Kajian Tafsir Quran (Pembahasan ayat 139)
Kuliah Tafsir Al Quran
Kuliyah Tafsir al Qur'an:
🍃💐🍃
Tarikh : 29 Zulhijjah, 1442 Hijriyah, Ahad, bersamaan 08/08/2021 Masehi
Ringkasan
Masuk ayat 139
قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ (139)
Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami dengan tulus mengabdikan diri.
Syarat perdebatan
Perdebatan dengan cara yang terbaik, menegakkan argumentasi kepada yang membangkang.
Kalau tiada syarat ini maka ia menjadi perbalahan dan pertengkaran.
Memisahkan 2 perkara yang setara,
Perbezaan keutamaan dengan sebab amal soleh.
Sifat keikhlasan
Hanya kaum Mukminin yang mempnyai karakter ini, ikhlas.
Keikhlasan untuk Allah adalah satu-satu jalan untuk bebas dari celaan dan siksaan.
Antara Muslim dan orang non Muslim.
Menyembah azimat, keris sakti dsbnya. Sifat ikhlas sangat menentukan. Ini membezakan waliyur rahman dan waliyus syaitan
Para ahli kitab menjadikan para pendeta robb robb selain Allah.
Didalam ayat ini menunjukkan cara perdebatan.
2 sifat
Menyatukan 2 perkara yang sama, membezakan 2 perkara yang tidak sama.
Intinya ada pada bukti dan pada hujjah.
Bukan sekadar dakwaan.
Pengadilan.
Para hakim syaratnya orang yang berakal dalam pengadilan.
Hujjah yang penting bukan hanya pandai berbicara
Transkrip
Allah berfirman,
قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ (139)
Katakanlah wahai Rasulullah, kepada orang-orang itu. Apakah kalian akan mengajak kami berdebat tentang Allah, berbalas tentang Allah sementara dia adalah Rabb kami dan Rabb kalian. Hanyalah yang menjadi milik kami adalah amalan-amalan kami dan hanyalah yang menjadi milik kalian adalah amalan-amalan kalian. Dan kami hanya mengikhlaskan ibadah kepada Allah.
Kata Al Imam As-Sa'di rahimahullah yang namanya muhajah adalah perdebatan di antara dua orang atau lebih, terkait dengan permasalahan-permasalahan khilafiah, permasalahan yang memang layak untuk diperselisihkan sehingga masing-masing dari dua pihak yang berseteru, pihak-pihak yang bertengkar dan berbalah menginginkan untuk menolong pendapatnya sendiri dan membatalkan pendapat lawannya. Masing-masing dari kedua belah pihak akan bersungguh-sungguh mencurahkan keras untuk menegakkan hujah demi melakukan perbuatannya tadi. Menolong pendapatnya sendiri dan membatalkan pendapat lawannya.
Dan yang dituntut dari perdebatan tadi adalah dengan cara yang terbaik dan dengan jalan yang paling dekat untuk. mengembalikan orang yang tersesat kepada kebenaran dan juga menegakkan argumentasi kepada pihak yang menentang.
Demikian pula yang dituntut. adalah menerangkan kebenaran dan juga menjelaskan kebatilan agar orang jadi tahu oh ini yang benar, alasannya ini. Ini yang salah dengan alasan demikian agar orang jadi jelas.
Kemudian apabila perdebatan itu keluar dari perkara-perkara ini, keluar dari syarat-syarat yang dituntut ini tadi, maka dia itu namanya adalah mumarah yaitu sekedar perbalahan yang tidak bermanfaat. Pertengkaran dan mukhosamah, sekedar perlawanan semata, sekedar berlawanan perdebatan yang tidak banyak faedahnya. Yang kata beliau di sini, tidak ada kebaikan di dalamnya. Dan akan memunculkan keburukan yang banyak.
