BREAK
  • Memuat berita terbaru...

Fasal Dua: Pentingnya Berjihad Memakai Ilmu

Fasal Dua: Pentingnya Berjihad Memakai Ilmu

Jihad

Jihad kaum Muslimin yang paling agung pada hari ini adalah jihad dengan lidah dan pena kepada seluruh ahli batil, semampu mungkin. Dan tiada jalan untuk itu kecuali dengan mempelajari agama Allah ta’ala dan mengamalkannya, serta berdakwah ke jalan Allah عز وجل.

Dan termasuk pendekatan diri yang terbesar kepada Allah adalah: mencari ilmu syar’iy.

Al Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: “Sisi keseratus delapan: sesungguhnya kebanyakan para imam telah terang-terangan menyatakan bahwasanya amalan yang paling utama setelah perkara yang wajib-wajib adalah mencari ilmu. Asy Syafi’iy berkata: “Tiada sesuatu setelah kewajiban-kewajiban yang lebih utama daripada menuntut ilmu.” Dan inilah yang disebutkan oleh para pengikut beliau dari beliau bahwasanya itu adalah madzhabnya. Dan demikian juga perkataan Sufyan Ats Tsauriy, dan dihikayatkan oleh para hanafiyyah dari Abu Hanifah.

Adapun Al Imam Ahmad maka dihikayatkan dari beliau tiga riwayat: salah satunya: yang paling utama setelah kewajiban adalah mencari ilmu, karena ditanyakan pada beliau: apa yang lebih Anda sukai: “Saya duduk di malam hari menyalin (menulis kembali ilmu) ataukah saya shalat sunnah?” Beliau menjawab: “Penyalinan yang engkau lakukan yang dengannya engkau jadi tahu urusan agamamu, maka itu lebih aku sukai.” Dan Al Khallal menyebutkan dari beliau dalam “Kitabul Ilm” nash-nash yang banyak tentang pengutamaan ilmu. Dan termasuk dari ucapan beliau juga: “Manusia itu lebih perlu kepada ilmu daripada keperluan mereka pada makan dan minum.”…(dan seterusnya).” (“Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 150/cet. Al Maktabatul ‘Ashriyyah).

Al Imam Ibnu Ibnul Qayyim رحمه الله berkata: “Dan hanyalah menuntut ilmu itu dijadikan sebagai bagian dari jalan Allah karena dengan itulah tegaknya Islam, sebagaimana tegaknya Islam adalah dengan jihad. Maka tegaknya agama ini adalah dengan ilmu dan jihad. Maka dari itu jihad ada dua jenis: jihad dengan tangan dan tombak, dan yang bersekutu di dalamnya banyak orang.

Yang kedua adalah: jihad dengan hujjah dan keterangan. Dan itu adalah jihad orang yang khusus dari para pengikut Rasul. Dan itu adalah jihadnya para imam, dan itu adalah jihad yang paling utama karena keagungan manfaatnya, beratnya bebannya dan banyaknya musuh-musuhnya. Allah ta’ala berfirman dalam surat Al Furqan ,dan dia adalah surat yang turun di Mekkah:

﴿فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا ﴾ [الفرقان: 52].

“Maka janganlah engkau menaati orang-orang kafir, dan perangilah mereka dengan peperangan yang besar.”

Maka ini adalah peperangan terhadap mereka dengan menggunakan Al Qur’an. Dan itu adalah perang melawan para munafikin juga, karena para munafikin itu dulu tidak memerangi kaum Muslimin, bahkan mereka menyertai kaum Muslimin secara lahiriyah, dan terkadang mereka memerangi musuh Muslimin bersama Muslimin. Sekalipun demikian Allah ta’ala telah berfirman:

﴿يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالـْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ﴾ [التوبة: 73].


“Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan munafik, dan bersikap keraslah engkau kepada mereka.”

Dan telah diketahui bersama bahwasanya memerangi para munafik itu adalah dengan hujjah dan Al Qur’an. Dan maksud saya adalah: bahwasanya jalan Allah adalah jihad dan menuntut ilmu, dan mengajak para makhluk kepada Allah.”
(Selesai dari “Miftah Daris Sa’adah”/1/hal. 70).

