RA'YU ULAMA BUKAN HUJJAH, HUJJAH ADALAH ALQUR'AN DAN SUNNAH DENGAN PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH
RA'YU ULAMA BUKAN HUJJAH, HUJJAH ADALAH ALQUR'AN DAN SUNNAH DENGAN PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH
Pertanyaan :
Bismillah.syaikh,kalau tidak salah ana pernah dengar ceramahnya syaikh fauzan..beliau ditanya apakah boleh mempelajari ilmu hadits kepada yg selain bermanhaj salaf dan syaikh menjawab,boleh asalkan tidak mempelajari aqidah darinya...afwan baarokallahu fiika apakah benar demikian atau gimana syaikh? Sebagian ikhwa disini atau yg dekat dengan dzulqornain menjadikan jawaban syaikh fauzan sebagai hujjah sehingga mereka qiyaskan juga boleh mempelajari ilmu² lain (contohnya dalam ilmu tajwid) yg penting bukan ilmu aqidah & manhaj
-------------------
Jawaban dengan memohon pertolongan pada Allah ta'ala ;
Perlu dibuktikan dalam rekaman atau tulisan agar lebih jelas bagaimana teks ucapan beliau.
Lagi pula ra'yu ulama bukan hujjah. Hujjah adalah dalil Al Qur'an dan As Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih رضي الله عنهم.
Al Allamah Ibnu Aqil Al Hanbaliy رحمه الله berkata: “Hanyalah yang menjadi patokan adalah dalil-dalil, bukannya keyakinan para tokoh. Mereka itu hanyalah membina masalah ini di atas penyandaran mereka pada taqlid (sikap mengekor tanpa tahu dalil pemimpin mereka –pen), merasa tenteram dengan kehadiran orang lain, dan merasa kesepian jika bersendirian di dalam memegang keyakinan. Padahal orang yang berakal tidak akan merasa kesepian di dalam kesendirian, dan tidak merasa tenteram karena banyaknya orang. Bahkan kepercayaannya adalah pada dalil, dan
kelemahannya adalah tatkala tidak ada dalil.” (“Al Wadhil Fi Ushulil Fiqh”/Ibnu Aqil/1/hal. 280).
Al Imam Abu Nashr As Sijziy رحمه الله (w 444 H) berkata: “Maka orang yang mengikuti atsar wajib untuk diutamakan dan dimuliakan, sekalipun usianya muda dan nasabnya tidak mulia. Sedangkan orang yang menyelisihi atsar itu wajib untuk dijauhi sekalipun usianya tua dan nasabnya mulia.” (“Risalatun Ila Ahli Zabid Fir Raddi ‘Ala Man Ankaral Harf Wash Shaut”/As Sijziy/hal. 220/ cet. Al Majlisul Ilmi Fil Jami’atil Islamiyyah Bil Madinah).
Tolok ukur kebenaran adalah kesetiaan pada jalan Salaf, bukan pendapat orang yang mutaakhhirin.
Al Imam Ibnu Qudamah رحمه الله berkata: “Lalu Nabi ﷺ mengabarkan bahwasanya Firqah Najiyah (kelompok yang selamat) adalah yang berada di atas jalan yang mana beliau dan para Sahabat beliau ada di atasnya. Maka jika demikian orang yang mengikuti mereka itulah yang termasuk dari Firqatun Najiyah, karena dia ada di atas jalan yang mana mereka ada di atasnya. Dan orang yang menyelisihi mereka itu termasuk dari tujuh puluh dua sekte yang ada di dalam Neraka.” (“Dzammut ta’wil”/Ibnu Qudamah/hal. 29).
والله أعلم الصواب.
والحمد لله رب العالمين..
---------------------------
(Dijawab Oleh : Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy Hafidzahullah)
Jum'at 2 Muharram 1447 / 27-6-2025






























