BREAK
  • Memuat berita terbaru...

Abdullah Al Jarbu’

Abdullah Al Jarbu’ juga telah membuat kedustaan yang besar atas nama Al Imam Ibnu Baz رحمه الله, yang mana dengan lancang dia berkata: “Jika orang-orang Murjiah tadi menyatakan bahwasanya si Fulan itu termasuk dari Haddadiyyah, tahulah kita bahwasanya dia itu ada di atas jalan Asy Syaikh Ibnu Baz. Ini akan engkau pahami secara langsung.” Al Imam Ibnu Baz رحمه الله, adalah salah satu dari imam Salafiyyin di zaman ini, dan beliau jauh dengan pemikiran Haddadiyyah. Dan akan datang di dalam kitab ini -in sya Allah- penelitian tentang ucapan-ucapan Al Imam Ibnu Baz رحمه الله dalam masalah udzur kejahilan, dan penegakan hujjah sebelum mengkafirkan orang tertentu, serta sikap beliau terhadap pihak yang berpendapat bahwasanya udzur kejahilan itu masih ada; yang mana itu semua menunjukkan bahwasanya Al Imam Ibnu Baz رحمه الله tidak berada di atas jalan Haddadiyyah, dan tidak pula berada di atas jalan Abdullah Al Jarbu’ dan yang semisalnya.

Jarbu

Dan termasuk dari kebatilan Abdullah Al Jarbu’ adalah: di dalam kitab dia “Atsarul Iman Fi Tahshinil Ummatil Islamiyyah Dhiddal Afkaril Haddamah” (1/102-104, dan 152), juga (2/469, 491, 542-544, dan 668-669) dia menukilkan ucapan-ucapan Sayyid Quthb, salah satu pemimpin Firqah Ikhwanul Muslimin, yang bermudah-mudah untuk mengkafirkan kaum Muslimin. Abdullah Al Jarbu’ melakukan itu demi melengkapi kitabnya itu, atau di saat menafsirkan sebagian ayat Al Qur’an. Padahal umat Islam tidak memerlukan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb, dan banyak dari umat ini yang tidak selamat dari racun dia.

Di dalam catatan kaki kitab tadi Abdullah Al Jarbu’ menggelari Sayyid sebagai “Pemikir, Ahli Sastra.” Dia juga menyanjungnya dengan perkataannya: “Pembelajaran-pembelajaran (yang dilakukan Sayyid Quthb -pen) tadi mengandungi pembahasan-pembahasan yang bagus di bidang penggambaran sastra, kritikan terhadap peradaban Barat yang bersifat materialis, pemikiran Komunis dan peraturan-peraturan keuangan. Dan aku telah menukilkan petikan-petikan darinya di dalam kitab ini.”

Di dalam catatan kaki kitab tadi; Abdullah Al Jarbu’ juga telah menyebutkan kesalahan-kesalahan dan kejahilan Sayyid Quthb, serta jauhnya dia dari manhaj Salaf.
Abdullah Al Jarbu’ juga menyebutkan bahwasanya beberapa tokoh telah mengeluarkan bantahan terhadap Sayyid Quthb.
Dengan cara tadi Abdullah Al Jarbu’ telah menempuh metode muwazanah (menampilkan timbangan antara kebaikan dan keburukan -pen), dan itu adalah metode bid’ah yang didakwahkan oleh Sururiyyin Quthbiyyin, menyelisihi manhaj Salaf رضي الله عنهم.

Al Hafizh Ibnu Abid Duniya رحمه الله berkata di dalam kitab “Dzammul Kadzib” no. (86): haddatsani Abu Shalih yang berkata: aku mendengar Rafi’ Bin Asyras yang berkata: dahulunya dikatakan: “Sesungguhnya termasuk dari hukuman untuk seorang pendusta adalah: kejujurannya tidak diterima.” Beliau berkata: dan aku berkata: “Dan termasuk dari hukuman untuk orang fasik mubtadi’ adalah: kebaikan-kebaikannya tidak disebutkan.”

Fadhilatusy Syaikh Ahmad Bin Yahya An Najmiy رحمه الله berkata tentang orang yang menyatakan bahwasanya disebutkannya kebaikan-kebaikan orang yang sedang dibantah tatkala kita sedang membantahnya merupakan suatu wujud keadilan: “Menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang sedang dibantah tatkala kita sedang membantahnya itu bukanlah termasuk dari keadilan. Bahkan sesungguhnya orang yang membantah orang lain sambil menyebutkan kebaikan-kebaikannya; dia ini dinilai telah mentazkiyah (memberikan pujian dan rekomendasi -pen) dan menghasung manusia untuk mengikuti orang yang dibantah tadi.” -Sampai pada ucapan beliau:- “Dan tidak ada satu orangpun yang mengucapkan pola tadi (menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang sedang dibantah tatkala kita sedang membantahnya -pen) melainkan para hizbiyyun yang mendatangkan perkara-perkara yang tidak Allah turunkan dalil pendukungnya. Itu termasuk dari perkara yang dibisikkan oleh setan yang terkutuk.” (“Al Fatawal Jaliyyah”/An Najmiy/2/hal. 144-145/cet. Darul Minhaj).

Tatkala para hizbiyyin menampilkan bid’ah muwazanah, Al Imam Al Albaniy رحمه الله berkata: “Allah ta’ala berfirman:

﴿لَا يُحِبُّ اللهُ الْـجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِم﴾ [النساء/148]

“Allah tidak suka perkataan yang buruk kecuali orang yang dianiaya.”

Maka jika seorang yang teraniaya berkata: “Si Fulan menganiaya diriku,” Apakah akan dikatakan padanya: “Sebutkanlah kebaikan-kebaikan yang dimilikinya, wahai Saudaraku”? Demi Allah, itu adalah kesesatan yang baru, termasuk dari perkara yang paling mengherankan yang lontarkan di lapangan dakwah di zaman ini. Dan aku meyakini bahwasanya perkara yang menyebabkan para pemuda membuat perkara baru tadi, dan mengikuti kebid’ahan tadi adalah: Kesukaan untuk menampak-nampakkan diri.” Dan di masa lampau dikatakan: “Kesukaan untuk menampak-nampakkan diri akan mematahkan tulang belakang.” (Selesai yang diinginkan dari rekaman “Manhajul Muwazanah”/no. (86)/pembukaan kitab “Al Mahajjatul Baidha”/hal. 14/karya Asy Syaikh Rabi’ Al Madkhaliy رحمه الله).

Fadhilatusy Syaikh Shalih Bin Muhammad Al Luhaidan -kepala Majelis Kehakiman Tertinggi dan anggota Panitia Kibarul Ulama- رحمه الله berkata: “Ini adalah dakwaan-dakwaan dari orang yang bodoh terhadap kaidah-kaidah jarh wat ta’dil (kritikan dan pujian -pen), dan bodoh terhadap sebab-sebab realisasi kemaslahatan, dan terhadap cara-cara menghindar dari hilangnya kemaslahatan.” (Ceramah “Salamatul Manhaj Dalilul Falah”/ “Al Mahajjatul Baidha”/hal. 17-18/karya Asy Syaikh Rabi’ Al Madkhaliy رحمه الله).

(Bersambung, in syaa Allah )
___
(“Ikramul Kahl Bi Ibrazit Tafashil Fi Masalatil ‘Udzr Bil Jahl” | Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy حفظه الله )
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Lebih baru Lebih lama