Maka para ahli kitab, mereka menyatakan bahwasanya. mereka itu lebih berhak kepada Allah daripada kaum muslimin. Lebih berhak untuk berdekatan dengan Allah daripada pengikut Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Dan ini hanyalah dakwahan dan klaim semata yang memerlukan bukti dan dalil. Maka kemudian apabila Rabb mereka semua adalah satu. Istilahnya apa kalau orang di sini orang awam yaitu Tuhan kita dan Tuhan mereka itu sama. Bukanlah Allah taala itu Rabb mereka tanpa melibatkan kita yaitu Allah bukan hanya Tuhan bagi ahli kitab, Dia juga Tuhan kita. Dia juga pencipta kita.. Dan masing-masing dari kami dan kalian akan mendapatkan hasil amalannya. Maka dalam status ini, kami dan kalian itu setara. Dalam permasaalahan, ini kami dan kalian setara. Maka semata-mata yang seperti ini tidak mewajibkan salah satu pihak itu lebih berhak dekat dengan Allah daripada pihak yang lain. Kenapa? Karena memang sama-sama mengaku menyembah Allah taala, meyakini Allah sebagai pencipta. Kalau memang fitrahnya masih tersisa, baik, sebagian tidak meyakini Allah sebagai pencipta, tapi apa? Tuhan anaklah yang mencipta alam semesta. Tuhan bapak hanya menciptakan Tuhan anak ini memang apa? Sangat lebih parah lagi pihak yang seperti ini. Sebagian besar orang Nasoro meyakini itu, kata Ibnul Qayim. Tapi apa? Pada asalnya yang kami sembah dan yang kalian sembah sesuai dengan dakwaan kita adalah sama yaitu. Allah. Dan masing-masing dari kita akan mendapatkan hasil amalannya sendiri. Maka kita setara di sini. Dan kesetaraan ini tidak mewajibkan salah satu pihak lebih layak untuk berdekatan dengan Allah tanpa pihak yang lain. Kenapa? Karena memisahkan perkara yang masih setara tanpa ada faktor pemisah yang berkesan, itu adalah dakwaan yang batilah. Memisahkan di antara dua perkara yang setara dan semisal, adalah merupakan penentangan terhadap kenyataan yang sangat jelas. Ini mukabarah. Mukabarah itu adalah apa? Yaitu menentang kebenaran yang sangat jelas. Apa bezanya antara kami dan kalian sehingga kalian mengklaim kalianlah sebagai yang terdekat dengan Allah, bahkan sampai mengklaim sebagai anak Tuhan.
Apa bedanya kami dengan kalian? Sama-sama mengaku menyembah Allah, dan sama-sama akan mendapatkan hasil amalannya. Lalu dari sisi mana kalian mengklaim kalian lebih utama di sisi Allah dan lebih dekat dengan Allah daripada kami. Kalau sekedar dakwaan masing-masing pihak, pola dakwaannya sama. Tetapi hanyalah terjadi perbezaan keutamaan dengan sebab keikhlasan amal saleh, keikhlasan pelakunya dalam menjalankan amal-amal saleh. Keikhlasan hanya untuk Allah saja. Sementara satu keadaan ini adalah sifat kaum mukminin sendirian, bersendirian. Hanya kaum mukminin yang memiliki sifat ini. Kalian tidak ikhlas, kalian suka riya, kalian suka mengumpulkan harta, mengumpulkan dana dan memberikan ke fakir miskin atau apa, tidak ikhlas. Kalian cari pujian orang. Bahkan apa? Terkadang ibadah kalian bukan kepada Allah, namun kepada para pendeta atau kepada para pemuka agama kalian atau kepada patung atau pada salib dan sebagainya. Sementara kaum mukminin mereka memang hanya menyembah. Allah taala semata mengikhlaskan ibadah untuk Allah. Ini satu-satunya sifat kaum mukminin, yaitu hanya kaum mukminin yang memiliki ini, kalian tidak memiliki ini.
