-->

Header Ads

Tentang Ahli Taqlid

 🎙Faedah dari status Syaikh Abu Fairuz حفظه الله: 

📚Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata tentang ahli taqlid: "Dan mereka menggugurkan pemeriksaan dan pencarian terhadap ucapan-ucapan ulama Mutaqaddimin sama sekali di dalam masalah tadi, karena berbaik sangka kepada para tokoh (Mutaakhkhirin), dan mencurigai ilmu (yang benar), sehingga sikap tadi menjadi bid'ah yang terus berjalan." ("Al I'tisham"/ hal. 539).

📚Al Imam Ibnu Abdil Barr رحمه الله berkata di dalam bantahan beliau terhadap orang yang mengekor pada sebagian tokoh besar: "Pendapat itu tidak menjadi benar disebabkan oleh keutamaan orang yang mengucapkannya. Tapi pendapat itu menjadi benar hanya disebabkan oleh penunjukan dalilnya." ("Jami' Bayanil Ilm"/2/hal. 174/cet. Dar Ibnil Jauziy)

📚 Al Imam Asy Syaukaniy رحمه الله berkata: "Dan seorang muta'ashshib (fanatikus membela sesuatu yang tentu saja tidak ma'shum -pen) itu sekalipun mata kepalanya sehat, namun mata hatinya itu buta, dan telinganya tuli dari mendengarkan kebenaran. Dia menolak kebenaran dalam keadaan dia menyangka bahwasanya dia tidak menolak selain kebatilan. Dan dia mengira bahwasanya perkara yang mana dia tumbuh di dalamnya itulah kebenaran. Itu merupakan kelalaian dan kejahilan darinya terhadap perkara yang Allah wajibkan terhadapnya untuk memiliki sudut pandang yang benar, dan menyambut apa yang didatangkan oleh Al Qur'an dan As Sunnah dengan ketundukan dan penerimaan.” (“Fathul Qadir"/3/hal.)

📚Ibrahim رحمه الله berkata: Al Fudhail ditanya: "Apakah tawadhu' itu?" beliau menjawab: "Engkau tunduk pada kebenaran dan menaatinya. Sekalipun engkau mendengarnya dari anak kecil, engkau menerimanya darinya. Sekalipun engkau mendengarnya dari orang yang paling bodoh, engkau menerimanya darinya." ("Hilyatul Auliya”/3/hal. 392/ cet. Dar Ummil Qura/atsar hasan).

📚Al Imam Asy Syathibiy رحمه الله berkata: "Amalan orang alim telah menjadi hujjah menurut orang awwam, sebagaimana ucapan orang alim juga dijadikannya sebagai hujjah yang mutlak dan menyeluruh dalam fatwa. Maka berkumpullah pada orang awwam ini amalan yang disertai keyakinan akan bolehnya perbuatan itu dengan adanya

syubhah (kekaburan) dalil. Dan ini benar-benar merupakan kebid'ahan itu sendiri." ("Al I'tisham"/1/hal. 364).

Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Diberdayakan oleh Blogger.