Al Imam Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy (w 1376 H) رحمه الله dalam tafsir firman Allah ta’ala:

﴿وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَـمَعَ الْـمُحْسِنِينَ﴾

"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami, pastilah Kami akan memberi mereka petunjuk kepada jalan-jalan keridhaan Kami, dan sesungguhnya Allah itu benar-benar bersama dengan orang yang berbuat ihsan." (QS. Al 'Ankabut: 67).

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami” mereka itu adalah orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, melawan musuh-musuh mereka, mencurahkan kesungguhan mereka dalam mengikuti keridhaan-Nya “Pastilah Kami akan memberi mereka petunjuk kepada jalan-jalan keridhaan Kami” yaitu: jalan-jalan yang menyampaikan kepada Kami. Dan yang demikian itu dikarenakan mereka itu adalah orang-orang yang berbuat ihsan. “Dan sesungguhnya Allah itu benar-benar bersama dengan orang yang berbuat ihsan” dengan pertolongan, kemenangan dan hidayah. Ini menunjukkan bahwasanya orang yang paling layak mencocoki kebenaran adalah ahli jihad. Dan ini juga menunjukkan bahwasanya barangsiapa berbuat baik terhadap apa yang diperintahkan, Allah akan menolongnya dan memudahkan untuknya sebab-sebab hidayah. Dan ini juga menunjukkan bahwasanya barangsiapa bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam mencari ilmu syar’iy, maka sesungguhnya dia akan mendapatkan hidayah dan pertolongan untuk mendapatkan apa yang dicarinya, dengan perkara-perkara ilahiyyah yang di luar dari apa yang boleh dicapai oleh kerja kerasnya, dan mudahlah baginya urusan ilmu, karena sesungguhnya menuntut ilmu syar’iy merupakan bagian dari jihad fi sabilillah. Bahkan dia itu salah satu dari dua jenis jihad, yang tidak mampu ditegakkan kecuali oleh makhluk-makhluk yang khusus, yaitu jihad dengan ucapan dan lisan, terhadap orang-orang kafir dan munafikin, dan jihad untuk mengajarkan urusan agama, dan untuk menolak penyelisihan orang-orang yang menyelisihi kebenaran, sekalipun mereka adalah dari kalangan muslimin.”
(Selesai dari “Taisirul Karimir Rahman”/hal. 763).

Al Imam Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata: “Allah سبحانه وتعالى telah memuji ilmu dan ahli ilmu, dan mendorong para hamba-Nya untuk mencari ilmu dan menambah bekal darinya. Demikian pula sunnah yang suci. Maka ilmu adalah termasuk amal shalih yang paling utama, dan dia itu termasuk ibadah yang paling utama dan paling agung, ibadah tathawwu’ (mustahab -pen), karena dia itu adalah satu jenis dari jihad fi sabilillah, karena sesungguhnya agama Allah عز وجل hanyalah tegak dengan dua perkara:
Yang pertama: ilmu dan burhan.
Yang kedua: peperangan dan tombak.
Kedua perkara ini wajib ada. Dan tidak mungkin agama Allah tegak dan menang kecuali dengan keduanya secara bersamaan.
Yang pertama lebih didahulukan daripada yang kedua. Oleh karena itulah dulu Nabi ﷺ tidak menyerang mendadak terhadap suatu kaum hingga dakwah ilallah عز وجل itu sampai pada mereka, sehingga jadilah ilmu itu mendahului peperangan.”
(Selesai dari “Kitabul ‘Ilm”/hal. 13/cet. Daruts Tsurayya).

Dan demikian pula bantahan terhadap pengekor hawa nafsu, dan memperingatkan umat dari mereka itu termasuk ibadah yang terbesar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: "Dan seperti para pemimpin kebid'ahan dari kalangan pemilik ucapan-ucapan yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, atau ibadah-ibadah yang menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah, maka penjelasan keadaan mereka, dan memperingatkan umat terhadap mereka adalah wajib, dengan kesepakatan muslimin. Sampai dikatakan pada imam Ahmad bin Hanbal: "Seseorang yang berpuasa, shalat dan I'tikaf lebih Anda sukai ataukah orang yang berbicara tentang ahlul bida'?" Maka beliau menjawab,"Jika dia berpuasa, shalat dan I'tikaf, maka hanyalah hal itu untuk dirinya sendiri. Tapi jika dia berbicara tentang ahlul bida' maka itu hanyalah untuk muslimin, dan itu lebih utama." Maka beliau menerangkan bahwasanya manfaat amalan yang ini mencakup seluruh muslimin di dalam agama mereka, dari jenis jihad fisabilillah."  ("Majmu'ul Fatawa" 28/hal. 231-232).
Beliau رحمه الله juga berkata: "Maka orang yang membantah ahlul bida' adalah mujahid. Sampai-sampai Yahya bin Yahya berkata: "Pembelaan terhadap sunnah itu lebih utama daripada jihad."." ("Majmu'ul Fatawa"/4/hal. 12).