Maka menjadi pastilah bahwasanya kaum mukminin inilah yang lebih dekat dengan Allah taala tanpa mengikutkan yang lain. Karena yang lain menyembah yang lain, berarti apa? Menjauh dari Allah taala. Karena ikhlas itulah satu-satunya jalan untuk bebas dari segala macam azab dan segala macam sifat-sifat yang buruk. Ini kaidah yang bagus.**keikhlasan kepada Allah itulah satu-satunya jalan untuk bebas**, bebas dari celaan dan bebas dari bebas dari. siksaan Makanya dalam Quran disebutkan apa? Kenapa mukhlasin? Karena mereka adalah minal mukhlisin. Mereka dibebaskan dari celaan dan dibebaskan dari siksaan karena mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah. Sementara para ahli kitab, sekian banyak dalil dalam Alquran itu. Allah mencela mereka. Yaitu apa? Mencela jumhurnya mereka kecuali yang masih setia dengan ajaran nabinya tentunya. Kenapa dicela? Dan kenapa disebutkan mereka sering terkena azab? Karena mereka tidak ikhlas dalam beribadah kepada Allah. Padahal inilah faktor yang membizakan di antara pihak-pihak yang mengklaim mereka paling benar, mereka paling dekat dengan Allah dan seterusnya. Yaitu apa? Ikhlas atau tidak. Kebanyakannya adalah tidak memenuhi syarat ini. Itu antara kami dengan mereka yaitu apa antara orang muslim dengan orang yang nonmuslim bahkan di dalam kaum muslimin sendiri, perkara ini saja terkadang apa tim mmm terkadang sangat cacat banyak yang mengaku muslim namun menyembah patung masih ada menyembah berhala juga masih ada menyembah ya, secara umum semuanya berhala. Ada yang berupa patung, ada yang berupa kubur-kubur keramat, ada yang berupa pohon-pohon yang diagungkan, ada yang berupa yaitu azimat-azimat, keris-keris sakti katanya, atau yang seperti itu. Ada juga yang memang mengaku menyembah Allah dan betul-betul tidak mau rukuk sujud kepada yang lain.
Namun ketika menjalankan ibadah, mencari pujian orang, mencari pujian Pemimpin Partai dan sebagainya, maka ini juga apa? Merusak keikhlasan. Maka memang sifat ikhlas ini benar-benar sifat yang sangat apa? Menentukan. Apakah dia akan selamat atau tidak selamat. Kemudian kata Imam As-Sa'di rahimahullah, maka inilah perbedaan antara dengan para wali Ar-Rahman dengan wali asy Syaitan. Para wali ar Rahman, mereka ikhlas ibadah untuk Allah taala,sementara para wali setan mereka banyak keluar dari keikhlasan, sering menyembah setan tanpa disadari atau sebagian menyadari itu. Tayib, dan dengan sifat-sifat yang hakiki, yang diterima oleh orang-orang yang memiliki akal sehat dan tidak ditentang oleh mereka, kecuali orang yang memang sengaja menentang kebenaran yang sangat jelas sementara dia ini sangat bodoh. Maksudnya bagaimana? Yaitu inilah sifat keikhlasan yang kalau diterapkan secara hakiki, memang itulah yang menyebabkan orang-orang yang berakal itu akan menerimanya.
Mereka akan mengakui ya memang inilah perbezaan antara, antara apa? Kaum muslimin dengan kaum musyrikin, antara kaum muslimin dan ahli kitab, perbezaannya adalah keikhlasan. Betul-betul hanya menyembah Allah, sementara para ahli kitab, prakteknya mereka menjadikan menjadikan pendeta-pendeta dan ulama mereka sebagai Rabb-Rabb selain Allah. Bahkan sebagian nabi pun mereka sembah. Ini sangat membezakan. Sementara kaum muslimin mereka tidak ada demikian. Muslimin yang memang ikut agamanya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Adapun yang justru menyembah Nabi Muhammad atau menyembah Ali bin Abi Thalib atau menyembah para wali, ah itu salah sendiri. Tidak ikut Islamnya Nabi Muhammad. Orang yang berakal akan paham sepaham ini dan mereka akan menerima itu, dan tidak ada yang menentang penjelasan ini, penjelasan yang Allah isyaratkan dalam ayat 139 ini, kecuali orang yang sangat bodoh dan sengaja menentang sesuatu yang jelas.
