BREAK
  • Memuat berita terbaru...

PERINCIAN TENTANG UDZUR KEJAHILAN

PERINCIAN TENTANG UDZUR KEJAHILAN

Udzur

Bab Satu: Pentingnya Menolong Kebenaran Dan Menyingkapkan Kebatilan

Fasal Satu: Pentingnya Menjaga Agama
Sesungguhnya termasuk dari keistimewaan Islam adalah: menjaga kemurnian dengan menyaring agama ini dari perkara-perkara batil. Allah ta’ala berfirman:
﴿وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الـْمُجْرِمِينَ﴾ [الأنعام: 55].
“Dan seperti itulah Kami memperinci ayat-ayat dan agar menjadi jelaslah jalan orang-orang yang jahat.”

Dan Allah Yang Agung penyebutan-Nya berfirman menukilkan ucapan orang yang Dia selamatkan dari syubuhat rekan dia yang musyrik:

﴿قَالَ هَلْ أَنْتُمْ مُطَّلِعُونَ * فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الـْجَحِيمِ * قَالَ تَالله إِنْ كِدْتَ لَتُرْدِينِ * وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنْتُ مِنَ الـْمُحْضَرِينَ﴾ [الصافات: 54-57].

“Dia berkata (pada teman-temannya dari kalangan penghuni Surga): “Maukah kalian untuk melihat-lihat (mencari rekanku yang kafir)?” Lalu dia melihat-lihat, maka dia melihat rekannya ada di dalam Neraka Jahim. Dia berkata: “Demi Allah, sungguh hampir saja engkau membinasakanku (andaikata aku menaatimu). Jika bukan karena kenikmatan dari Rabbku (dengan memberiku hidayah keimanan), niscaya aku termasuk dari kalangan orang-orang yang dihadirkan ke dalam Neraka.”

Al Imam Al Hasan Al Bashriy رحمه الله berkata: “Wahai Anak Adam, jaga agamamu, pelihara agamamu, karena sesungguhnya dia adalah darah dan dagingmu. Jika engkau selamat, maka alangkah besarnya ketenteramanmu, dan alangkah agungnya kenikmatanmu. Tapi jika yang terjadi adalah yang lain (agamamu tidak selamat), maka kami berlindung pada Allah, karena sesungguhnya yang ada hanyalah api yang tidak padam, dan batu yang tidak dingin, dan jiwa yang tidak mati.” (Diriwayatkan oleh Al Imam Al Firyabiy dalam “Shifatul Munafiqin”/no. 49/sanadnya shahih).

Al Imam Ibnu Jama’ah رحمه الله berkata: “... karena Islam adalah agama kekekalan. Dan dialah satu-satunya yang benar. Dan termasuk tuntutan dari kekekalannya adalah: menetapkan segala hakikat, menolak segala pemikiran yang sesat atau aqidah yang rusak yang tumbuh di tengah-tengah Muslimin atau aliran sesat yang dijauhi oleh aqidah-aqidah Islam dan pemeluknya, dan berupaya untuk memperbanyak cahayanya pada hati manusia secara umum dengan seidzin Allah ta’ala.” (“Idhahud Dalil ‘Ala Qath’i Hujaji Ahlit Ta’thil”/hal. 10).
Jika Ahlul haq melemah dan malas dalam memperingatkan umat dari kejelekan, pastilah para pelaku kebatilan akan bersemangat menebarkan kebatilan mereka, sehingga agama umat ini akan rusak. Allah ta’ala berfirman:

﴿وَلَوْلَا دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ اللهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ﴾ [البقرة/251].

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”

Al Imam Ibnu Qutaibah رحمه الله berkata: “Hanyalah kebatilan itu menjadi kuat jika engkau melihatnya dan engkau mendiamkannya.” (“Al Ikhtilaf Fil Lafzh”/Ibnu Qutaibah/hal. 61/cet. Darur Rayah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata: “Setiap kali orang yang menegakkan cahaya kenabian itu melemah, maka menguatlah kebid’ahan.” (“Majmu’ul Fatawa”/3/hal. 104).

Al Imam Ibnu Baz رحمه الله berkata: “Hanyalah ahlul batil itu mampu bekerja dan menjadi rajin manakala ilmu itu menjadi tersamar sementara kebodohan itu muncul, bersamaan dengan kosongnya medan ini dari orang yang berkata: “Allah berfirman” dan “Rasulullah bersabda”. Maka ketika itulah mereka menjadi berani untuk menentang lawan mereka dan rajin untuk melakukan kebatilan mereka, dikarenakan tidak adanya orang yang mereka takuti dari kalangan ahlul haqq wal iman dan ahlul bashirah.” (“Majmu’ Fatawa Wa Maqalat Ibnu Baz”/4/hal. 75/Dar Ashiddaul Mujtama’).
Dan para hamba Allah wajib berani untuk menolong agama Allah dan bertawakkal pada-Nya di jalan-Nya. Allah ta’ala berfirman:

﴿الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللهَ وَكَفَى بِاللهِ حَسِيبًا﴾ [الأحزاب: 39].

“Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah dari Allah dan mereka takut kepada-Nya dan tidak takut pada sesuatu apapun kecuali pada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Penolong.”

Dari Abu Sa’id Al Khudriy رضي الله عنه yang berkata: dari Nabi ﷺ yang bersabda:
«لَا يَمْنَعَنَّ رَجُلًا مِنْكُمْ مَخَافَةَ النَّاسِ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِاْلـحَقِّ إِذَا رَآهُ أَوْ عَلِمَهُ».
“Janganlah satu kalipun rasa takut pada manusia itu menghalangi seseorang dari kalian untuk berbicara dengan benar jika dia melihatnya atau mengetahuinya.” (HR. Al Imam Ahmad (11421) dengan sanad yang shahih, dishahihkan oleh Al Imam Al Albaniy dalam “Ash Shahihah” (di bawah nomor 168), dan Al Imam Al Wadi’iy dalam “Ash Shahihul Musnad” (414)).

(“Ikramul Kahl Bi Ibrazit Tafashil Fi Masalatil ‘Udzr Bil Jahl” | Asy Syaikh Abu Fairuz Abdurrahman bin Soekojo Al Qudsiy Al Jawiy حفظه الله)
---------------
Sumber Channel Telegram: fawaidMaktabahFairuzAdDailamiy
Lebih baru Lebih lama