Muhammad bin Yahya Adz Dzuhliy رحمه الله berkata: "Aku mendengar Yahya bin Ma'in berkata: "Pembelaan terhadap sunnah itu lebih utama daripada jihad fi sabilillah." Maka kukatakan pada Yahya: "Orang itu (mujahid) menginfaqkan hartanya, membuat letih dirinya, dan berjihad. lalu orang ini (yang membela sunnah) lebih utama daripada dia!?" Beliau menjawab,"Iya, lebih utama banyak sekali." ("Siyar A'lam"/10/hal. 518).
Catatan: Al Imam Adz Dzahabiy رحمه الله memasukkan atsar ini ke dalam biografi Yahya bin Yahya, wallahu a’lam.

Al Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata tentang ahlul bid'ah: "Maka menyingkap kebatilan mereka dan menjelaskan pembongkaran aib-aib mereka serta kerusakan kaidah-kaidah mereka termasuk jihad fi sabilillah yang paling utama. Nabi ﷺ telah bersabda kepada Hassan bin Tsabit رضي الله عنه:

«إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ مَعَكَ مَا دُمْتَ تُنَافِحُ عَنْ رَسُوْلِهِ».

“Sesungguhnya Ruhul Quds bersamamu selama engkau membela Rasul-Nya.”

Juga bersabda:

«اُهْجُهُمْ أَوْ هَاجِهِمْ، وَجِبْرِيْلُ مَعَكَ».

“Serang mereka dengan syair, atau balas serangan syair mereka, dan Jibril bersamamu.”

Juga bersabda:
«اللّهمّ أَيِّدْهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِ مَا دَامَ يُنَافِحُ عَنْ رَسُوْلِكَ».

“Ya Allah, dukunglah dia dengan Ruhul Quds selama dia membela Rasul-Mu.”

Nabi juga bersabda tentang serangan syair Hassan:
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَـهُوَ أَشَدُّ فِيْهِمْ مِنَ النَّبْلِ».

“Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, benar-benar itu lebih keras bagi mereka daripada panah.”

Dan bagaimana penjelasan itu tadi tidak termasuk dari jihad fi sabilillah?”
(Selesai dari "Shawa'iqul Mursalah" /1/hal. 114/cet. Maktabatur Rusyd).

Al Imam Al Wadi'iy رحمه الله berkata: "Karena termasuk dari bagian Amar Ma'ruf Nahi Mungkar, dan bagian dari dakwah ke jalan Allah, dan bahkan termasuk jihad fi sabilillah adalah menjelaskan akidah Ahlussunnah Wal Jama'ah, pembelaan untuknya, dan menyingkap kebatilan ahlul bida', ahlul ilhad dan peringatan dari mereka, sebagaimana Allah عز وجل berfirman:

﴿بَلْ نَقْذِفُ بِالْـحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ﴾ [الأنبياء: 18].

"Bahkan Kami akan melemparkan kebenaran terhadap kebatilan sehingga dia menyirnakan kebatilan tadi, maka tiba-tiba kebatilan tadipun lenyap. Dan kalian akan mendapatkan kecelakaan karena apa yang kalian sifatkan (yang berupa kebatilan -pen)." (QS. Al Anbiya: 18).

Maka semoga Allah membalas Ahlussunnah dengan kebaikan, karena mereka sejak zaman lampau maju menentang ahlil bida' sampai-sampai sebagian dari mereka lebih mengutamakan bantahan terhadap ahlul bida' di atas jihad fi sabilillah."
(Selesai dari "Rudud Ahlil 'Ilmi"/hal. 5-6/cet. Darul Atsar)
___
(“Ikramul Kahl Bi Ibrazit Tafashil Fi Masalatil ‘Udzr Bil Jahl” | Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy حفظه الله)
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Lebih baru Lebih lama