BREAK
  • Memuat berita terbaru...

Al Fatawa Al Hamawiyah (Para sahabat adalah yang paling bersemangat mempelajari ilmu)

Al Fatawa Al Hamawiyah



Dibahaskan oleh Asy Syeikh Abu Fairuz Abdurrohman bin Soekojo Al Qudsiy Al Indonesiy Al Jawiy.

20/8/2018

(matan pg 36-37)


Ringkasan:


Sheikhul Islam rahimahullah taala menegaskan dalam matan iaitu perkara ini hampir2 tidak terjadi kepada makhluk yang paling bodoh; iaitu menyakini bahawa sahabat itu jahil tentang masalah aqidah pada hal sahabat adalah yang paling semangat mempelajari agama ini. Sedangkan orang yang paling keras keberpalingannya, yang paling malas belajar tapi fitrahnya masih baik pasti mengakui sahabat nabi itu paling baik di bandingkan orang2 yang bukan sahabat. Dan ini umum untuk sahabat para nabi.

Setiap golongan sahabat pada setiap nabi pasti manusia terbaik pada umat tersebut,  keyakinan ini adalah bagi orang masih baik fitrahnya dari manusia yang jahat sekalipun.

Berkemungkinan yang diinginkan oleh sheikhul Islam di sini, walaupun orang ini sibuk dengan dunia dan paling tolol dan paling jauh keberpalingannya dari Allah dan paling lalai dari zikirullah, tetap di relong hatinya cita2 terbesarnya ingin mengenal Allah, cuma dia sangat malas dan seterusnya. 

Maka suatu yang mustahil bagi para sahabat untuk itu berlaku (untuk tidak mengenal Allah) ketika peluang terhidang di depan mata sedangkan mereka itu manusia terbaik di kalangan umat; pasti mereka tidak melepaskan kesempatan keemasan yang Allah jelmakan untuk mereka; Allah mengutuskan kepada mereka Rasul dan membawa alquran bersamanya.

Maka bagaimana orang yang paling bagus, paling bersih dan semangatnya paling kuat, bagaimana jesteru mereka tidak bersemangat mencari Allah sementara sekarang kesempatan untuk mengenal Allah terhidang; Allah betul2 mengutus nabi yang terbaik dan kitab suci yang paling lengkap, maka bagaimana setelah itu generasi yang paling suci jiwanya itu tidak mengenal Allah, ini mustahil

Sheikhul Islam berkata lagi: adapun tentang adanya kemungkinan para sahabat itu menyakini tentang Allah itu dengan keyakinan yang benar lalu mereka mengucapkan  perkataan yang tidak benar tentang Allah, maka ini tidak diyakini oleh seorang muslim. Demikian pula orang yang berakal yang tahu keadaan sahabat tidak mungkin dia mengucapkan perkataan seperti itu.

Dalam catatan kaki Ibnu Qoyyim mengatakan tentang ucapan orang "bahawasanya methoda salaf itu memang lebih selamat tapi methoda khalaf itu lebih berimu dan lebih bijak" bahawasanya tariqat salaf sekadar beriman dari nas2 yang ada (lafaz wahyu) dan berpaling dari merenung makna2nya (menganggap salaf tidak merenung makna, tidak tahu makna dari lafaz2 nas2 tersebut, kata mereka salaf itu berpaling dari mencari fiqih dari makna2 tadi.

Jadi khalaf mempelajari kandungan ayat2 tujuannya untuk meniadakan hakikat yang Allah sebutkan itu, meninggalkan zohirnya yang mana itu batil menurut mereka maka dengan demikian methoda khalaf itu mengandungi ilmu yang sangat mendalam dan bersih, dalam tujuan pensucian terhadap Allah sementara para salaf tidak mensucikan Allah, mengatakan Allah sama dengan makhluk.

Siapa sebenarnya yang beranggapan demikian? Mereka hakikatnya sekadar meneka2 untuk menyesuaikan lafaz tersebut dengan berbagai makna yang mereka berikan.

Sumber Channel Telegram: Al Fatawa Al Hamawiyah

Lebih baru Lebih lama