Maka di dalam ayat ini ada bimbingan yang lembut untuk menjalankan suatu perdebatan yaitu cara menjalankan perdebatan adalah ini. Kita klarifikasi dulu kita klasifikasikan dulu inti perdebatannya apa, kemudian masing-masing sifat dakwaannya seperti apa? Lalu lihat perbedaannya dari sisi apa? Kemudian lihat siapa yang dakwaannya itu didukung dengan dalil dan argumentasi dan siapa yang dakwaannya kosong dengan dari apa? Dari dalil-dan bukti-bukti. Nah dengan itu akan ketahuan bagi orang yang berakal dan ingin mencari kebenaran siapakah yang layak diterima dakwaannya tadi.
Kata beliau dan bahwasanya perkara dan urusan itu dibangun di atas dua sifat. Yang pertama adalah menyatukan dua perkara yang sama, yang kedua adalah membezakan di antara dua perkara yang tidak sama. Dan ini dibahas dengan sangat bagus oleh al Imam Ibnul Qaiyim rahimahullahu taala di dalam I'lamul Muwaqiin. Ini adalah karakter orang-orang yang berakal dan ini disepakati oleh para sahabat. Bahkan apa? Semua orang berakal di dunia mereka mengakui memang inilah sebenarnya pola yang wajib dijalankan. Dua perkara yang sama maka wajib untuk disatukan dan disamakan hukumnya.
Dua perkara yang tidak sama, wajib untuk dipisahkan hukumnya. Makanya Allah taala membezakan antara penduduk syurga dan penduduk neraka, walaupun sama-sama semuanya adalah hamba Allah, semuanya adalah ciptaan Allah. Tapi kenapa ada yang masuk syurga dengan kenikmatannya, kenapa ada yang masuk neraka dengan siksaannya? Karena memang tidak sama antara penduduk syurga dan penduduk neraka. Sampai Allah taala berfirman, tidak sama antara penduduk neraka dengan penduduk surga. Memang tidak sama, kenapa? Karena amalannya lain, maka bagaimana hukumnya disamakan? Kalau amalannya lain, maka bagaimana nanti statusnya itu disamakan. Tentunya tidak sama. Ah dengan ini perdebatan akan berjalan sesuai dengan apa? Eh sifat yang jujur, sifat yang objektif, tidak keluar dari akal sehat. Karena dilihat baik-baik, ini polanya ke mana dan hujahnya apa. Adapun kalau sekitar engkau salah, saya benar. Hanya saya yang benar, yang lain salah. Yiap orang mampu mengucapkan itu. Tapi yang penting adalah buktinya. Maka Allah taala berfirman, katakan kepada mereka wahai Rasulullah, datangkan bukti kebenaran dakwaan kalian apabila kalian adalah orang-orang yang jujur di dalam dakwaannya tadi. Jadi intinya ada pada bukti, intinya ada pada hujah. Kalau bukti dan hujah disodorkan, akan terpisahkan antara orang yang benar dan orang yang. kalau sekedar klaim, tiap orang mengklaim. Sebagaimana kita mengklaim kita ini kaum mukminin, ahli kitab juga mengklaim mereka orang beriman. Thayyib, makanya bukan semata-mata dakwaan. Kalau dakwaan, tiap orang mampu. Sebagaimana kita menuduh mereka sesat, mereka orang musyrik juga menuduh kita ini orang yang sesat. Tapi bukan bukan itu inti pembahasannya. Intinya adalah siapa yang mendatangkan hujah di dalam. perdebatannya itu. Ah yang memiliki hujah, hujahnya memang sesuai, dalilnya sesuai dengan sisi pendalilannya, maka dia itulah yang ucapannya diterima.
