-2024
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Diberdayakan oleh Blogger.