Dan itulah yang dilakukan hatta di dalam masalah apa. dalam masalah mahkamah, dalam masalah pengadilan. Kalau kita pergi ke pengadilan, inti pelaksanaannya ada di situ dan tentunya seorang hakim dan para praktisi pengadilan, mereka syaratnya adalah syarat dasarnya adalah orang yang berakal. Dari sisi agama apa pun, jelas mereka ketika mengadakan pengadilan, orang gila tak boleh untuk jadi hakim atau jadi mungkin apa? Pengacara atau jadi jasa, kalau di Indonesia. Tidak boleh jadi peguam dan sebagainya. Jelas syarat mendasarnya adalah dia berakal. Ah orang yang berakal dalam pengadilan, masing-masing mereka akan tahu bahwasanya dua orang yang berseteru, dua orang yang berbalah, mereka pasti mengklaim mereka yang benar. Jarang akan kita dapatkan mungkin satu banding satu juta atau satu orang datang ke pengadilan bilang saya bersalah. Tak ada itu. Pasti apa? Pasti kedua belah pihak secara umumnya adalah mengklaim saya yang benar, dia yang salah. Berarti setiap orang ucapannya sama, statusnya sama di dalam hukum, dalam mahkamah, sama-sama punya klaim, punya apa itu, dakwaan. Mendakwai dirinya benar, mendakwa pihak yang lain salah. Maka statusnya sama. Tapi apa yang membezakan? Yang memisahkan adalah hujjahnya nanti. Apa alasan Anda mengatakan Anda benar, dia salah, alasannya begini, begini, begini.. Dari situlah nanti hakim yang berakal walaupun dia dari agama yang lain, dia akan insya Allah apa? Mampu menentukan, yang benar memang ini walaupun nanti prakteknya apakah dia menghukumi sesuai dengan ilmu yang dia dapatkan atau sesuai dengan rasuah itu perkaranya lain. Tapi hakim yang berakal dia akan melihat yang hujahnya kuat dialah yang layak untuk diterima klaim dia. Makanya dalam I'lamul Muwaqiin, Imam Ibnul Qaiyim membahas masaalah mahkamah dengan bagus sekali. Dua orang yang berseteru statusnya sama di hadapan hakim. Sama saja yang berseteru ini salah satunya adalah penguasa, yang lain adalah rakyat atau dua-duanya adalah kakitangan kerajaan atau dua-duanya adalah rakyat jelata, statusnya sama. Yang penting siapa yang memiliki hujah. Nah dengan hujah itulah akan dipisahkan antara pihak yang dakwaannya benar dan pihak yang dakwaannya itu keliru atau batil atau kosong. Maka di dalam ayat ini ada nasihat yang sangat halus untuk menjalankan prinsip pengadilan yang benar, yaitu lihat hujahnya. Karena status kedua belah pihak itu sama dari asalnya, yaitu sama-sama mengklaim sebagai pihak yang benar. Tapi yang membezakan adalah bukti amalannya dan hujahnya. Terkadang hujahnya nampak bagus, tapi amalannya apa? oh anda kan terbukti ada mencuri, buktinya begini, begini, begini. Oh, lidah anda bagus, Anda pandai, Anda memberikan alibi begini, begini, tapi bukti amalan anda, anda ternyata memang mencuri, ada para. yang membuktikan amalan Anda adalah sebagai seorang pencuri walaupun lidah anda pandai untuk eh memutar belitkan ucapan dan sebagainya. Maka di sini hujah yang penting bukan hanya kepandaian berbicara.
Powered by Todorant
Sumber Channel Telegram: tafsirquran_abufairuz






























